Duh, Cinta !

Kemarin aku nggak bisa tidur, sekarang aku demam. Hmm, betapa menyiksa ni cinta. Bukan main, nasi dimakan rasa sekam, air diminum rasa duri. Orang berisik, kita nggak senang, orang bernyanyi kita nggak nyaman. Duuh, cinta!

Ini sekelumit rasa, dari dunia yang tak dinyana. Tiba-tiba ia menyesakkan dada, menghimpit dan membuat pusing. Padahal lama sudah tak bertemu, tapi pertemuan kembali membuka pintu kenangan lama. Langit yang tadinya gelap seakan terang, meskipun ada segumpal awan hitam tapi tetap dihiasi pelangi. Indahnya pertemuan itu mampu melupakan fakta yang ada.

Puluhan tahun sudah tak jumpa dengannya, termasuk komunikasi apalagi bertatap muka. Internet ini menjadi media bertemu kembali. Dan di sanalah kiranya kisah ini kembali berawal. Yang tadinya, sudah puluhan tahun tersimpan rapi di dalam hati, hanya menghias khayalan ketika sendiri dan mengisi ruang cerita nostalgia, tapi kini mengambang ke permukaan. Ia menari di pelupuk mata, bergoyang di atas awan dan berdansa di detik waktuku.

Wow,aku temukan ia, ketika lagi menutup mulutnya dengan jari di sebuah situs jejaring sosial. Dan.. aku invite untuk menjadi temanku. Alhamdulillah, ia terima. Begitulah awal kembali pertemuan itu.

Tapi, apa iya? Kok rasanya jadi nggak enak nih. Ternyata ia juga punya teman lain di sana dan teman-temannya itu kelihatan akrab sekali dengannya. Aku jadi gusar dan kok jadi kepikiran ya… Entahlah, apa aku cemburu? Saya yakin tidak, tapi nggak enak aja. (berkilah nih?).

Biarlah, untuk rasa nyamanku aku akan tanya langsung ke dianya, siapa sih itu, yang bercerita tentang buliran nostalgia yang mengapung?

Kuharap kau jujur mengatakannya. Sory, aku agak sedikit melo sejak ketemu kamu lagi. Hmm, makin nggak benar nih cerita. Aku nggak peduli, tapi kok nggak bisa melupakan ya. Jadi makin penasaran.

Nanti aja kulanjutkan ya…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.