Dhuafa Oh Dhuafa

Sedih memang melihat orang-orang dhuafa dan tak berpunya, ketika ia didera musibah seperti sakit misalnya. Sekilas pandang begitu memilukan dan memerihkan melihatnya. Namun tidak bagi mereka sendiri, kesusahan bagi mereka sudah biasa, kepedihan bagi mereka sudah hal yang lumrah. Air mata sudah mengering hanya menggumpal di dada.

Lihatlah ketika ia terkapar dan tak berdaya, mereka kebanyakan pasrah dengan yang diderita, meski rintih demi rintihan mengisi hari-hari mereka tetap bertahan. Kendatipun pemerintah sudah memberikan obat gratisan untuk para kaum papa ini dengan program jaminan kesehatan masyarakat, kebanyakan kaum tak berpunya tetap takut mempergunakannya. Meski pelayanan gratis, tapi ongkos berangkat ke rumah sakit tetap bayar dan di sana tidak tahu bagaimana cara mempergunakan jamkesmas itu. Dan banyak lagi yang ada dibenaknya sehingga membuat ia tidak berani untuk mempergunakan fasilitas itu.

Sampailah ia pada titik parah, di sana mereka mengalah, baru kasak-kusuk cari bantuan sini dan sana. Akhirnya dapat informasi Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) di sini mereka dapat pelayanan dan pendampingan, bahkan bimbingan rohani. Bagi yang masih diridhoi Allah karena penyakitnya, ia tertolong dan sembuh, bahkan ada yang butuh rawatan yang cukup lama, tapi LKC tetap setia.

Karena itu LKC menjadi beruntung adanya para dermawan yang menjadi mitra, sehingga para dhuafa ikut bahagia, terbebas dari penyakit yang mendera. Karena itu mari bersama berbuat sesuatu untuk kaum papa. Mungkin mereka tak akan berterima kasih kepada Anda, tapi Allah akan selalu mencatatnya.

*bravo http://www.lkc.or.id

Susu Formula ‘Bunuh’ Orang Miskin

Cileduk- Jika memberikan susu formula kepada bayi dari keluarga miskin sama saja ‘membunuh’ masyarakat miskin secara sistematis. Kenapa tidak, dari 4,5 juta bayi lahir setiap tahun di Indonesia, dalam enam bulan pertama setiap bayi membutuhkan 44 kaleng susu formula. Apabila satu kaleng susu formula harganya Rp60.000,- maka setiap bayi membutuhkan Rp2.640.000 hanya untuk membeli susu formula untuk enam bulan pertama.\”Belum lagi untuk kebutuhan beli dot, air, gas, listrik dan lain-lain. Sementara pendapatan dari seorang ayah dari keluarga miskin sangat minim. Untuk menutupi biaya ini akan mereka cari kemana?,” sebuah pertanyaan menggelitik dari dr. Asti Praborini SpA, IBCLC ketika menyampaikan makalahnya dalam presentasi di depan sekitar 200 ibu-ibu dan calon ibu d

melaluiLKC.OR.ID :: Berita & Kegiatan.