Tim Home Care LKC dengan Nurul

Ciputat – Menyambut Ramadhan 1431 H, LKC Dompet Dhuafa mengunjungi pasien yang tidak bisa dilayani di klinik LKC lewat program Home Care ke rumah pasien. Kali ini Selasa (10/8/2010) yang mendapat kunjungan adalah Nurul Hikmah, 24 tahun, di Citayam dan Sarmin, 55 tahun, di Sawah Lama, Ciputat.

Di rumah pasien Nurul yang menderita kanker otak sejak kecil, tim LKC mendapati Nurul sedang terbaring di kasur yang ditaruh di atas lantai tanah di rumahnya. Nurul kelihatan gembira dengan kedatangan tim LKC. Ia merasa mendapat kunjungan saudara, maklum Nurul sudah sejak umur 11 tahun menjadi pasien dan member LKC.

Akibat kanker otak yang mendera Nurul, apabila malam tiba terkadang dari pori-pori kepala Nurul, menyemburkan darah. Hal ini dikarenakan rasa sakit yang tidak terperikan.

Nurul menikmati rasa sakit itu dengan kalimat talbiyah. Ia tidak henti melafazkan nama Allah dan memohon kesembuhan atas penyakitnya. Ia menyatakan tidak akan pernah menangis dengan rasa sakitnya. Ia pun tidak akan menyerah.

Menurut Nurul, ia pernah ingin berputus asa atas penyakit yang dideritanya, tapi setelah dia renungkan lebih dalam, ia bersikap untuk apa berputus asa. Toh, semua sudah kehendak Allah SWT, akhirnya Ia dapat ikhlas menerima kenyataan. Bahkan dia bersyukur dengan setiap sakitnya ia dapat semakin dekat dengan Allah SWT.

Sarmin di Rumahnya

Lain Nurul, lain pula Sarmin, 55 tahun, ia seorang lelaki sebatang kara yang tinggal di sebuah rumah petak 2×3 peninggalan bapaknya. Di sebelah rumahnya tinggal adiknya yang tidak jauh beda dengan kondisinya. Dinding rumah Sarmin bersebelahan dengan kamar mandi dan WC bersama.

Di dalam rumahnya Sarmin istirahat dengan sampah-sampah dan barang bekas yang dikumpulkannya. Sirkulasi udara jangan disebut, ada memang sebuah jendela di depannya tapi itupun tertutup oleh tumpukan sampah plastik yang belum sempat dijualnya. Jendela itupun penuh debu tebal dan menghitam karena asap. Agaknya Sarmin sudah lama tidak membersihkannya.

Di dalam rumah Sarmin, udara terasa panas dan sumpek karenanya, hanya sebuah gitar tua dan sebuah radio yang menjadi temanya sehari-hari. Kedua alat itu dia nikmati sepulang ia berkerja sebagai pengumpul sayuran di Pasar Ciputat. Setiap habis subuh Sarmin berangkat ke pasar, setelah pasar pagi usai Ia mulai beraksi mengumpulkan cabe dan sayur yang tercecer. Hasilnya sebagian dijual dan dikonsumsi sendiri. Selain sayuran, botol air mineral bekas dan plastik lainnya juga menjadi incarannya.

Setelah setengah hari berkerja Sarmin kembali ke rumahnya untuk memilah dan memilih hasil kumpulannya. Kalau sudah banyak dia baru menjualnya. Setiap hari itulah yang dilakukan Sarmin untuk bertahan hidup.

Bisa jadi , karena dia hidup di lingkungan yang sumpek seperti itu menyebabkan ia menderita TBC. Dan sesak napasnya sering kambuh, karena itu pula ia selalu bolak-balik berobat ke LKC, apabila penyakitnya kambuh dan obatnya habis.

Sarmin sudah 4 kali menikah dan sudah 4 kali juga berpisah. Ada berpisah karena tidak tahan hidup dengan Sarmin ada juga karena memang Allah yang menjemputnya. Dari 4 kali pernikahannya dia hanya mendapat anak 1 orang anak laki-laki dan kini juga sudah memiliki 2 anak.

Anak itu hasil pernikahan Sarmin dengan gadis Depok, namun sayang jodohnya juga tidak panjang. Setelah anaknya lahir ia pun dipisahkan oleh Allah SWT. Kini yang menjadi hiburan Sarmin adalah 2 orang cucunya yang berumur 4 tahun dan 2 tahun.

Karena jarak rumahnya tidak jauh dari rumah Sarmin, hampir setiap hari ia sempatkan melihat dan membawa kue kesayangan cucunya. Tapi sebaliknya, bapak dari cucunya itu yang nota bene adalah anak kandungnya tidak pernah mampir ke rumah Sarmin, meskipun Sarmin sering sakit-sakitan. Karena itulah Sarmin mengenang nasibnya sendiri di rumah kecilnya itu.

Selain kunjungan ke rumah pasien, tim LKC Dompet Dhuafa Iwan (Kepala Fundrising), Maifil (Staf Corsec), Mamat (Sopir), Salim (Surveyor) dan 4 orang relawan tidak lupa menyerahkan paket sembako dan uang sekadarnya untuk modal ramadhan bagi Nurul dan Sarmin.

Nantinya kegiatan homecare ini akan berlanjut dengan santunan sembako untuk 100 member LKC lainnya yang aktif dalam pengajian member dan ta’jil untuk buka puasa pagi keluarga dan pasien yang dirawat di LKC.

Tulisan ini juga dimuat di LKC.OR.ID