Merdeka dari Hati

Kemerdekaan. Ya, sebentar lagi kita akan memperingatinya untuk ke-63 tahun. Pertanyaan yang sering terdengar di setiap memperingati kemerdekaan adalah sudahkah kita merdeka? Jawabannya bermacam-macam. Ada yang mengatakan sudah, ada yang belum, adapula yang menyebut kemerdekaan setengah hati.

Makna dari sebuah kemerdekaan tentulah sangat luas. Sebagai hamba yang beriman kepada Allah SWT dan rasulnya, yang paling penting untuk dihayati adalah sudahkah kita merdeka dari hati? Dengan kata lain, apakah kita sudah memerdekan hati kita dari persoalan yang akan menghambat hubungan kita vertikal kepada Allah SWT dan horisontal kepada makhluk lainnya.
Continue reading “Merdeka dari Hati”

Cileduk-Jakarta, Jakarta-Cileduk; masih saja Indonesia

Buka mata, pasang telinga, ini nyata hanya di Indonesia. Agaknya istilah ini tidak asing terdengar di telinga kita. Apalagi istilah ini sudah dipopulerkan oleh salahsatu televisi swasta yang mengangkat cerita realty show dari kenyataan yang ada di negara kita yang bernama Indonesia.

Kalau mendengar istilah; ini nyata hanya di Indonesia, saya jadi ingat seorang penyair sufi Indonesia Alm. Hamid Jabar. Saya ingat dia, karena jauh sebelum istilah ini populer di layar televisi –ketika itu sekitar tahun 2000– saya sering bersilaturrahmi dengan para penyair ini di Majalah Horison. Setiap berkumpul baik dengan Presiden Penyair Soetardji C. Bachri, Jamal D. Rahman maupun penyair lainnya, selalu saja Pak Hamid ini menegur setiap kesalahan atau ketidakdisiplinan dengan ungkapan;”Anda orang Indonesia, ya!”
Continue reading “Cileduk-Jakarta, Jakarta-Cileduk; masih saja Indonesia”

BBM dan Kemiskinan

Sebuah cerita dari negeri kita. Warga negara tidak menjadi  perhatian utama.  Sedih, pilu mengharu biru ketika menyaksikan antrian pembayaran konpensasi naiknya BBM. Berdesakan dalam antrian yang panjang menjadi pemandangan yang membanggakan bagi pemerintah. Katanya, ia telah melakukan yang terbaik untuk rakyatnya. Padahal, di sisi lain harga pokok yang menggila, ongkos transportasi yang meroket, tingkat prustasi yang menanjak, emosi yang menaik, tidak bisa dibayar hanya dengan sekedar BLT yang diberikan pemerintah. Begitu juga mahasiswa menjahit mulutnya sendiri, mogok makan, demo sampai berantam juga menjadi pemandangan sehari-hari. Mereka meminta Tolak Kenaikan BBM. Continue reading “BBM dan Kemiskinan”

Kehadiranku

Sudahlah. Setiap hari aku menyaksikan teman-temanku asyik dengan dagdigdug. Mereka curhat, mereka berbagi informasi, mereka mengekspresikan dirinya di sini.

Aku juga setiap hari menyaksikan jackgonggo, paman tyo, pak untung, pak didi  dan lainnya berasyik-masyuk dengan dagdigdug ini. Lho, emangnya kenapa? Ya nggak apa-apa. Hanya saja aku jadi ngiri juga. Ya, akhirnya aku juga coba hadir di sini. Maksudnya agar aku tidak lagi tertinggal di sudut lain sendirian. Continue reading “Kehadiranku”

Tragedi Monas

Sangat dikejutkan kita dengan persoalan-persoalan bangsa kita saat ini. Di tengah kesulitan hidup yang melanda rakyat dengan naiknya harga bahan pokok, akibat naiknya BBM. Terjadi pula tragedi monas yang mencorengkan muka Islam di Indonesia. Ya, kekerasan.

Kebanyakan media memblowup peristiwa ini, mereka mengalihkan perhatian yang tadinya penolakan BBM, pembubaran Ahmadiyah menjadi menolak kekerasan dan pembubaran FPI. Sebuah peralihan isyu yang sarat dengan nuansa politik. Siapa yang diuntungkan?
Continue reading “Tragedi Monas”

Sebuah Diary

Aku benar-benar tidak mengerti kenapa aku terjebak pada penghambaan