Jamaah Surau Kesurupan

Seperti biasa, ba’da shalat shubuh setelah berdoa secara masing-masing, aku memberikan wejangan singkat tentang beberapa pemahaman ayat al Quran. Dilanjutkan dengan mengulang hapalan zikir pagi dan sore Rasulullah yang terhimpun dalam kitab Al Matsurat Hasan al Banna.

Semula aku tidak mengira, kalau ibu-ibu dan bapak-bapak yang terbilang sudah nenek-nenek dan kakek-kakek itu akan mampu menghapal zikir-zikir itu. Mulai dari menghapal ayat-ayat pendek yang dianjurkan sampai doa-doa zikir Rasulullah pagi dan petang itu. Allah SWT melihatkan kebesaran-Nya –meski sudah nenek-nenek dan kakek-kakek– dalam waktu 6 bulan dengan cara diulang setiap subuh akhirnya semua jamaah berhasil menghapalnya.
Continue reading “Jamaah Surau Kesurupan”

Menghidupkan Surau yang Mati

Pertengahan tahun 2005, langit mendung di Tanah Abang. Wajah pedagang kelihatan murung. Pasar Blok C s.d E di Tanah Abang akan dibongkar dan pihak pengelola akan membangun pertokoan yang modern menyusul Blok A yang ┬átelah sukses mengubah pertokoan tradisional menjadi maju. Dampak yang paling terasa dengan modernisasi pasar itu adalah tersingkirnya para pedagang tradisional. Pembaruan Pasar Tanah Abang terasa penuh intrik politis dan seakan dipaksakan, karena sejalan dengan berakhirnya masa jabatan seorang gubenur. Continue reading “Menghidupkan Surau yang Mati”

Akhirnya Dia Masuk Islam

Panggil saja ia putri. Setelah melewati malam yang panjang dikuasai makhluk halus. Esok harinya badannya kelihatan lemas dan selalu kelihatan bermenung. Duduk sendiri dengan penuh tatapan kosong. Teman-temannya melakukan aktivitas seperti biasa. Akan tetapi berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Mereka yang selalu pulang malam, hari itu pulang lebih awal.
Sore itu, saya memberanikan diri untuk menghampiri Putri dan kawan-kawannya. Saya mengucapkan salam, mereka pun menjawabnya. Tak ketinggalan putri, sejenak membuyarkan lamunannya.
Continue reading “Akhirnya Dia Masuk Islam”

Meruqiah Si Anak Dugem

Saya menghampiri kamar yang dihuni oleh remaja putri yang mengaku berkerja sebagai lady escort dan sales promotion girl (SPG) perusahaan kosmetika itu. Sesampai saya di kamar mereka, saya lihat seluruh perempuan menangis dan para teman lelaki memegangi tangannya. Begitu juga beberapa tamu laki-laki yang wajahnya asing bagi saya, ikut berperan mendampingi mereka.

Continue reading “Meruqiah Si Anak Dugem”

Kesurupannya Si Anak Dugem.

Malam yang tenang di tahun 2005, pukul 2 dini hari, terusik dengan kepulangan gerombolan anak remaja yang baru menikmati malam minggu dengan dugem. Agaknya mereka tidak puas dengan hiburan di diskotik yang baru saja mereka nikmati. Rumah kost lantai II di sebuah kawasan cempaka, Jakarta itu mendadak menjadi hingar-bingar. Mereka menstel music disko remix, mereka tertawa cikikikan berjingkrak, bernyanyi dan menari.

Saya yang lagi enak tidur dua kamar di sebelahnya mendadak terbangun. Suara music, jingkrakan, tertawa canda mereka terdengar jelas, mengusik ketenangan gendang telinga saya yang sebelumnya sangat nyaman dengan ketenangan malam.

Rumah kost lantai II yang berjumlah 5 kamar itu baru saya tempati tiga bulan lalu. Saya adalah penghuni pertama di lantai II kost itu dan menempati kamar paling ujung. Sedangkan di lantai I yang berisi 6 kamar sudah tersisi semua. Di Bulan kedua saya tinggal di sana anak-anak remaja yang mengaku sebagai lady escort dan sales kosmetika itu datang berombongan dan menghuni 3 kamar. Satu kamar untuk teman mereka laki-laki dan dua kamar untuk perempuan. Masing-masing kamar berisi 4 s.d 5 orang. Continue reading “Kesurupannya Si Anak Dugem.”