Mengenal Cinta dari Sang Paman

Hmm, setiap anak manusia tumbuh dan berkembang dibimbing oleh zaman. Begitu juga aku. Ketika aku SMP, masa puberitas mulai menghinggap dan mulai mengenal lawan jenis. Seiring tumbuh bulu di sana-sini, membuat mata pun ‘berbulu’ ketika melihat lawan jenis.

Diriku mulai merasa kesepian di tempat ramai dan menghentakkan diri pada sudut kesunyian. Aku merasa butuh sesuatu, yang pastinya bukan kebutuhan terhadap bulu itu tumbuh di hatiku, melainkan sentuhan kasih dari orang yang lain jenis. Inikah kodrat dan inikah jalan hidup, terus terang waktu itu aku tidak bisa memberikan sebuah konglusi. Apatah lagi mengambil sebuah keputusan. Pokoknya, diri ini terasa beda aja…

Perkembangan itu membuat aku menjadi orang yang berubah dan ingin berubah. Sebagai anak-anak atau remaja, merasa diri menjadi dewasa. Tapi baru sekedar merasa, sejatinya aku tetap menjadi anak yang manja, cengeng dan lemah. Aku menjadi jarang berteman dengan laki-laki ataupun wanita sebayaku yang kunilai mereka sebagai sosok yang genit dan centil. Tapi aku menjadi tersentuh, apabila berteman dengan kawan-kawan yang baik, tidak jahil dan berbahasa yang sopan.

Aku lebih senang bersama kakak-kakak yang berusia di atas aku, karena aku yakin mereka tidak akan menjahiliku. Aku yakin dan merasa nyaman karena dari mereka akan muncul rasa sebagai kakak bila berhadapan dengan aku. Dan itu sebuah pengayoman yang lahir dari kasih sayang.

Dengan teman-teman sebaya, akhirnya aku juga punya kecenderungan berteman dengan para wanita ketimbang laki-laki, yang mungkin ketika itu aku berpikir kaum wanita, tidak sejahil teman-teman laki-lakiku. Meskipun demikian, berteman dengan banyak wanita, bukan berarti dan serta merta aku jadi ikut menjadi wanita pula. Tapi justru sebaliknya, aku merasa jantan di antara mereka, maklum aku menjadi perjaka di sarang perawan. hee 🙂

Terus, bagaiamana dengan kepuberanku? Justru banyak berteman dengan wanita yang sama-sama pubernya dengan aku membuat aku banyak menyerap berbagai tingkah laku, watak dan menyelami apa sebenarnya keinginan sebagai seorang wanita yang sebaya dengan aku waktu itu. Tapi di antara teman-teman wanitaku itu, tidaklah satupun yang mampu memenuhi hasrat dan kebutuhan yang aku tidak tahu persis apa, tapi ia ada dan terasa dari hati yang dalam itu.

Mungkin, karena kami selalu bercanda dan tertawa tidaklah aku merasakan pertemanan itu memenuhi kebutuhan yang mendasar dari hati tadi. Semuanya menjadi biasa saja. Jadilah hati ini tetap merasa haus dan butuh sesuatu, *aach… apakah kebutuhan itu, cinta ya?*.

Sungguh, cinta itu belum kudapatkan, sementara dari keluarga dan kakak-kakakku yang sehari-hari menjadi teman, yang kudapat hanya kasih dan sayang. Mungkin juga iya, cinta terhadap seseorang wanita ketika itu, itu yang belum aku punya alias belum nyambung. *Cielah jadi buka rahasia nih*.

Nah itu dia, sebenarnya aku mau terus terang, cinta bagi seorang anak-anak dan remaja layaknya tidak ada. Karena cinta terhadap lawan jenis adalah komoditi orang-orang dewasa dan orang-orang yang bertanggung jawab. Sejatinya remaja dan anak-anak seusiaku waktu itu, tidak boleh bermain dengan cinta karena sang remaja tidak akan pernah dapat menyimpulkan apa itu cinta.

Aku tahu itu dari pelajaran seorang Pamanku, meski ia tidak bermaksud mengajariku. Tapi aku tahu Cinta itu butuh kedewasaan.

Alkisah dari pelajaran itu, aku mendapati sahabat ya kakakku juga, tergolek dengan uraian air mata yang mengucur membahasahi bumi. Jiwanya begitu meronta dan bathin berteriak sunyi. Ku tahu ia menahan sesak yang tak terperikan dan aku paham di dalam hatinya ada penolakan keras terhadap kenyataan. Cuma yang aku bingung, kenyataan apa yang membuat kakakku seperti itu. Aku hanya mengambil kesimpulan sepihak; Pamanku yang menjadi tambatan hati Sang Kakak harus bertanggungjawab terhadap situasi itu. Ia harus memberikan solusi yang clear, hingga jangan lagi air mata tercurah menyirami bumi. Setidak-tidaknya itu yang ada dalam pikiranku saat itu.

Sungguh, ketika aku dihadapkan pada masalah itu aku merasakan; kakakku yang menangis, hatiku yang terluka. Ia yang bersedih, aku yang merana. Ia yang hancur, aku yang lebur. Kepedihan yang ia rasakan melemaskan seluruh tulang-belulangku. Ingin pula aku meronta dan meminta pada Yang Kuasa, hentikan air mata itu untuk selamanya.

Bila aku jadi pamanku; tak akan kubiarkan air mata itu menetes, tak akan kubiar sedih itu berupa. Tak akan kubiarkan hatinya terluka dan tak akan ada tarian nestapa. Aku akan hambat seluruh kecewa, jangankan menghinggapinya, mendekatpun tak akan ku izinkan. Enyah, kau!

Aku akan hadir dengan kasih, khan ku rangkai semua bunga terindah dan akan ku hadirkan setiap pagi. Akan kurajut harapan indah dengan setiap kebahagian, semuanya untuk sang dewi. Kenapa? Karena cinta itu membutuhkan kedewasaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.