Sang Tunanetra Pengajar Ngaji Tunanetra dengan Al Quran Braile

Irmawati (27), terpilih menjadi salah satu penerima manfaat program Disabilitas Mandiri, kolaborasi Sariayu Martha Tilaar dengan Dompet Dhuafa, dalam memperingati Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) yang jatuh pada tanggal 14 Oktober 2019.

Dia berbagi kisahnya dari menjadi penjual kue hingga pengajar Al Quran Braile. Ia menjalankan profesi tersebut di tengah keterbatasan yang ia miliki.

“Sehari-hari saya membuat dan menjual kue-kue kering. Titik berjualannya biasanya dari ke stasiun ke stasiun. Cuma saya nggak mau stasiunnya sekitaran Jakarta. Soalnya di stasiun Jakarta kadang suka rawan. Pernah ke stasiun Bogor, kadang juga ke stasiun Bekasi,” ujar Irmawati.

Sebagai salah satu penyandang tunanetra, bukan masalah baginya dan terus beraktivitas. Pasalnya, selain berjualan, ia juga mengambil pekerjaan sampingan sebagai pengajar. Terbukti dari sebelum berjualan kue kering, ia pernah bekerja di bagian telemarketing di salah satu bank. Namun ada suatu hal yang membuatnya memutuskan untuk keluar.

Irmawati, Sang Tunanetra Pengajar Ngaji Tunanetra dengan Al Quran Brile. Foto: DD

Si Malang Akbar, Lahir Tanpa Bola Mata

CIPUTAT – Dambaan setiap orang untuk memiliki buah hati yang sempurna, begitu juga dengan keluarga Ali Rahmat Nasution (46) dan istrinya Ita Anita (45). Namun takdir berkata lain, anak ketiganya Muhammad Akbar Nasution (1) terlahir tanpa bola mata. Akbar lahir di Jakarta pada tanggal 09 Oktober 2018 di salah satu Rumah Sakit dengan operasi cesar karena kandungan lebih dari 9 bulan.

“Dari lahir sudah tidak ada bola matanya pak” ujar Ali kepada tim Respon Darurat Kesehatan (RDK) Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Banten.

Sejak umur 2 bulan Akbar harus berhenti minum air susu ibu (ASI) ekslusif karena selalu tersedak setiap kali menyusui dan harus bolak balik masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit, hingga akhirnya dokter menyarankan untuk memasang selang untuk asupan nutrisinya dan sampai saat ini Akbar hanya bisa menerima makanan melalui selang tersebut.

“Umur 2 bulan anak saya (Akbar) sudah berhenti menyusui, karena selalu tersedak pak. Dokter menyarankan untuk dipasang selang pak, buat nutrisinya dia. Sampe sekarang setiap makan lewat selang itu pak” kata Ali.
Bapak Ali Rahmat dan keluarga tinggal dirumah kontrakanya di Lenteng Agung RT 03/05 Jagakarsa Jakarta Selatan. Sehari-hari bapak Ali bekerja sebagai supir taxi, sedangkan isterinya sebagai ibu rumah tangga.

Tim RDK mendapatkan informasi tentang kondisi Akbar. Saat ini Akbar sedang dirawat di PICU RSUD Pasar Minggu karena demam tinggi, hingga keluar darah dari hidung, gula darahnya juga tinggi dan trombositnya rendah. Kondisi tersebut mengharuskan Akbar dirawat intensif.

Tim RDK hanya bisa bertemu dengan ibunya karena tidak diperbolehkan masuk ke ruang perawatan. Ita Anita bercerita kondisi Akbar sejak lahir hingga kondisinya saat ini. Awalnya saat Akbar setelah lahir pihak RS menyarankan untuk transplantasi bola mata di RS Singapura, namun dengan biaya yang sangat mahal, hingga keluarga masih merasa keberatan dan harus mengubur sementara waktu untuk memberikan yang terbaik untuk Akbar. (KBK)