Sang Tunanetra Pengajar Ngaji Tunanetra dengan Al Quran Braile

“Karena pertama tempatnya jauh dari rumah. Kemudian juga ada suatu kondisi yang kurang memahami saya. Bukan kurang mengerti dalam artian cara kerjanya. Tapi ada sesuatu yang memang mengharuskan saya untuk keluar. Ada sistem yang nggak bisa saya jalankan,” jelasnya.

Kini, dari Senin sampai Jumat dia berjualan, Sabtu dan Minggu saya mengajar privat baca tulis Al-Quran. “Walaupun itu tergantung kondisi saya prima atau tidak dan kesepakatan jadwal mengajar dengan murid,” lanjutnya, dilaporkan Fajar.

Sejauh ini, melalui usaha gigihnya, masih banyak yang memandang dengan stigma negatif kekurangannya. Khususnya sebagai tunanetra.

“Karena masih ada (stigma) tunanetra yang ketergantungan dengan orang lain. Walaupun tunanetra, dari kecil di dalam diri sendiri, pasti punya semangat. Makanya kita juga harus buktikan kalau kita bisa. Dengan semangat yang kita punya tentunya. Paling penting itu kita harus memotivasi diri dengan semangat yang kuat,” aku perempuan tangguh yang tinggal di Jl. Margasatwa Gang Haji Beden, Gang Buntu, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. (KBK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.