sbd
Setelah kegiatan Dongeng Ceria pertama (Desember 2012)  dan kedua (14 Februari 2013) lalu, Majelis Cilik 3 yang didirikan di RT 08/10 Ciracas Jakarta Timur, mulai mengembangkan program dengan Sanggar Belajar Dhuafa (SBD).

Program ini diawali dengan temuan Pengurus Majelis Cilik 3, ketika berjalan-jalan sehabis isya, mendapati sekolompok anak-anak dengan tas di punggung, sedang menghitung uang receh, Rp.500-an yang mereka kumpulkan.

Tingkah mereka memancing pengurus majelis cilik  untuk bertanya, terjadilah dialog berikut:

Pengurus :”Sedang ngapain dek?”

Anak-anak :”Sedang ngumpulin duit Kak”.

Pengurus : “Buat apa?”

anak-Anak :”Buat bayar kursus, kak. Bimbingan Belajar!”

Pengurus :”Terus, cukup duitnya?”

Anak-anak : “Nggak, Kak.”

Pengurus : “Emangnya berapa untuk bayaran?”

Anak-Anak : “Rp3500, per orang per hari, kak.”

Pengurus : “Kalian dapat uang dari mana, kok receh-receh.”

Anak-anak :” Kami kumpulin dari sisa belanja di sekolah.”

Pengurus :”Orang tua kalian nggak ngasih?”

Anak-anak : “Nggak Kak, mama saya tukang cuci, penghasilanya hanya untuk beli beras aja.”

Pengurus:”Terus kenapa kalian kursus, kalau nggak mampu bayar?”

Anak-anak: “Kami harus belajar, Kak. Di rumah nggak ada yang membimbing, setiap hari selalu ada PR dari sekolah. Kalau nggak dikerjain, kami kena marah.”

Pengurus: “O..Hanya untuk PR?”

Anak-anak: “Nggak, kak. Kami ingin lulus dengan nilai baik dan kami ingin jadi orang pintar.”

Pengurus :”Terus…kalau uangnya nggak cukup, kalian ngapain?”

Anak-anak:”ya… kami pulang aja lagi, karena kami nggak enak sama bu Ina udah seminggu nggak bayar.”

Terus anak-anak tersebut pamitan pulang menuju rumahnya masing-masing.

Dari temuan tersebut dibawalah perbincangan itu ke rapat pengurus Majelis Cilik 3. Di rapat, ada yang mengusulkan untuk mengadakan Sanggar Belajar Dhuafa, jadi anak-anak dhuafa yang tidak mampu membayar uang kursus bimbingan belajar di take over ke sanggar. Di sanggar dicari guru untuk membimbing.

Langkah awal yang dilakukan adalah menemui Bu Ina yang mengajarkan kursus tersebut. Dari Bu Ina diketahui anak-anak yang dia bimbing mencapai 30 orang, dari Kelas 2 SD sampai kelas 6,  Tapi tidak semua anak yang datang tiap hari dengan berbagai alasan.

Bu Ina, yang lulus sarjana pendidikan ini mengatakan bahwa yang dia ajar itu sebagian besar anak-anak dhuafa. “Karena kalau anak-anak orang kaya lebih suka kursus di lembaga kursus bukan di rumah saya,” kata Bu Ina.

Akhirnya Pengurus Majelis Cilik 3 menanyakan kesediaan Bu Ina, untuk berkerjasama. Pengurus menawarkan bagaimana kalau Bu Ina mangajar di Sanggar, dan murid-murid Bu Ina dipindahih ke sana, tapi mereka tidak dipungut lagi bayaran.

“Biaya kursus mereka ditanggung oleh sanggar, jadi Bu Ina digaji oleh sanggar,” kata pengurus.

Bu Ina, alhamdulillah setuju. Terus dinegosiasikan honor yang mungkin diterima untuk mengajar selama sebulan di sanggar, dengan frekwensi kursus 5 hari dalam seminggu, dimulai sudah Isya dengan batas waktu pukul 21.00 WIB. Karena ini kegiatan sosial, akhirnya Bu Ina mau dibayar Rp300 ribu per bulan.

Setelah Bu Ina sepakat, persoalan lain muncul, diantaranya kegiatan Sanggar mau diadakan di mana? Setelah dilakukan perbincangan serius oleh pengurus, ternyata di antara rumah pengurus tidak ada yang layak menjadi tempat belajar. Akhirnya, disepakati oleh pengurus untuk mengontrak sebuah rumah petak.

Alhamdulillah ada rumah petak yang kosong. Setelah nego dengan yang punya rumah biasa disewain Rp500 ribu per bulan. Jadi untuk kegiatan sanggar ia beri discount menjadi Rp400 ribu per bulan.

Setelah kontrakkan dapat dan juga sudah ada guru untuk bimbingan belajar anak SD, dilakukan sosialisai ke masyarakat dhuafa sekitarnya. Ternyata banyak komplain, kok anak SD saja. Karena di sekitar RT 08/10 Ciracas juga banyak anak-anak TK, juga dari kalangan nggak mampu.

Pengurus akhirnya mau tidak mau, harus melebarkan kursus untuk anak TK juga, karena ini sebuah tuntutan. Dicarilah Guru TK untuk kebutuhan itu, beruntung (sebenarnya sedih) di Ciracas ada TK Karunia Ilahi yang berdiri sejak 2002 tutup, karena gedung dan tanahnya dijual  oleh pihak yayasan. Pengurus Majelis Cilik akhirnya menghubungi Bu Hartono, mantan guru sekaligus kepala sekolah TK Karunia Ilahi tersebut. Alhamdulillah Bu Hartono bersedia membantu mengajar di sanggar.

Semuanya sudah ada; ruang sanggar, guru pembimbing untuk anak SD dan TK sudah ada. Pengurus pun mulai bergerak dengan membeli sebuah papan tulis dan spidol untuk kegiatan belajar tersebut.

sbd2Kamis malam (19.30 s.d 21.00 WIB), , 7 Maret 2013, dimulailah kegiatan belajar anak Kelas 2 s.d 6 SD di sanggar. Sedangkan untuk kegiatan belajar anak TK dan kelas I dibimbing Bu Hartono dimulai, Jumat Sore (15.00 s.d 18.00), 8 Maret 2013.

Bagi pengurus pelaksanaan kegiatan sanggar yang sudah berjalan beberapa hari ini merupakan kegiatan nekat, yang diyakini pengurus adalah jika ini perbuatan baik, pasti Insya Allah akan banyak dibantu oleh orang-orang baik pula. Meskipun sampai  saat sanggar dioperasikan; uang kontrakan untuk sanggar belum dibayar dan belum pula ada gambaran dari mana uang untuk membayar sekadar pelepas jerih Bu Ina dan Bu Hartono.

Sementara itu, perlengkapan sanggar lainnya harus pula dilengkapi, seperti meja dan kursi untuk anak-anak. Karena jika lesehan maka anak-anak akan gampang tertidur dan ngobrol dengan temannnya, jadi tujuan ajar tidak akan tercapai. Jadi Bu Har dan Bu Ina menyarankan untuk keseriusan belajar anak-anak harus pakai meja dan kursi.

Jadi list kebutuhan dana untuk Sanggar Belajar Dhuafa, Majelis Cilik 3 Ciracas per bulannya adalah:

1. Uang kontrakkan Rp400.000 per bulan

2. Uang kasih sayang untuk guru pembimbing anak SD Rp300 ribu per bulan

3. uang kasih sayang untuk guru pembimbing anak TK Rp300 ribu

4. Uang listrik Rp50.000

Kebutuhan pendukung :

1. Meja dan Kursi anak-anak TK

2. Rak-rak buku

3. Buku-buku cerita,  dongeng dan pelajaran

4. Buku-buku tulis, pena, pensil dan penghapus.

5. Meja dan kursi untuk Bu Guru

6. alat peraga penunjang belajar dan poster-poster pendidikan.

Berikut Profil Murid Sanggar Belajar Dhuafa, Majelis Cilik 3 Ciracas