Kholic, 10 th, warga Ciracas

Kholic, 10 th, warga Ciracas

JAKARTA – Sabtu, malam minggu, 12 Januari 2013 kaum lelaki warga RT08/10 Ciracas, berkumpul di rumah Ketua RT H. Dadang. Pertemuan ini merupakan yang kedua sejak Pak Dadang terpilih menjadi Ketua RT beberapa bulan lalu.

Di dalam pertemuan ini dibahas seluruh aktivitas pengurus sejak dipilih sampai pada pembangunan yang dijalankan dan yang akan dijalan di RT tersebut. Selain itu juga dibahas kebutuhan warga dan kondisi keamanan lingkungan. Termasuk juga disampaikan ada peningkatan keluarga miskin, yang tadinya 12 KK menjadi 14 KK dari 245 KK yg terdaftar di RT08.

Salahsatu daftar keluarga miskin (Gakin) yang ditambahkan itu, disebutkan nama Nurafiah, 55 tahun. Ia seorang janda yang sudah tinggal di RT08 selama 1 tahun lebih, namun di pengurus RT lama dia tidak dimasukkan dalam daftar Gakin, entah apa alasannya. Barulah sejak Pak Dadang menjadi Ketua RT Nurafiah masuk kategori Gakin dan mendapat santunan beras serta kartu sehat.

Nurafiah, yang sejak tahun 2008 ditinggal mati oleh suaminya dan memelihara 3 buah hati dari perkawinan mereka. Anak pertamanya Amelia (meninggal 2011), anak kedua Riska sudah memiliki 2 anak dan ikut suaminya. Jadi saat ini Nurafiah tinggal bersama anak ketiganya Reinita, 12 tahun yang duduk di kelas 2 SMP.

Bersama Nurafiah ini juga tinggal Abdul Kholik, 10 tahun, yg menderita terhalang tumbuh kembang. Kholik hanya bisa terlentang dan bergerak seperti bayi baru lahir. Karena selalu terlentang sehingga sering timbul luka lecet (decubitus) di punggung dan kakinya.

Tubuh Kholik kecil, tinggal kulit pembalut tulang, mukanya pucat dan ia tidak bisa berbicara. Ia hanya bisa teriak “oaaaggh” dan menangis. Jika ia kelamaan menangis bekas aliran airmatanya memerah dan gatal, jika tidak diberikan salep maka akan menjadi kudis.

Kholik hanyalah anak angkat dari Amelia, anak pertama dari Nurafiah. Amelia mengadopsi Kholik sejak tahun 2000 ketika itu Kholik sedianya akan dititipkan ke panti yatim di Senen, Jakarta Pusat, oleh ibu kandungnya. Karena panti sudah penuh, akhirnya Allah mempertemukan ibu yang tak sanggup memelihara anak ini dengan Amelia. Ketika mendengar cerita ibu kandungnya Kholik, Amelia akhirnya tersentuh untuk mengadopsinya.

Ketika diterima Amelia, Kholik berumur 6 bulan dan terlihat sehat dan lucu. Tapi lama kelamaan ternyata Kholik terlihat ada kelainan, ia tidak tumbuh normal seperti anak-anak lainnya. Tapi Amelia sabar merawat Kholik. Suami amelia ketika itu juga setuju mengambil Kholik menjadi anak karena dari perkawinan mereka belum mempunyai anak. Berbagai persoalan rumah tangga mendera Amelia, sehingga perkawinannya pun kandas. Amelia pun sakit-sakitan sampai pada September 2011, Allah berkehendak lain, Amelia sakit dan meninggal.

Di sinilah awal muasal Kholik diasuh penuh Nurafiah, ibunya Amelia. Setelah Amelia meninggal, tertumpanglah beban merawat Kholik kepada Nurafiah. Setiap hari, ketika Nurafiah yang sebagai single parent ini pergi berkerja sebagai pedagang kredit keliling dan Reinita pergi sekolah, Kholik ditinggal sendiri di rumah kontrakan mereka. Hanya kepada tetangga sebelah dititipkan untuk sesekali melihat-lihat Kholik selama ia pergi berdagang.

Sayang, tangisan Kholik selama satu tahun ini tidak begitu kencang sehingga tidak ada yang mendengar rintihannya. Barulah Ketua RT Dadang dan pengurus baru RT tersebut tersentuh mendengar rintihan Kholik, sehingga memasukan Kholik pada agenda khusus pada acara pertemuan kepala keluarga se-RT 08.

kholik dikonsulkan ke dr Anya

kholik dikonsulkan ke dr Anya

Esok harinya, Minggu (13 Januari 2013) sebenarnya ada bakti sosial pengobatan gratis untuk warga RT08 yang obat-obatannya disumbangkan oleh LKC Dompet Dhuafa. Makanya pagi sekali pengurus RT menjambangi Kholik untuk dibawa berobat mumpung ada dokter yang datang ke RT tersebut.

Ketika itu dr. Anya D Suzana, menyarankan Kholik untuk dirawat, karena luka decubitusnya dan kebutuhan gizi untuk perbaikan kondisi umumnya. Tentunya juga perlu penanganan spesialis untuk tumbuh kembangnya.

Ketika pengurus RT menghubungi pihak LKC Dompet Dhuafa, pihak LKC bersedia untuk merawat Kholik, dengan syarat harus ada pendamping dari pihak keluarga. “Perawatan mungkin membutuhkan waktu agak lama, karena membutuhkan observasi mendalam oleh dokter spesialis,” ujar dr. Yeni Purnamasari, Manager Pelayanan Medis LKC Dompet Dhuafa ketika menanggapi foto Kholik yang dikirim melalui BBM ke Grub LKC.

Mendapat khabar dari LKC kemudian ditanyakan ke Nurafiah apakah ia sanggup mendamping Kholik selama perawatan.

Nurafiah menangis, dan memberikan jawaban jujur. “Jangankan merawat di rumah sakit, merawat di rumah saja sebenarnya saya sudah tidak sanggup. Saya sudah sakit-sakitan, badan saya sebelah kiri lemah dan sering nyeri. Setiap minggu saya ke Kota untuk pengobatan akupuntur,” ujar Nurafiah.

Nurafiah mengaku, sering terjatuh saat membawa Kholik ke kamar mandi disaat mau memandikan dan membersihkan BAB-nya. Karenanya ia sering menangis dalam doa berkeluh kesah kepada Allah SWT.

Ia sudah pernah adukan perihal ini ke dokter di Puskesmas. Dokter di Puskesmas menyarankan Nurafiah untuk mengirim Kholik ke Panti Sosial di Kedoya. Hanya saja sampai saat ini Nurafiah belum sanggup untuk menyewa angkutan ke sana, sehingga pahit manisnya ia telan saja merawat Kholik hingga saat ini. Ia hanya bisa berharap ada tangan Allah melalui orang yang dermawan mau merawat Kholik. Jika Kholik berumur panjang Nurafiah takut berdosa karena tidak sempurna merawat Kholik dengan seluruh keterbatasan yang ia miliki.

Kholik dibawa ke RST dengan ambulan LKC

Kholik dibawa ke RST dengan ambulan LKC

Malam harinya, Minggu (13/1/2012) sekitar Pukul 19.00 WIB, ambulance LKC Dompet Dhuafa sampai ke RT08/10 Ciracas, setelah disurvei oleh Agus Maulana, Tim Verifikasi LKC Dompet Dhuafa dan atas dukungan Pengurus RT08 dan warga, akhirnya Bu Nurafiah yang sudah sakit-sakitan itu mau mendampingi Kholik untuk dirawat intensif di Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa di Parung.

“Di RST ini selain mengobati Kholik, sakit lemah sebelah Bu Nurafiah bisa sekalian diobati,” jelas Agus, dari LKC Dompet Dhuafa. Agaknya hal inilah yang membuat Bu Nurafiah akhirnya mau mendamping Kholik.

Namun demikian, sebelum berangkat Nurafiah tetap kekueh barharap, nanti kalau kondisi kesehatan Kholik udah membaik, agar ada panti yang mau menerima Kholik untuk menjadi anak asuh, karena ia merasa sudah tua dan lelah.

Akhirnya persoalan ini disampaikan ke Satgas PA Ilma Sovri Yanti Ilyas, yang meneruskan ke Kemensos dan Yayasan Sayap Ibu. Menurut Ilma melalui BBM, Kemensos dan Yayasan Sayap Ibu komit untuk menerima Kholik. Akankah Kholik segera mendapat asuhan yang sempurna seperti anak kandung yang penuh belaian? Semua itu dikembalikan ke nurani kita semua