Wajah Negeriku

Dulu 1998, sempat menyaksikan bagaimana reformasi bergulir. Terjebak di antara kerusuhan, menyaksikan balada rakyat yang menjarah apa yang bisa di jarah. Sedih, miris dan sesak melihatnya. Aku hanya bergumam, beginilah nasib bangsaku di bawah tirani korup.

Kini 2019, terkesan lebih brutal. Memang bukan kerusuhan yang brutal, tapi cara penguasa memberlakukan rakyatnya. Penanganan unjuk rasa, kenaikan harga-harga dan hutang negara. Semua tidak ada keberpihakan kepada rakyat. Rakyat dibelah secara sistematis. Dihisap darahnya melalui pencabutan subsidi. Tapi hidup tetap masih belum sejahtera meski subsdi dicabut. Aku pun hanya bisa bergumam beginilah nasib bangsaku di bawah tirani korup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.