Mengajak Blogger Home Care

Badannya kurus, kulitnya mulai hitam dan mengering, matanya buta sejak usianya sebelas tahun, badannya mati sebelah, kedua kakinya mengecil, nafsu makannya berkurang, belakangan ini dia tak tahan lagi menahan rasa sakit yang begitu hebat, bahkan darah kerapkali keluar dari pori-pori kepalanya. Ibundanya, Iriyani setia menemani gadis belia ini selama 14 tahun dia didera sakit. Adalah Nurul, yang punya nama lengkap Nurul Hikmah salah seorang pasien member LKC yang tinggal Jl. Al-Busyro, Rt 04/01, Desa Citayam, Kota Depok ini mengalami sakit berat yang berkepanjangan. Continue reading “Mengajak Blogger Home Care”

Dhuafa Oh Dhuafa

Sedih memang melihat orang-orang dhuafa dan tak berpunya, ketika ia didera musibah seperti sakit misalnya. Sekilas pandang begitu memilukan dan memerihkan melihatnya. Namun tidak bagi mereka sendiri, kesusahan bagi mereka sudah biasa, kepedihan bagi mereka sudah hal yang lumrah. Air mata sudah mengering hanya menggumpal di dada.

Lihatlah ketika ia terkapar dan tak berdaya, mereka kebanyakan pasrah dengan yang diderita, meski rintih demi rintihan mengisi hari-hari mereka tetap bertahan. Kendatipun pemerintah sudah memberikan obat gratisan untuk para kaum papa ini dengan program jaminan kesehatan masyarakat, kebanyakan kaum tak berpunya tetap takut mempergunakannya. Meski pelayanan gratis, tapi ongkos berangkat ke rumah sakit tetap bayar dan di sana tidak tahu bagaimana cara mempergunakan jamkesmas itu. Dan banyak lagi yang ada dibenaknya sehingga membuat ia tidak berani untuk mempergunakan fasilitas itu.

Sampailah ia pada titik parah, di sana mereka mengalah, baru kasak-kusuk cari bantuan sini dan sana. Akhirnya dapat informasi Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) di sini mereka dapat pelayanan dan pendampingan, bahkan bimbingan rohani. Bagi yang masih diridhoi Allah karena penyakitnya, ia tertolong dan sembuh, bahkan ada yang butuh rawatan yang cukup lama, tapi LKC tetap setia.

Karena itu LKC menjadi beruntung adanya para dermawan yang menjadi mitra, sehingga para dhuafa ikut bahagia, terbebas dari penyakit yang mendera. Karena itu mari bersama berbuat sesuatu untuk kaum papa. Mungkin mereka tak akan berterima kasih kepada Anda, tapi Allah akan selalu mencatatnya.

*bravo http://www.lkc.or.id

Mpek-mpek Surga

Ini bukan sembarang dari mpek-mpek. Meski legit, enak, gurih dan nikmat, ia bukan Mpek-mpek biasa, tapi ia berasal dari surga. Ia disajikan dengan kedamaian dan ketulusan. Ia hadir dengan sewadah cinta dan kasih sayang. Jadilah ia mpek-mpek yang sangat istimewa.

Ia mengalahkan rasa mpek-mpek dari racikan siempunya sekalipun. Rasa tak terbilang dan kenikmatannya tak terkatakan. Ia sanggup memejamkan mata ini, dan jauh masuk ke dalam naluri.  Luar biasa bukan?

Itu dia, mpek-mpek ini tak akan terganti dengan setaman bunga, dan segudang aroma kesturi. Karena ia memang berbeda. Terletakpun dalam kemasan yang spesial. Pedasnyapun membuat tobat nan merindu. Ketika terasa pedas terasa tobat untuk menikmati, tapi setelah itu menimbulkan rindu untuk mengenyamnya kembali. Sungguh jeratan rasa yang tak terperikan.

Rasa mpek-mpek ini membuat kita salah tingkah, antara mau bercerita apa tidak. Mau bercerita karena senangnya, mau tidak karena rasanya. Duh, ….:)

*trimakasih sob…

Rahasia Itu Terungkap Tiada Disangka

Pernah kepentok masalah yang rumit? Saya pikir hampir semua orang pernah mengalaminya. Hari ini, daku mendapat sebuah jawaban yang tiada disangka. Dia datang tak diundang (emangnya jelangkung) dan tiba-tiba merubah kerut jidatku yang tadi hampir sebanyak rambutku.

Apa yang terasa rumit dan membuat jidatku berkerut? Tiada lain beberapa masalah yang menyangkut bank ‘century’ di rumah. Karena berdampak sistemik yang seharusnya dibailout ternyata bank central mengalami krisis juga. O alah!

Mendatangi ATM pagi ini, berharap transferan memenuhi deretan angka-angka di rekeningku, ternyata mesin yang tak bernyawa itu menolak kartuku dengan sopan. Hmm, katanya, “Maaf, saldo Anda tidak mencukupi untuk penarikan ini.”

Bakal terjadi krisis luar biasa nih sampe akhir bulan. Begitulah pikiranku saat itu. Harus dicarikan jalan keluar dengan menagih yang terserak sana-sini atau menggadai beberapa barang yang laku digadaikan di instansi yang menyelesaikan masalah dengan masalah itu.

Perasaan haru biru melengkapi pikiranku yang mulai agak panik pagi ini. Dan kutetap melangkah, bismillah menuju tempat mangkal.

Tanpa diduga, tepat menjelang makan siang tiba-tiba datang SMS dari ‘malaikat’ yang membawa perintah dari Allah SWT. Isinya memerintahkan aku untuk mendatangi western union terdekat.

Alhamdulillah, di sinilah rahasia Allah terungkap dengan tiada disangka.

Jadi tak ada masalah yang tak terselesaikan. Tidak ada istilah kepentok, jika Allah dijadikan sandaran. Aku yakin Dialah yang mendengar doa-doaku dan kekhawatiranku pagi ini. Mungkin aku panik dan merasa kepentok ketika ATM memperingatiku. Tapi siapa tahu Allah punya rencana lain, dan menggetarkan hati orang lain untuk menolongku.

Memang bulan ini adalah bulan pengeluaran yang tak diduga, berbagai kebutuhan melonjak tajam, baik yang sifatnya pribadi maupun yang di lingkungan keluarga yang perlu suntikan. Walhasil akhir bulan dalam hitunganku akan jadi keteteran. Tapi, akhirnya nggak juga, karena Allah Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

Subhanallah, walakalhamdu hamdan katsiran thoyiiban mubarakan fihii.

*) Untuk sahabat yang digetarkan hatinya oleh Allah, semoga selalu dilapangkan jalan hidupnya dan disehatkan jasmani dan rohaninya. Amin

Semoga Terbayar Seluruh Deritamu

Aku dengar cerita tentangmu sahabat, mengharu biru rasaku. Tapi aku nggak bisa apa-apa, karena semua kepedihan dan kesusahaan sudah kau lewati sendiri dan bahkan angin pun tak pernah berbisik tentangmu.

DI mataku kau adalah wanita tangguh, yang mampu melewati derita itu sendiri. Memang ya, itu adalah jalan hidupmu. Aku bangga karena selama penderitaan itu kau tidak melupakan Yang Kuasa, sehingga ia menguatkan tulang punggungmu.

Sobatku yang pendiam, kalem dan smart. Bukankah begitu dirimu. Dari dulu aku terkesan dengan sikap yang anggun itu. Sebagai seorang wanita kau mempunyai jiwa yang kokoh, jadi aku jadi tak heran kalau kau mampu jalani semua.

Kau benar, diammu dari dulu adalah membuktikan keperkasaanmu. Kau mungkin tidak akan butuh sedikit peduli dariku, toh dari dulu kau tak bisa membacanya. Atau aku terlalu bodoh memancarkan sinyal itu. Entahlah!

Yang pasti mendengar sekelumit derita yang bertahun-tahun kau rasa, aku merasa orang yang paling lemah. Yah, sudahlah. Kau pasti tak akan mengerti, karena dari dulu pun kau tak pernah mengerti.

Biarlah dulu, karena dia sudah tertinggal. Kita hidup untuk masa yang akan datang. Aku turut senang mendengar mentari kembali bersinar di tamanmu. Ia akan menggairah kehidupan bunga-bunga hatimu. Aku yakin, tak akan ada lagi badai melanda bahteramu, karena angin limbubu itu sudah menjauh setelah sempat menggoncangkan bumimu.

Yakinlah sob, ujian diberikan Tuhan sesuai dengan kemampuanmu. Itu bukti sayangnya Allah kepada dirimu, kalau ia tak sayang ia tak akan berikan cobaan, ia mungkin biarkan kau terlena dengan kehidupanmu. Dengan ujian itu, kau pasti akan semakin tunduk dan bersimpuh padaNya.

Seperti jalan di kampung kita, di balik pendakian panjang, bisa jadi sesudahnya adalah jalan yang menurun ataupun berliku. Tetaplah ikhlas menerimanya.

Sungguh beruntung orang-orang yang ikhlas, sabar dan beriman bukan? Kalau dia diberikan kebahagian dia berbagi kebahagiaan dengan makluk yang lain sebagai wujud syukur, dan apabila diberikan ujian dia sabar dengan sangatnya, karena dia yakin ujian itu adalah keinginan Penguasa Alam. Jika sabar dan ikhlas tentu itu ujud dari rasa cinta kita kepada Penguasa Alam itu.

Jadi, jangan khawatir sob, derita yang lama kau rasakan masih kalah dengan nikmat-Nya yang melimpah. Tetap optimIs, doaku bersamamu.

Duh, Cinta 2

Resah yang melanda bak air bah telah menggoncangkan seluruh rasa dan asa ini. Karena soal rasa yang kembali bersemi setelah sekian lama koma di hati.

Tapi setelah aku renungkan, itu sangat manusiawi sekali, karena dulu rasa ini tidak kesampaian, dulu tak berani untuk mengungkapkan karena dirimu terlalu anggun di mataku.

Aku takut merusak keanggunan itu, biarlah ia menjadi permata dalam kalbu. Ia jadi penopang kala berdiri, ia menjadi payung di kala hujan. Ia menjadi hiasan loteng nirwana di kala mata mau dilelapkan.

Dulu, aku hanya adalah seekor kumbang yang mampu hanya mengelilingi sang bunga. Jika kupaksakan hinggap aku takut merusak keindahannya. Tapi sekarang, lain cerita. Ketika ketemu lagi aku jadi gelap mata dan buta hati. Aku akan ungkapkan semua, karena aku merasa kaki sudah merasa kokoh untuk berdiri, dan aku sudah merasakan pahitnya dendam karena tidak memperjuangkan rasa itu hingga kini.

Jadi, wahai sang bunga, inilah rasaku, inilah kepahitan yang kusimpan selama ini. Dan inilah deritaku. Biarkan aku hinggap di kelopakmu. Kan kujaga keindahanmu hingga pelupuk mata ini menutup. Jangan risau dan enggan, kalau aku ada waktu aku akan mampir langsung ke tamanmu, biar kunikmati langsung keindahanmu dan kuhirup segala aroma di sekitarmu * cielaaaah.

Inilah aku sang bunga dan ini pula keluargaku. Kulihatkan semua album yang aku punya, biar dirimu lebih kenal diriku (haaa semakin lebar ceritanya). Tapi tak sampai di sini, aku juga akan beli berbagai nomor selular untuk bisa menghubungimu (nyari diskon pulsa maksudnya). Aku akan bertahan berjam-jam untuk bercerita tentang pelangi, mentari pagi dan taman indah. (prikitiw).

Okelah kalau begitu, Aku jadi pemaksa dan menjadi pecinta yang bengis. Dengan caraku aku ternyata egois, hanya karena sekelumit derita karena dendam cinta ini aku mengabaikan kondisi dirimu yang tengah bahagia dengan suami dan anak-anakmu. Bahkan kutahu bahwa dirimu sebenarnya sedang mendapat cobaan dari Yang Kuasa, meski kutahu dirimu sangat tabah melaluinya.

Aku seharusnya tidak demikian, aku harusnya menjadi seorang sahabat saja bahkan menjadi saudaramu yang ikut membantu dan membimbingmu hingga nanti. Semuanya seharusnya aku jalani dengan ikhlas karena Allah, bukan karena egois cintaku. Cinta sesungguhnya bukan lagi milikku tapi sudah milik suami dan anak-anakmu. Aku pun juga tidak seharusnya membagi atau memaksakan cinta yang seharusnya milik isteri dan anak-anakku dan kuserahkan kepadamu, meski cintaku lebih dahulu tersandung kepada dirimu.

Kalau pun aku paksakan, aku akan menjadi orang yang kejam di dunia, aku akan menjadi hantu di setiap kali kau mengingatku. Aku bukannya memberikan kebahagiaan pada dirimu, tapi malah penderitaan yang tak terperikan. Begitu naifkah diriku? Haruskah aku lakukan terhadap orang yang aku cintai. Aku seorang laki-laki, aku pasti tahu perasaan suamimu kalau ia mengetahui hal ini.

Untuk itu, terima saja aku sebagai sahabatmu. Aku tidak akan berprilaku aneh karena cinta ini, karena cinta sejati tidak harus memiliki.

Merekalah wahai sang bunga
Kembangkan kelopakmu setiap pagi
Tebarkan aromamu untuk pendamping dan anak-anakmu
Aku cukup bahagia kau berada di taman bahagiamu

Maafkan aku, kalau aku mencoba untuk merusak keindahanmu.

*untuk sang pecinta di kala koma

Duh, Cinta !

Kemarin aku nggak bisa tidur, sekarang aku demam. Hmm, betapa menyiksa ni cinta. Bukan main, nasi dimakan rasa sekam, air diminum rasa duri. Orang berisik, kita nggak senang, orang bernyanyi kita nggak nyaman. Duuh, cinta!

Ini sekelumit rasa, dari dunia yang tak dinyana. Tiba-tiba ia menyesakkan dada, menghimpit dan membuat pusing. Padahal lama sudah tak bertemu, tapi pertemuan kembali membuka pintu kenangan lama. Langit yang tadinya gelap seakan terang, meskipun ada segumpal awan hitam tapi tetap dihiasi pelangi. Indahnya pertemuan itu mampu melupakan fakta yang ada.

Puluhan tahun sudah tak jumpa dengannya, termasuk komunikasi apalagi bertatap muka. Internet ini menjadi media bertemu kembali. Dan di sanalah kiranya kisah ini kembali berawal. Yang tadinya, sudah puluhan tahun tersimpan rapi di dalam hati, hanya menghias khayalan ketika sendiri dan mengisi ruang cerita nostalgia, tapi kini mengambang ke permukaan. Ia menari di pelupuk mata, bergoyang di atas awan dan berdansa di detik waktuku.

Wow,aku temukan ia, ketika lagi menutup mulutnya dengan jari di sebuah situs jejaring sosial. Dan.. aku invite untuk menjadi temanku. Alhamdulillah, ia terima. Begitulah awal kembali pertemuan itu.

Tapi, apa iya? Kok rasanya jadi nggak enak nih. Ternyata ia juga punya teman lain di sana dan teman-temannya itu kelihatan akrab sekali dengannya. Aku jadi gusar dan kok jadi kepikiran ya… Entahlah, apa aku cemburu? Saya yakin tidak, tapi nggak enak aja. (berkilah nih?).

Biarlah, untuk rasa nyamanku aku akan tanya langsung ke dianya, siapa sih itu, yang bercerita tentang buliran nostalgia yang mengapung?

Kuharap kau jujur mengatakannya. Sory, aku agak sedikit melo sejak ketemu kamu lagi. Hmm, makin nggak benar nih cerita. Aku nggak peduli, tapi kok nggak bisa melupakan ya. Jadi makin penasaran.

Nanti aja kulanjutkan ya…..

Kisah Tawa di Ujung Sana

Dua hari ini benar-benar terasa gelap dan sunyi. Tak ada secercah sinar dan desiran tawa seperti biasa. Ia membawaku ke sudut kehampaan yang tak terperikan, membenturkan ke tembok sepi. Duhh!

Hari ini tawa itu meledak dari ujung sana, memancing tawaku tersembur juga dari ujung sini. Di sana gembira di sini ceria, yah itulah yang berlangsung ketika itu. kwakaa kaa kaaa :))

Mungkin tidak seorang pun yang tahu kenapa sebabnya dan bahkan aku pun sempat bingung sendiri. Entah kenapa, ketika ujung sini dan ujung sana tersambung, hasilnya adalah tawa dan keceriaan. Teman-temanku pun merasakan sebuah keanehan. Sebelum-sebelumnya, mereka tak pernah mendengar aku yang selalu tertawa dan senang ketika melihat aku on the spot dari awal hingga sambungan berakhir.

Entah apa sebabnya bermula, hingga ketawa senang itu muncul. Mungkin ini juga suatu keabadian yang aku punya, minimal hingga saat ini. Akhirnya dari ujung sini aku melihat jauh ke belakang, kutapaki selaksa waktu, dari titik nol kita berjumpa hingga 2010 ini. Itulah yang menggetarkan senyum ini dan membuat senang selalu.

Sebuah energi yang terpancar dari hati nurani yang ikhlas menerima kondisi dan takdir yang terhampar. Sebuah kenyataan hidup yang penuh dengan getaran hikmah. Rasa itu menusuk terlalu dalam, menghunjam hingga ke dasar. Ia terpatri begitu kuat dan terikat erat oleh benang masa.

Nyanyiannya terlalu indah dan lekukannya selaras masa, begitu klasik namun antik, dan berkesan sepanjang masa serta sulit untuk dilupa.

Hmmm, sungguh nikmat dan menggugurkan semua resep makanan si koki ternama. Adukannya seimbang dengan bumbu kasih yang pas. Uuuuh, makin membuat hati ini menari, mengikuti irama salsa yang romansa. (Jadi ingat lagu Dipelukmu dari sebuah Gift yang bisa jadi gift juga buatmu).

Aduh! Menjadi sulit untuk menceritakan, karena terlalu dalamnya telaga ini, ia hanya terlihat seperti ikan hias yang menari, mengikuti gemercik air ke sana kemari. Huuh, mendengar tawanya saja aku sudah sesenang ini, apalagi bertemu dan mengukir hari….

Di Pelukmu

Download Youtube Video Clip Gift – Dipelukmu
Foto Artis Indonesia

for mysis ys

Sekian lamanya kita berpisah
Tak tahu kini kau ada dimana
Pernahkah kamu memikirkan aku
Disana entah dimana

Kuminta kini kau juga memandang
Bulan yang terang menemani malam
Mungkinkah kamu merindukan aku
Disana entah dimana

Dipelukmu dulu ku pernah bahagia
Dipelukmu dulu ku pernah terluka
Dipelukmu dulu ku pernah mencinta
Dipelukmu aku rindu

Koleksi Gift yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Gift – Dipelukmu
Gambar Artis Indonesia

Telaga Biru II *Sebuah Jawaban

Lumut hijau masih melekat pada bebatuan yang membingkai telaga biru. Aku terharu melihat kesetiaannya pada sang batu.

Sobat,  melodi rindu juga tidak pernah berhenti mengalun, laksana angin yang selalu berhembus di sela-sela daun teh nan tertata rapi, bak permadani. Aaah… begitu indahnya…. begitu damainya.

Andaikan hati seindah dan sedamai itu, biarkan kabut berlalu, biarkanlah mentari tersenyum menyinari jalan hidupmu dan hidupku, karena kamulah sahabatku.

*dari GSM-mu