Inilah Profil Anak-Anak Sanggar Belajar Dhuafa

 

suasana belajar di Sanggar Belajar Dhuafa, majelis Cilik3
suasana belajar di Sanggar Belajar Dhuafa, majelis Cilik3

 Sanggar Belajar Dhuafa (SBD), Majelis Cilik  Ciracas sudah dimulai dari pekan lalu. Anak-anak banyak yang antusias untuk mengikutinya, tercatat sudah 20 orang yang ikut ambil bagian. Berkemungkinan akan terus bertambah.

Berikut beberapa profil anak yang baru dapat diidentifikasi  :

1. Nama : M Rizki Fauzi

Umur : 8 th, SDN 07 Pagi kls 2
Nama orang tua : Poniran, pekerjaan buruh jahit, penghasilan hanya dari borongan dan itu kadang tak menentu. Ibunya juga menjahit di rumah tapi karena mempunyai bayi kadang-kadang tidak menerima jahitan. Continue reading “Inilah Profil Anak-Anak Sanggar Belajar Dhuafa”

Bahaya Anda Mengenal LKC

Kalau Anda datang ke LKC dan menyaksikan langsung bagaimana pasien-pasien dari keluarga miskin ini dirawat, saya pun takut air mata Anda akan menetes, hati Anda akan bergetar. Jika tidak terjadi hal-hal yang demikian, berarti Anda bukanlah orang yang perlu saya khawatirkan.

Kalau Anda belum kenal LKC, sebaiknya Anda berpikir jauh sebelumnya. Mungkin juga Anda harus melihat ke dalam diri Anda, sejauh apa Anda siap untuk mengenalnya.

Layanan Kesehatan Cuma-Cuma yang disingkat LKC ini, berada di kawasan Mega Mall Ciputat, Tangerang Selatan. Ia berupa klinik yang melayani kesehatan para kaum dhuafa dan orang-orang miskin yang terpinggirkan di negeri ini. Ia orang-orang susah yang di pandang sebelah mata oleh banyak pihak.

Karena itu kalau Anda mengenalnya, Ini sangat berbahaya bagi Anda. Jika Anda mengenal LKC, saya takut keangkuhan dan kesombongan Anda akan hancur di sini. Nurani Anda akan luluh, karena melihat bagaimana orang-orang yang berkekurangan dilayani dengan ikhlas dan gratis di sini. Continue reading “Bahaya Anda Mengenal LKC”

Puiih, Lupa Dia!

Terdengar kabar tentang gedung baru DPR menelan biaya yang tidak sedikit. Luar biasa, kata siaran TV diharapkan media dan rakyat tidak menghubungkan dengan kemiskinan.

Sungguh permintaan yang di luar kebiasaan. Hal ini juga tidak mendasar, apakah soal kemiskinan yang mendera rakyat ini benar-benar di luar kepedulian bapak dan ibu yang mengaku wakil rakyat.

Ini sangat berbeda dengan jualan yang dimaksudkan ketika masa kampanye dulu. Ada yang mengatakan, “Kalau saya dipilih rakyat sejahtera, bahagia, aman, sentausa, sembako murah.”

Puiih! Lupa dia. Ketika sudah duduk di gedung mewah dengan segenap fasilitas ekslusif. Sekarang malah menambah gedung baru dengan dana milyaran. Lalu apa gedung itu menjamin anggota dewan tidak bolos lagi kalau ada sidang.

Heran, sampai lupa dengan rakyat yang kemiskinannya memprihatinkan. Lihat aja yg ngantri sembako di klenteng dan gereja, karena jamaah masjid tak mampu untuk berbagi.

Tukul aja tahu, kalau kemiskinan dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Begitu amanat Undang Undang Dasar 45.

Apa nggak sebaiknya kalau dana bikin gedung baru itu diserahkan untuk dhuafa yang selama ini jadi target jualan mereka semasa kampanye.

Atau supaya tahu sedikit nasib rakyat, kita minta berkenan anggota DPR ikut antere minyak tanah dan sembako. Puiih! Continue reading “Puiih, Lupa Dia!”

Senyumnya Bu Samot!

Bu Samot sebelum dan sesudah aspirasi

Hari ini aku melihat Bu Samot Binti Said, 63 tahun, seorang nenek yang menderita Tumor di pelipis kiri, tersenyum senang kepadaku. Setiap kali bertemu dia disaat kontrol dan dirawat di LKC selalu tersenyum. Meski ia hanya melihat dengan mata kanan.

Tapi senyumnya Bu Samot sangat berbeda dengan senyumnya 10 hari yang lalu. Hal itu karena Tumor di pelipis kiri itu sudah dilakukan aspirasi cairan (penyedotan dengan memasukkan slang melalui hidungnya). Alhasil, tumor yang menggayut di pelipis itu sudah kempes. Penyedotan dilakukan minggu lalu di RSCM.

Menurut warga Kampung Tegal Kadu, Serang Baru, Banten  ini dia merasa senang dengan keluarnya cairan dari pelipis kirinya itu. Kini ia sudah merasa agak ringan, namun mata kirinya belum dapat melihat sempurna karena sudah lima tahun tertutup. Selain itu di bekas pembengkakan itu meninggalkan tulang yang menonjol di bagian pelipisnya, sehingga ia susah untuk sujud dalam shalatnya. Continue reading “Senyumnya Bu Samot!”