Duh, Cinta 2

Resah yang melanda bak air bah telah menggoncangkan seluruh rasa dan asa ini. Karena soal rasa yang kembali bersemi setelah sekian lama koma di hati.

Tapi setelah aku renungkan, itu sangat manusiawi sekali, karena dulu rasa ini tidak kesampaian, dulu tak berani untuk mengungkapkan karena dirimu terlalu anggun di mataku.

Aku takut merusak keanggunan itu, biarlah ia menjadi permata dalam kalbu. Ia jadi penopang kala berdiri, ia menjadi payung di kala hujan. Ia menjadi hiasan loteng nirwana di kala mata mau dilelapkan.

Dulu, aku hanya adalah seekor kumbang yang mampu hanya mengelilingi sang bunga. Jika kupaksakan hinggap aku takut merusak keindahannya. Tapi sekarang, lain cerita. Ketika ketemu lagi aku jadi gelap mata dan buta hati. Aku akan ungkapkan semua, karena aku merasa kaki sudah merasa kokoh untuk berdiri, dan aku sudah merasakan pahitnya dendam karena tidak memperjuangkan rasa itu hingga kini.

Jadi, wahai sang bunga, inilah rasaku, inilah kepahitan yang kusimpan selama ini. Dan inilah deritaku. Biarkan aku hinggap di kelopakmu. Kan kujaga keindahanmu hingga pelupuk mata ini menutup. Jangan risau dan enggan, kalau aku ada waktu aku akan mampir langsung ke tamanmu, biar kunikmati langsung keindahanmu dan kuhirup segala aroma di sekitarmu * cielaaaah.

Inilah aku sang bunga dan ini pula keluargaku. Kulihatkan semua album yang aku punya, biar dirimu lebih kenal diriku (haaa semakin lebar ceritanya). Tapi tak sampai di sini, aku juga akan beli berbagai nomor selular untuk bisa menghubungimu (nyari diskon pulsa maksudnya). Aku akan bertahan berjam-jam untuk bercerita tentang pelangi, mentari pagi dan taman indah. (prikitiw).

Okelah kalau begitu, Aku jadi pemaksa dan menjadi pecinta yang bengis. Dengan caraku aku ternyata egois, hanya karena sekelumit derita karena dendam cinta ini aku mengabaikan kondisi dirimu yang tengah bahagia dengan suami dan anak-anakmu. Bahkan kutahu bahwa dirimu sebenarnya sedang mendapat cobaan dari Yang Kuasa, meski kutahu dirimu sangat tabah melaluinya.

Aku seharusnya tidak demikian, aku harusnya menjadi seorang sahabat saja bahkan menjadi saudaramu yang ikut membantu dan membimbingmu hingga nanti. Semuanya seharusnya aku jalani dengan ikhlas karena Allah, bukan karena egois cintaku. Cinta sesungguhnya bukan lagi milikku tapi sudah milik suami dan anak-anakmu. Aku pun juga tidak seharusnya membagi atau memaksakan cinta yang seharusnya milik isteri dan anak-anakku dan kuserahkan kepadamu, meski cintaku lebih dahulu tersandung kepada dirimu.

Kalau pun aku paksakan, aku akan menjadi orang yang kejam di dunia, aku akan menjadi hantu di setiap kali kau mengingatku. Aku bukannya memberikan kebahagiaan pada dirimu, tapi malah penderitaan yang tak terperikan. Begitu naifkah diriku? Haruskah aku lakukan terhadap orang yang aku cintai. Aku seorang laki-laki, aku pasti tahu perasaan suamimu kalau ia mengetahui hal ini.

Untuk itu, terima saja aku sebagai sahabatmu. Aku tidak akan berprilaku aneh karena cinta ini, karena cinta sejati tidak harus memiliki.

Merekalah wahai sang bunga
Kembangkan kelopakmu setiap pagi
Tebarkan aromamu untuk pendamping dan anak-anakmu
Aku cukup bahagia kau berada di taman bahagiamu

Maafkan aku, kalau aku mencoba untuk merusak keindahanmu.

*untuk sang pecinta di kala koma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.