Astagfirullah, Luruskan Niat!

“Astagfirulullah, Luruskan niat”. Kata-kata itu sering meluncur dari kawan relawan Dompet Dhuafa, yang bergabung di tim medis Disaster Management Center (DMC) DD di UPN Jogjakarta. Ia mengucapkan itu sambil mengusap dadanya. Hal itu menjadi perhatian serius bagiku, karena ini adalah faktor penting dalam menjalankan sebuah misi kemanusiaan.

Gunung Merapi yang terus erupsi dan mengeluarkan awan panas yang dikenal dengan Wedus Gembel, telah meluluhlantakkan kawasan di sekitar Merapi. Tidak sedikit, 180.000 orang harus meninggalkan kampung halaman kesayangannya. Banyak pula yang mati dan kehilangan rumah, harta bendanya. Situasi ini menguliti nurani banyak orang, termasuk Dompet Dhuafa (DD), LSM penghimpun ZIS di Indonesia. LKC sebagai jejaring dari DD juga turun dengan tim medisnya, di antaranya aku turut turun sebagai support.

Sungguh kejadian yang luar biasa, sebelum memasuki Jogja aku melihat kota Muntilan, Magelang seperti kota mati. Jalan dipenuhi debu lebih dari 10 cm, dan di pinggir-pinggir jalan ranting, dahan dan bantang pohon-pohon hancur berguguran ke bumi. Semuanya mati karena diselimuti debu dan kerikil yang dimuntahkan
Merapi. Mobil ambulance yang dikemudikan sahabat baikku Yusuf tidak mungkin berlari kencang di tengah jalan licin tersebut. Kami merayap menuju Posko Utama di UPN Jogjakarta.

Kami sampai sekitar pukul 10.00 WIB, kami istirahat sejenak, tapi tidak berlangsung lama istirahatnya Tim Disaster Management Center (DMC) DD tempat kami bergabung, mendapat informasi ada sekitar 2000 orang yang terkurung di kawasan Tirto, Salam, Magelang. Setelah tim melakukan rapat koordinasi kemudian memutuskan untuk mengevakuasi warga malam itu juga.

Sedikitnya ada 7 ambulance, 1 ranger, 2 Avanza dan 1 VW Combi diturunkan untuk mengevakuasi warga tersebut. Dengan kecepatan tinggi semua mobil yang ada di posko tersebut dikerahkan untuk menyelamatkan warga desa Tirto tersebut. Alhamdulillah, malam itu hingga subuh yang baru dapat diselamatkan hanya orang tua (manula), anak-anak, Balita yang dapat dievakuasi. Sisanya dievakuasi hari berikutnya.

Selain itu, aku juga menyaksikan ribuan orang pengungsi memenuhi stadion Maguwoharjo. Stadion yang biasanya digunakan untuk pertandingan sepak bola itu dipenuhi oleh ribuan pengungsi. Sungguh suasana yang luar biasa mengharukan. Mereka tidur di lantai dan pakaian yang terbawa seadanya. Di antara mereka ada yang sudah kehilangan saudara, harta dan tempat tinggal mereka karena dihantam lahar, debu dan lava dari Merapi.

Di dalam situasi begini kehadiran relawan, bantuan dan orang-orang yang peduli sangatlah berarti bagi mereka. Keadaan mencampakkan mereka pada suasana hati yang jauh ke ambang bawah yang mereka tidak dapat mengerti. Cobaan yang luar biasa. Sungguh, aku tak sanggup, jika berada di posisi mereka.

Namun di balik rasa haru yang terasa, Aku merasa sangat bahagia menjadi tim yang mulia mengambil bagian untuk membantu mereka meskipun tidak banyak yang dapat aku lakukan untuk pengungsi ini. Namun di saat-saat berbuat baik ini, ujian hati akan selalu terjadi. Jadi tepatlah yang dikatakan relawan Tim Medis yang saat mau selesai Aksi Layan Sehat di lokasi pengungsi ALS, aku tahu namanya Ria itu. “Astagfirullah, Luruskan Niat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.