Kucing Beranak !

Waduh, hari ini aku disibukan oleh kucing beranak. Masalahnya, anaknya berceceran, mungkin karena tidak ada tempat yang layak untuk bersalin, atau tidak mampu ke klinik bidan, akhirnya ya brojol saja di mana-mana. Yang satunya di tangga kondisi awal masih hidup tapi ari-arinya belum terputus. Satunya lagi di teras, karena ia terbungkus oleh ari-ari –aduh aku nggak tahu istilahnya– yang semula hidup akhirnya mati. Dua lagi lahir di dalam etalase yang satu hidup dan satu mati.

Melihat kenyataan itu aku memang agak bingung mengambil tindakan, bingung cara membantunya. Sempat cari Data Klinik Hewan di Jakarta melalui Google.com. Maksudnya mau menelpon dan menanyakan bagaimana cara merawat kucing yang seperti ini. Setalh dipikir-pikir di negara iniĀ  siapa peduli dengan kasus kucing seperti ini, akhirnya aku urung untuk menelpon.

Kalau dilihat bayi-bayi kucing yang berceceran itu, dibuang rasanya nggak tega karena masih bernyawa. Sementara kalau tidak disingkirkan nampaknya menjijikan. Tidak sedikit yang geli melihatnya. Dan yang tidak manusiawinya –jelas saja karena ini kucing– ibu dari kucing-kucing yang kecil itu pergi entah kemana meninggalkan anak-anaknya dalam kondisi lemah seperti itu. Kasihan deh!

Akhirnya aku pun harus bertindak, bayi-bayi kucing yang mati dikumpulkan dalam satu kantong kresek. Masalah baru pun muncul mau dikubur di mana, tidak ada sejengkal tanah pun yang tersisa. Rumah-rumah di tempat tinggalku semuanya berdempetan satu lainnya. Ya, Allah. Akhirnya aku dengan sedih membuangnya ke tong sampah. Ya Allah ampuni aku!

Kucing itu memang bukan kucing peliharaanku. Ia adalah kucing liar yang sering bermain di sekitar rumah-rumah kami. Mungkin karena kehidupannya yang liar, jadi tidak masalah baginya meninggalkan anak-anaknya meski masih bayi atau baru dilahirkan, ia benar-benar tidak bertanggungjawab.

Adakah manusia yang seperti kucing ini, yang tega membiarkan anak-anaknya bertebaran di mana-mana meski belum saatnya ia dilepaskan? Entahlah, kucing kali ye?