Bertaruh Nyawa Lawan Corona, Menahan Sesak Rindu pada Keluarga

Seorang perawat sebut saja namanya Indah, 23 tahun, menangis terisak di salah satu sudut ruang rumah sakit, ia menyepikan diri untuk membuang seluruh sesak di dada. Hari itu ia merasa senang karena mendapat izin off setelah berhari-hari menjaga pasien PDP Covid19.

Ia berjibaku dan sudah seperti setrikaan bolak-balik dari pasien satu ke pasien lainnya. Ia setia mengikuti anjuran dokter yang didampinginya. Lelah, letih dan gerah sudah tidak terperikan lagi, karena alat pelindung diri yang dipakai sudah seperti pakaian astronot ke luar angkasa, panasnya bukan main.

Belakangan sejak Covid19 merebak, jadwal kerja Indah sudah tidak normal, bahkan yang biasanya diberlakukan shift, sekarang tidak begitu, semua tenaga medis baik dokter dan perawat disiagakan. Indah termasuk perawat yang harus siaga melawan Corona.

Lelucon Kalian, Air Mata Keluarga Kami

Hari ini, makna #dirumahaja yang sebagian kalian abaikan dan menjadi bahan lelucon menjadi air mata bagi keluarga kami.

Prof. DR.dr. Bambang Sutrisna, MHSc, Ahli Epidemiologi FKM UI

Demikian kalimat pembuka dari instastory putri almarhum Prof Dr dr Bambang Sutrisna MHSc, ahli epidemiologi FKM Universitas Indonesia. Putri almarhum Prof Bambang yang memiliki akun NonzNonz dengan nama Leonita Triwachyuni A S, MD ini, menyampaikan kisah ayahnya yang terpapar virus COVID-19 dari pasien yang dia tolong di tempat praktiknya.

Sang Tunanetra Pengajar Ngaji Tunanetra dengan Al Quran Braile

Irmawati (27), terpilih menjadi salah satu penerima manfaat program Disabilitas Mandiri, kolaborasi Sariayu Martha Tilaar dengan Dompet Dhuafa, dalam memperingati Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) yang jatuh pada tanggal 14 Oktober 2019.

Dia berbagi kisahnya dari menjadi penjual kue hingga pengajar Al Quran Braile. Ia menjalankan profesi tersebut di tengah keterbatasan yang ia miliki.

“Sehari-hari saya membuat dan menjual kue-kue kering. Titik berjualannya biasanya dari ke stasiun ke stasiun. Cuma saya nggak mau stasiunnya sekitaran Jakarta. Soalnya di stasiun Jakarta kadang suka rawan. Pernah ke stasiun Bogor, kadang juga ke stasiun Bekasi,” ujar Irmawati.

Sebagai salah satu penyandang tunanetra, bukan masalah baginya dan terus beraktivitas. Pasalnya, selain berjualan, ia juga mengambil pekerjaan sampingan sebagai pengajar. Terbukti dari sebelum berjualan kue kering, ia pernah bekerja di bagian telemarketing di salah satu bank. Namun ada suatu hal yang membuatnya memutuskan untuk keluar.

Irmawati, Sang Tunanetra Pengajar Ngaji Tunanetra dengan Al Quran Brile. Foto: DD

Si Malang Akbar, Lahir Tanpa Bola Mata

CIPUTAT – Dambaan setiap orang untuk memiliki buah hati yang sempurna, begitu juga dengan keluarga Ali Rahmat Nasution (46) dan istrinya Ita Anita (45). Namun takdir berkata lain, anak ketiganya Muhammad Akbar Nasution (1) terlahir tanpa bola mata. Akbar lahir di Jakarta pada tanggal 09 Oktober 2018 di salah satu Rumah Sakit dengan operasi cesar karena kandungan lebih dari 9 bulan.

“Dari lahir sudah tidak ada bola matanya pak” ujar Ali kepada tim Respon Darurat Kesehatan (RDK) Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Banten.

Sejak umur 2 bulan Akbar harus berhenti minum air susu ibu (ASI) ekslusif karena selalu tersedak setiap kali menyusui dan harus bolak balik masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit, hingga akhirnya dokter menyarankan untuk memasang selang untuk asupan nutrisinya dan sampai saat ini Akbar hanya bisa menerima makanan melalui selang tersebut.

“Umur 2 bulan anak saya (Akbar) sudah berhenti menyusui, karena selalu tersedak pak. Dokter menyarankan untuk dipasang selang pak, buat nutrisinya dia. Sampe sekarang setiap makan lewat selang itu pak” kata Ali.
Bapak Ali Rahmat dan keluarga tinggal dirumah kontrakanya di Lenteng Agung RT 03/05 Jagakarsa Jakarta Selatan. Sehari-hari bapak Ali bekerja sebagai supir taxi, sedangkan isterinya sebagai ibu rumah tangga.

Tim RDK mendapatkan informasi tentang kondisi Akbar. Saat ini Akbar sedang dirawat di PICU RSUD Pasar Minggu karena demam tinggi, hingga keluar darah dari hidung, gula darahnya juga tinggi dan trombositnya rendah. Kondisi tersebut mengharuskan Akbar dirawat intensif.

Tim RDK hanya bisa bertemu dengan ibunya karena tidak diperbolehkan masuk ke ruang perawatan. Ita Anita bercerita kondisi Akbar sejak lahir hingga kondisinya saat ini. Awalnya saat Akbar setelah lahir pihak RS menyarankan untuk transplantasi bola mata di RS Singapura, namun dengan biaya yang sangat mahal, hingga keluarga masih merasa keberatan dan harus mengubur sementara waktu untuk memberikan yang terbaik untuk Akbar. (KBK)

Wajah Negeriku

Dulu 1998, sempat menyaksikan bagaimana reformasi bergulir. Terjebak di antara kerusuhan, menyaksikan balada rakyat yang menjarah apa yang bisa di jarah. Sedih, miris dan sesak melihatnya. Aku hanya bergumam, beginilah nasib bangsaku di bawah tirani korup.

Kini 2019, terkesan lebih brutal. Memang bukan kerusuhan yang brutal, tapi cara penguasa memberlakukan rakyatnya. Penanganan unjuk rasa, kenaikan harga-harga dan hutang negara. Semua tidak ada keberpihakan kepada rakyat. Rakyat dibelah secara sistematis. Dihisap darahnya melalui pencabutan subsidi. Tapi hidup tetap masih belum sejahtera meski subsdi dicabut. Aku pun hanya bisa bergumam beginilah nasib bangsaku di bawah tirani korup.

Meninggal Setelah Diruqyah

Hari ini Allah SWT, benar-benar memberikan iktibar yang luar biasa. Allah mengizikan Ana untuk datang ke rumah salah seorang saudara kita.

Ia seorang perempuan, usia 28 tahun, sudah punya 2 anak. Dijemput oleh orang tuanya ke sukabumi 2 minggu yang lalu, karena suaminya menelpon dia sakit.

Oleh orang tuanya, si fulanah dibawa ke rumah sakit, karena ia didapati sudah tak sadar diri, mengigau dan berhalusinansi. Mata tak melihat, badan lemas, dan perut membengkak. Continue reading “Meninggal Setelah Diruqyah”

Bagaimana Mungkin Menjadi Nasionalis ?

garudapancasilaBangun tidur ku terus minum AQUA (74% sahamnya milik DANONE Perusahan Perancis) atau panasin dikit airnya pakai dispenser merek Miyako (buatan Jepang), kemudian aku seduh teh merek SARIWANGI (100% saham milik UNILEVER-INGGRIS) dan ditambah sedikit gula merek GULAKU (impor dari Malaysia). Continue reading “Bagaimana Mungkin Menjadi Nasionalis ?”

70 Paket Sembako Diserahkan di Ciracas

bagisembakoCIRACAS – Alhamdulillah, 70 saudara kita yang membutuhkan termasuk anak yatim di RW 10 Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur mendapat santunan paket sembako dari Majelis Liqo’, Mohabbatein. Santunan ini disalurkan melalui Yayasan Sahabat Mardhotillah, Sabtu, 27 Juli 2013. Continue reading “70 Paket Sembako Diserahkan di Ciracas”

Hari Pertama TK Islam Al Daaris Mulai Belajar

IMG_1777Pagi-pagi pukul 07 lewat 15 menit, 15 Juli 2013, seorang anak didampingi ibunya sudah nangkring di depan rumah petak no. 35 A RT08/10, Jl. Raya Centex Gang Darmaga, Ciracas, di mana TK Islam Al Daaris beroperasi. Continue reading “Hari Pertama TK Islam Al Daaris Mulai Belajar”