Hari ini Allah SWT, benar-benar memberikan iktibar yang luar biasa. Allah mengizikan Ana untuk datang ke rumah salah seorang saudara kita.

Ia seorang perempuan, usia 28 tahun, sudah punya 2 anak. Dijemput oleh orang tuanya ke sukabumi 2 minggu yang lalu, karena suaminya menelpon dia sakit.

Oleh orang tuanya, si fulanah dibawa ke rumah sakit, karena ia didapati sudah tak sadar diri, mengigau dan berhalusinansi. Mata tak melihat, badan lemas, dan perut membengkak.

Ketika Ana sampai di rumah yang bersangkutan, Ana mendapati Fulanah juga dalam kondisi yang sama. Perutnya membesar dan kata orang tuanya dia sudah tidak BAB selama 3 hari.

Sebelumnya sudah sempat dibawa ke rumah sakit, tapi kata dokter fulanah baik-baik saja. Seluruh organnya normal. Akhirnya dia dibawa pulang. Dirawat di rumah seadanya.

Hari ini Ana sekitar pukul 10 pagi, dengan izin Allah meruqyahnya. Alhamdulillah, dia sadar. Dan mengenal seluruh keluarganya. Selesai ruqyah semua puas dan senang karena Fulanah sudah bisa ngobrol kembali dengan keluarga dan sudah sadar. Setelah mengingatkan Fulanah untuk selalu berzikir dan istighfar, Ana pamit.

Sekitar Pukul 15.30 WIB, Ana dapat pesan singkat. “Fulanah kejang-kejang pak Ustad bisa ke rumah ngga,” katanya.

Sayang Ana sedang berada di Jakarta Selatan dan Ia di Cimanggis Depok, tentu butuh waktu ke sana.

Sambil menunggu Ana, pasien dibawa ke rumahsakit oleh keluarganya. Sesampai di IGD, pasien dinyatakan sudah meninggal 10 menit yang lalu.

Ana jadi kaget bagaimana menghadapi keluarga yang kehilangan orang yang disayanginya, padahal ia meminta ruqyah untuk kesembuhan ternyata kenyataanya lain. Ia meninggal setelah di ruqyah. Selintas Ana mikir, bagaimana menghadapi keluarga ini.

Alhamdulillah , Ana ingat nasihat ustad Fadlan (Ketua Umum Asosiasi Ruqyah Syar’iyyah Indonesia (ARSYI), waktu memberi pembekalan kepada Peruqyah se-Indonesia yang ikut sertifikasi Nasional (14-15/5/2016). Jadi ketika Ana sampai di rumah duka, orang sudah ramai melayat. Ana masuk rumah dangan membaca Assalamualaikum. Pihak keluarga yang melihat Ana, terlihat bereaksi, mereka bertambah sedih. Si ibu dan kakak Fulanah makin menangis.

Akhirnya Ana sampaikan pituah ustad Fadlan, dengan yakinnya. “Allah sangat sayang kepada anak ibu, Insha Allah dia meninggal dalam kondisi husnul khatimah, setelah 2 minggu dia tidak sadar. Akan tetapi sebelum wafat, Allah memberi kesempatan untuk sadar kembali dan bercengkrama dengan keluarga. Ia pun ikut istighfar, tahlil, tasbih dan tahmid. Semoga Allah, menerima amal ibadahnya dan mengampuni dosanya.,” kata Ana ke ibunya.

Mendengar wejangan itu pihak keluarga pun menghapus air matanya, sembari mengatakan, “terimakasih Pak Ustad, Insha Allah anak kami menghadap Allah husnul khatimah karena sempat sadar dan beristighfar serta meminta doa dan maaf kepada kami,” kata ibunya.

Mendengar kata-kata itu bukan saja menjadi penyejuk bagi yang hadir, tapi juga Allah SWT melepaskan beban di dada Ana yang tadinya agak cemas kalau dituduh setelah diruqyah kok malah cepat mati bukannya sembuh. Itulah ibroh dari Allah SWT, semoga kita semua mendapat hikmahnya.

Semoga Allah SWT menerima amal sholehnya dan mengampuni dosanya serta keluarga diberikan kelapangan dan ketabahan.

Ini pasien ke-5 yang meninggal setelah Allah SWT izinkan Ana meruqyahnya. Terkadang, Ana juga ikutan Shock dengan rencana Allah SWT yang tak terduga itu. Tapi akhirnya Ana menyadari ini adalah Qadarullah. Ana tidak boleh goyah imannya karena ini, ajal itu ada di tangan Allah SWT, begitupun kesembuhan.

Kita hanya seorang hamba yang diberi sedikit amanah untuk mengingatkan orang untuk membulatkan keyakinan kepada Allah SWT, sebelum kesembuhan atau kematiannya atas izin Allah SWT. Wallahu’alam bi sawab.

Trimakasih Ustad Fadlan atas nasihatnya.

Cimanggis, Depok, 18 Mei 2016, Maifil Eka Putra.