Telaga Biru II *Sebuah Jawaban

Lumut hijau masih melekat pada bebatuan yang membingkai telaga biru. Aku terharu melihat kesetiaannya pada sang batu.

Sobat,  melodi rindu juga tidak pernah berhenti mengalun, laksana angin yang selalu berhembus di sela-sela daun teh nan tertata rapi, bak permadani. Aaah… begitu indahnya…. begitu damainya.

Andaikan hati seindah dan sedamai itu, biarkan kabut berlalu, biarkanlah mentari tersenyum menyinari jalan hidupmu dan hidupku, karena kamulah sahabatku.

*dari GSM-mu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.