Bu Samot sebelum dan sesudah aspirasi

Hari ini aku melihat Bu Samot Binti Said, 63 tahun, seorang nenek yang menderita Tumor di pelipis kiri, tersenyum senang kepadaku. Setiap kali bertemu dia disaat kontrol dan dirawat di LKC selalu tersenyum. Meski ia hanya melihat dengan mata kanan.

Tapi senyumnya Bu Samot sangat berbeda dengan senyumnya 10 hari yang lalu. Hal itu karena Tumor di pelipis kiri itu sudah dilakukan aspirasi cairan (penyedotan dengan memasukkan slang melalui hidungnya). Alhasil, tumor yang menggayut di pelipis itu sudah kempes. Penyedotan dilakukan minggu lalu di RSCM.

Menurut warga Kampung Tegal Kadu, Serang Baru, BantenĀ  ini dia merasa senang dengan keluarnya cairan dari pelipis kirinya itu. Kini ia sudah merasa agak ringan, namun mata kirinya belum dapat melihat sempurna karena sudah lima tahun tertutup. Selain itu di bekas pembengkakan itu meninggalkan tulang yang menonjol di bagian pelipisnya, sehingga ia susah untuk sujud dalam shalatnya.

“Belum tahu persis bagaimana kondisi tulang itu, karena belum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, pemeriksaan itu akan dilakukan dalam satu dan dua hari ini,” jelas Samot.

Menurut cerita Samot, lima tahun lalu kelopak matanya terasa gatal. Awalnya Samot menduga matanya digigit semut. Karena itu ia menganggap itu adalah gatal biasa. Tapi lama kelamaan rasa gatal itu semakin menjadi-jadi dan diperparah dengan diikuti pembengkakan. Dia coba berobat ke Puskesmas, ke dukun dan ke tabib. Hal hasil tidak ada perkembangan yang berarti. Pembengkakan itu kian hari semakin membesar.

Saking tak tahan dengan penyakitnya, akhirnya dia meminta kepada keluarga untuk menjual tanah yang mereka punya. Uang hasil dari penjualan tanah tersebut digunakan untuk pengobatannya ke RSCM Jakarta. Di rumah sakit ini, tim dokter menyatakan bengkak yang menutupi mata Samot disebabkan oleh tumor. Untuk itu harus dilakukan operasi atau aspirasi cairan.

Karena kondisi kemiskinan yang mendera Samot, untuk keperluan operasi itu dia meminta surat miskin ke kepala desa setempat, dan dapatlah meringankan biaya perawatan. Akan tetapi, untuk ongkos bolak balik dia dan keluarga yang mendampingi serta biaya tambahan perawatan, selama 3 bulan berturut-turut, janda tua ini sampai menghabiskan dana lebih dari Rp16 juta yang diambilnya dari hasil penjualan tanahnya.

Berhasilkah? Alhamdulillah, tumor yang menutupi mata Samot secara perlahan mulai kempes. Mata kirinya dapat melihat kembali. Menurut ceritanya, operasi dilakukan dokter dengan memasukkan slang melalui hidungnya, guna menyedot cairan yang ada di tumor tersebut.

Sayangnya kesembuhan itu tidak berlangsung lama, berselang 3 bulan kemudian, tumor itu membengkak kembali. Persis seperti awal gejala itu timbul. Kian hari kian membesar. Karena tidak ada lagi harta yang mau dijual, melalui sumbangan anak-anaknya yang berkerja di tempat pembakaran batu bata, dia hanya mampu berobat ke alternatif. Tapi hasilnya tetap nihil.

Mengingat kenyataan yang ia alami sekarang, agar mata kirinya dapat melihat kembali, agaknya masih menjadi mimpi bagi Samot. Untuk operasi lagi seperti sebelumnya, ia sudah tak mampu menanggung biayanya.

Hingga pada suatu kali, Allah mempertemukan Samot dengan Merry, ibu lima anak, wartawan salahsatu media cetak di Banten. Merry membawa Samot menjadi member LKC. Sejak saat itu Samot menjadi pasien LKC, hingga sekarang dilakukan aspirasi cairan. Selanjutnya tim dokter LKC akan mengkonsulkan Samot ke dokter ahli tulang untuk mendapatkan saran tindakan lanjutan.

Tulisan ini dapat dibaca di web LKC