Mencoba Berbagi dengan Blog

Dulu waktu aku masih SMP, aku justru menuliskan keluh kesahku kedalam buku catatan, yang orang bilang itu adalah diari. Hal itu aku lakukan sampai aku SMA. Entah berapa diary yang telah dihabiskan.

Kehidupan yang berpindah-pindah (kayak nomaden aja), diary-diary itu satu per satu tidak terarsipkan dengan baik. Dan terkadang aku juga malas membacanya, karena catatan perjalanan hidupku terlalu pahit untuk dikenang. Ada yang manisnya, itu juga malas aku baca, cukup ku ingat saja, kalau aku baca lagi, seakan aku mau kembali lagi seperti dulu. Aku nggak mau lagi menjadi anak kecil atau remaja seperti dulu, bagiku itu lucu dan tidak mengasyikan, malah malu-maluin.

Kini ketika dunia membuka lebar untuk aku curhat, apasalahnya diaryku ku tulis di sini. Bisa jadi apa yang kutulis akan memotivasiku jadi lebih baik. Atau bermanfaat dan memberikan inspirasi kepada orang lain. Tapi maaf, aku tak akan bercerita soal aibku atau keburukankku. Aku tak mau jadi bahan omongan entertainmen berita gosip (kayak orang terkenal aja). Hal itu cukup aku dan Tuhan aja kali ya yang tahu.

Insya Allah, Pasti !

Malam kemaren ketika aku dan sohibku pulang dari kantor. Seperti biasa, selama perjalanan, kami selalu memanfaatkan untuk saling berbagi cerita. Di saat ada yang lucu, kami tertawa, di saat ada yang menyedihkan kami pun tertunduk. Begitu juga ketika cerita itu penuh inspirasi, kami pun merenung. Di saat cerita masuk wilayah yang membuat kami harus menghitung diri atas kesalahan yang kami lakukan sebagai seorang manusia; baik kesalahan terhadap diri, kesalahan terhadap orang lain, keluarga maupun kesalahan kepada Allah SWT,  kami pun merenung dan beristighfar dalam hati. Continue reading “Insya Allah, Pasti !”

Tentang Pengeras Suara

Setiap waktu shalat tiba, dari setiap mesjid berkumandang suara azan. Suara bergema ke seluruh kampung. Itu sudah biasa, orang menyebutnya syiar Islam. Namun di luar waktu shalat tiba –azan– akan tetapi mesjid juga bergema, nyanyian salawat, ceramah agama, kasidahan, marawis dan sebagainya juga bergema dari pengeras suara mesjid. Hal ini membuat beberapa orang merasa tak nyaman mendengarnya. Continue reading “Tentang Pengeras Suara”

Selamat Jalan Nenekku

Nenek, habis magrib di Jakarta. Hati gundah tak terkira. Sekonyong bumi terasa gempa, ketika menerima telepon dari adinda, mengkhabarkan kau telah tiada.

Nenek, padahal kita habis merayakan kemerdekaan. Kau pergi menyusul kakek yang juga veteran dan tiada di tahun 80-an. Sungguh perayaan kemerdekaan kali ini jadi kesedihan, karena engkau tak sempat berpamitan. Engkau menghadap kehadirat Tuhan, sebelum datangnya Ramadhan 2008.

Nenek, ku ingat masa kecilku. Ketika ibu dan bapak menjadi guru, di suatu kawasan baru. Aku tinggal bersamamu padahal baru dua bulan umurku. Untuk menghentikan tangisku kau menetekan aku ke susu bekas ibuku. Sungguh besar jasamu dan sampai kini aku belum berbakti kepadamu.

Nenek, semoga Allah menyayangi, sebagaimana kau menyayangiku dari aku bayi. Tak ada yang bisa kulakukan kini hanya doa terhadap Ilahi. Supaya kau tak merasa sunyi menghadapi kehidupan yang abadi.

Selamat jalan nenek!

Merdeka Sejenak

Pacu Karung. Foto: Rafi TanjungSuatu kebahagiaan di negeri tercinta ini di saat-saat memperingati hari kemerdekaan. Anak-anak di RT tempat tinggalku sejak pagi sudah bersiap-siap untuk berkumpul di lapangan. Ibu-ibu juga sibuk mempersiapkan anak-anak mereka. Sedangkan Bapak-bapak harus mengalah sedikit, sarapan pagi ini agak terlambat, karena ibu lagi sibuk untuk ngurusin anak-anak yang akan ikut merayakan kemerdekaan. Continue reading “Merdeka Sejenak”

Masalah Menyikapi Masalah

masalahku.jpgAku ditegur oleh seorang sahabat, “kenapa blog kamu tak pernah di update? “ Aku menjawabnya dengan senyuman. Terus dilanjutkannya; “berani ngblog ya harus diisi terus.” Dalam hatiku aku bergumam, “ya seharusnya begitu”.

Nah, hari ini aku datang. Semoga kedatanganku melepaskan kerinduan penggemarku (cie.. elah sok terkenal dan dibutuhkan). Tidak banyak yang dapat kuungkapkan hari ini. Mungkin sebuah cerita perjalanan hidup. Bahwa beberapa hari ini aku dipertemukan oleh Yang Maha Kuasa dengan orang-orang yang bermasalah dalam mengarungi kehidupan ini. Continue reading “Masalah Menyikapi Masalah”

Cileduk-Jakarta, Jakarta-Cileduk; masih saja Indonesia

Buka mata, pasang telinga, ini nyata hanya di Indonesia. Agaknya istilah ini tidak asing terdengar di telinga kita. Apalagi istilah ini sudah dipopulerkan oleh salahsatu televisi swasta yang mengangkat cerita realty show dari kenyataan yang ada di negara kita yang bernama Indonesia.

Kalau mendengar istilah; ini nyata hanya di Indonesia, saya jadi ingat seorang penyair sufi Indonesia Alm. Hamid Jabar. Saya ingat dia, karena jauh sebelum istilah ini populer di layar televisi –ketika itu sekitar tahun 2000– saya sering bersilaturrahmi dengan para penyair ini di Majalah Horison. Setiap berkumpul baik dengan Presiden Penyair Soetardji C. Bachri, Jamal D. Rahman maupun penyair lainnya, selalu saja Pak Hamid ini menegur setiap kesalahan atau ketidakdisiplinan dengan ungkapan;”Anda orang Indonesia, ya!”
Continue reading “Cileduk-Jakarta, Jakarta-Cileduk; masih saja Indonesia”