Insya Allah mulai Mei 2012 ini, saya akan melaksanakan dinas luar dan tidak akan melakukan sidik jari lagi setiap pagi. Dan aku juga tidak akan lihat lagi Pak Salim yang setiap pagi di meja sekuriti mengisi TTS angka-angka, yang udah kayak agen rahasia Israil, Mossad yang menerima tugas melalui sandi-sandi lewat TTS koran yang terbit tiap pagi.

Perangai Pak Salim ini tentu sangat jauh berbeda dengan Herman yang pendiam dan Budi yang agresif. Apalagi bila dibandingkan dengan senyum ustad Yazid, semuanya jadi lewat daaah.

“Maaf Pak Tono dan Acih, aku juga nggak mau tandatangan absen yang di titip di sekuriti itu, meskipun sidik jariku jarang pernah dinyatakan gagal oleh mesin itu. sehingga aku tidak perlu cuci jari dulu seperti yang sering dilakukan dr. Yeni dan Peni (hehehehe: jangan tersinggung yaa).” Sebenarnya sih aku agak sebel juga dengan tuh mesin, ia tidak pernah mendoain “Pak Maifil Sukses!” yang di doain selalu si “Verifikasi, Sukses!”

Aku insya Allah tidak akan bertengkar lagi dengan Anwari yang selalu saja datang terlambat membersihkan mejaku. Alasannya sih, ia tidak terlambat hanya saja aku yang dikatakan datang kecepatan. Pertengkaran itu selalu berlangsung tiap pagi. Bayangkan Sob, kita sudah mulai dengan Bismillah, Laptop sudah dibuka, tablet sudah dipasang, ujug-ujug dia datang dengan kanebonya, gesek-gesek tu meja kerja. Pakai semprot-semprot segala. Uuuughhh!

Aku juga tidak lagi akan menimpalin omongan Nila yang berada di ruangan tertutup yang digawangin Pak Miza itu. Aku yakin ketika canda itu terjadi, Pak Miza dan Ika mesem-mesem mendengarnya. Aku pastinya juga tidak akan mendengar nyanyian baru Nila after walimah nanti.

Ke depan Mak Masitoh juga tidak perlu capek-capek meminta kelarin dulu majalah, baru dikasih ijin cuti. Maklum Sob, tanah bundo yang jauh dimato, sekali 2 bulan harus ditata dan diurus. Kewajiban melekat terhadap suku yang harus dijalankan. Sehingga sekali dua bulan aku harus berurusan dengan Mak Itoh untuk dapat izin cuti.

Namun demikian aku tetap berterimakasih kepada Mak Nyak Itoh, atas segala “kasih sayangnya” sebagai atasan dan doanya di tanah suci untuk kebaikan hidupku dan keluarga. *kalau yang ini geer nggak ya?

Aku juga tidak akan pernah mendengar ejekan dokter Tomy tentang Minangkabau yang diplesetkan menjadi “Minangkacau” itu. Untung aku menyadari kalau orang tubuhnya besar, tentu candanya besar juga. Kalau aku tak menyadari dan memaklumi itu, bisa terjadi caos. Hampir saja langkah silat Macan Kumbang meluncur membela tanah bundo yang dilecehkan. Sungguh sob, ini adalah perbuatan rasis dan sara. hehehhee… serius amat :)

Aku pasti merindukan Pak Miza yang selalu bersama ke Awak Juo dan sekali-sekali ke Asal Mulo ketika jam makan siang menjelang. Terkadang kalau tidak ada teman yang bisa dibawa berkawan makan, warung Mbak Mai lah yang menjadi sasaran.

Dan berikut aku tidak akan mendengar Peni lagi yang minta fotoin acara-acaranya, atau mendengar ocehan Mba Reita “apa aja boleh itu”. Lama-lama Bunda Micel Elizabet ini bisa kayak Syahrini dengan jargonnya “alhamdulillah sesuatu ya”.

Tentunya juga aku juga tidak akan mendengar Rahayu yang ketika diminta membuat profil pasien terus membalikkan lagi “bapak aja yang menulis.” ” Duuuh Yuuu, katanya mau bisa nulis pas gilirannya diberi tugas menulis, malah balikin lagi. Jangan sering-sering nugasin yang lain yaa, sekali-sekali tulis sendiri aja. Biar Rahayu juga bisa menjadi perawat yang penulis”

Sob, aku juga tentunya tidak akan menyusahkan ketika mengamprah mobil ke Pak Roso yang baik hati, lemah lembut dan partner dalam bermain batminton ini. Tentunya juga merindukan Pak Asep yang selalu mengajak main futsal di jumat sore. Duuuh, tak terbayangkan juga betapa kangenya aku akan mendengar suara indahnya LKC Voice yang sudah menjadi bintang You Tube itu..

Setali tiga uang, aku juga tidak akan mendengar ucapan Suratman, “Gampang….Gampang…Gampang.” ketika ia dimintakan mendesainkan sesuatu oleh rekan-rekan. Gampang sih cepet, hasilnya sih belum tentu secepat jawabannya. Hmmmm, Suratman memang orang yang unik dan sahabat yang baik.

Duh, aku tentunya juga tidak bisa lagi ngajak Pak Mamat, Pak Rohim, Pak Obrih dan Pak Iwan untuk melaksanakan tugas Darurat Kesehatan. Aku juga tentunya tidak akan mendengar cilotehan “Aril” Rojali yang menggoda “Luna” Reita. Hehehehe kayak di berita gosip aja. Aku juga pastinya tak akan mendengar salamnya Jamal, jabat tangannya Muhadi, empatinya Hermawan dan senyumnya Pak Hadi.

Aku juga pastinya akan mengenang kelakarnya Kholis, ocehannya Mbak Yati dan aku juga mengucapkan terimakasih atas keakraban selama ini.Tentunya hal yang sama juga dirasakan Ahmad, Anwari, Nezar, Anggi, Wahidin dan Sumarno.

Aku juga ikut gembira mendengar Ria, Tika, Nila, Fardi yang akan melepas masa melajang-lajangnya (untung bukan bahasa Minang, kalau bahasa Minang Lajang = Melompat, jadi kalau Nila Mengakhiri masa lajang sama juga dengan Nila mengakhiri lompatannya hehehehe).

Aku juga turut senang dengan Eka Yanti, Peni dan Hari yang telah mengakhir masa lajang itu. Tinggal lagi kita menunggu keputusan tegas Annisa dan Aam yang tentunya Mbak Hetti dan Mba Ani turut mendoakannya. Tentu juga petugas lab Mba Sri Yatmi yang selalu memeriksakan darah ketika ada yang sakit, juga hendaknya menyusul. Begitu juga Defri, aku tidak melupakan tendangan mautmu ketika main futsal.

Pak Iwan, Oing dan Muhammad kita akan selalu berkomunikasi dan tetap kompak, aku akan terus support kalian dari mana yang aku bisa. Untuk Pak Robi, Fitri, Rina dan Anam kalian juga sahabat-sahabatku yang baik. Begitu juga Nursalim dan Andy kenangan memperbaiki gizi dhuafa bersama kalian di Rumpin juga tak akan terlupakan. Mbak Eli semoga sehat kehamilannya dan dilancarkan melahirkan nantinya.

Dan tentunya aku tidak akan menyusahkan Mira dan Dokter Gigi Anisa lagi, ketika jigong bandel yang melekat di gigiku. Begitu juga ketika tubuh ini terasa kurang enak, dr. Yanda, dr, Gina, dr. Farhan, dr. Deski, dr. Iyan tidak lagi akan kuganganggu di sela-sela ia memeriksa kesehatan dhuafa. Tentunya Mbak Ninggrum, Niken, Mba Isni tidak perlu capek-capek mencarikan obat sesuai resep yang diberikan padaku. Apalagi Hendra dan Azra tidak perlu lagi mengantarkan Indomie rebus ke lantai 3 guna mengganjal perutku yang lapar.

Sungguh Sob, banyak kenangan yang berharga selama harus menunjuk mesin yang dipasang di sekuriti LKC Dompet Dhuafa itu, interaksi dengan teman-teman semuanya di LKC Dompet Dhuafa sangat sulit untuk menceritakannya satu per satu.

Maaf, kalau ada kisah dengan kalian yang lain tidak terceritakan pada kesempatan ini. Ketahuilah semuanya yang ada di LKC Dompet Dhuafa dari pimpinan, member, dokter, perawat, staf, ob, sekuriti, teman2 program, kompro, bidan apotik, labor, logistik, umum, dapur semuanya tertulis dengan tinta emas di hatiku.

Ingat sob, aku tidak pergi, hanya saja aku tidak sidik jari lagi. Aku dan Mang Edi tetap akan mensupport kepemimpinan dr. Yahmin, Mak Itoh, Pak Asep, dr. Yeni untuk menyusun strategi komunikasi dan mempublikasikan LKC dari manapun.

Untuk itu Sob,

atas nama segala kilaf yang terlakukan, aku mohon maaf.
atas nama segala lisan yang tak berkenan, aku mohon maaf
atas nama segala perbuatan yang menjengkelkan, aku juga mohon maaf

dan atas nama segala kebaikan yang sudah diberikan, aku haturkan terimakasih
Jazaakumullah khairan katsiran. Hanya Allah saja yang bisa membalasnya dengan kebaikan yang lebih.

salam

maifil dan keluarga