Beberapa waktu lalu di pengadilan Tangerang, janda-janda pahlawan meratap, karena mereka dipidanakan karena tidak mau pindah dari rumah yang sudah ditempatinya berpuluh-puluh tahun, bahkan sejak suami mereka masih hidup dan dielu-elukan sebagai pahlawan bangsa.

Dan baru kemarin, kita menyaksikan Satpol PP berupaya menggusur masyarakat China Benteng yang hidup turun temurun di sana dan hari ini kita lihat pertempuran Satpol PP dengan masyarakat pembela sejarah Islam di Priok, saat upaya eksekusi di Kuburan Mbah Priok.

Dari tiga kasus ini, terlihat egoisme pemerintah sebagai penguasa menghadapi rakyat yang mempertahan diri mereka. Janda pahlawan, China Benteng dan Kuburan Mbah Priok adalah sejarah yang tidak bisa dihilangkan dari negeri ini.

Padahal tanpa sejarah yang terukir itu, kita sekarang tidak bisa apa-apa. Termasuk satpol PP, Gubernur dan Walikota belum tentu bisa akan menikmati kursi empuknya sekarang, jika tidak berlangsung sejarah yang terukir dengan darah, pengorbanan dan kehilangan nyawa pada masa dahulunya.

Ternjadinya bentrokan berdarah dengan Satpol PP yang bertahan dengan secarik kertas SK Eksekusi yang dijadikan dewa seakan kertas itu isi sebuah kitab suci yang harus dipatuhi. Mereka mungkin lebih patuh dengan SK itu sendiri ketimbang Kitab suci yang mereka yakini.

Sudahkah kita kehilangan nurani, dengan segala aksi yang tersiar di TV. Haruskah semuanya diselesaikan dengan represif?

Tulisan ini juga dimuat di Politikana