RS Lapangan Mulai Beroperasi

Hari ini direncanakan RS Lapangan DMC DD akan mulai beraktivitas di UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Di sini ada ratusan pengungsi yang dievakuasi dari kawasan Salam, Magelang. Di antaranya pengungsi tersebut ada yang manula, anak-anak dan balita.

Untuk itu hari ini dPosyandu untuk anak-anak dan manula. Seperti biasanya, pengungsi mulai tidak betah di kawasan pengungsiannya. Meski belum aman mereka merasakan kerinduan yang luar biasa pada kampungnya. Merek rindu rumah, mereka rindu hewan ternak, mereka rindu dengan tempat mereka nongkorong di kampung. Hal itu membuat mereka merasa sepi dan asing di pengungsian.
Continue reading “RS Lapangan Mulai Beroperasi”

Astagfirullah, Luruskan Niat!

“Astagfirulullah, Luruskan niat”. Kata-kata itu sering meluncur dari kawan relawan Dompet Dhuafa, yang bergabung di tim medis Disaster Management Center (DMC) DD di UPN Jogjakarta. Ia mengucapkan itu sambil mengusap dadanya. Hal itu menjadi perhatian serius bagiku, karena ini adalah faktor penting dalam menjalankan sebuah misi kemanusiaan.

Gunung Merapi yang terus erupsi dan mengeluarkan awan panas yang dikenal dengan Wedus Gembel, telah meluluhlantakkan kawasan di sekitar Merapi. Tidak sedikit, 180.000 orang harus meninggalkan kampung halaman kesayangannya. Banyak pula yang mati dan kehilangan rumah, harta bendanya. Situasi ini menguliti nurani banyak orang, termasuk Dompet Dhuafa (DD), LSM penghimpun ZIS di Indonesia. LKC sebagai jejaring dari DD juga turun dengan tim medisnya, di antaranya aku turut turun sebagai support.
Continue reading “Astagfirullah, Luruskan Niat!”

Menuju Merapi

Kali ini kusampaikan pesan dari atas ambulan yang melaju di jalan Tegal menuju Merapi.

Pesan dari ketidaknyamanan hidup sang penghuni taman. Bapak bencana marah murka, menghempaskan semua yang ada di depannya. Memuntahkan semua yang ada dalam perut gendutnya.

Merapi menjadi tujuanku kini. Untuk mencoba menjadi sesuatu yang berarti. Aku tahu ini hanya secuil perjuangan. Namun ku yakin ada manfaatnya untuk seberapa pengungsi.

Kau tahu yang kurasa? Setiap persendianku merasa goyah, dadaku menjadi resah. Aku tak berdaya menyaksikan mereka yang kena musibah. Makanya kucoba gerakan bandan ini meskipun payah. Agar duka cepat teruarai sudah. Menjadi lega para saudara hingga hari yang lengah.