Kembar Siam dari Rahim yang Berbeda

Sulit mencari sahabat mendekati sempurna seperti dirimu, yang mampu menghidupkan hari-hari ini. Tak ada duka, tak ada lara, hanya ada bahagia dan gembira. Itu yang ku senang darimu mengesankan saat-saat kita berjumpa.

Pernahkah aku bosan? Tentu tidak, dan tak akan. Mataharimu dengan leluasa memancarkan sinarnya ke hatiku, tanpa halangan awan mendung apapun. Bintangmu begitu bersinar, menerangi dan menghidupkan. Bulanmu menyejukkan malam-malamku. Indahnya mimpi dan cerianya pagi semuanya karenamu.

Jujur, pernah kuberdoa pada Yang Kuasa untuk mendapat pendamping hidup sepertimu. Terkabulkah? Kau tak tergantikan. Allah memberikan yang lain dan mungkin Dia punya maksud yang terbaik buatku. Memilikimu untuk pendamping? Itu juga tidak mungkin, karena kau adalah sahabat, ya tetap sahabat. Dan lagi, aku terlambat datang ke dunia ini. Terlalu jauh jarak Makkah dan Madinah dan takan terkejar olehku meski dengan kereta tercepat di dunia sekalipun.

Terkadang aku berpikir,  dirimu adalah diriku. Kehilanganmu menjadi hilanglah sebagian dari diriku. Kita adalah kembar siam yang keluar dari rahim yang berbeda. Begitu sulit bagiku untuk menanggalkan masa kecil kita bersama. Kau menangis aku yang mengusap air matamu, aku merajuk kau yang menghiburnya. Begitu indah semua yang tak bisa dibayar dengan mahalnya emas permata.

Meski kutahu dalam perjalanan ini, banyak bisik kiri dan bisik kanan, aku tak peduli semua itu. Karena duniaku adalah aku. Dan yang lain? Dia memiliki dunianya sendiri, dan tak ada hak dan perlu mengurusi duniaku.

Di penghujung tahun ini, biarkan waktu berlalu tapi harapan tetap terbangun, tak ada harapan dan minta dariku, kecuali; tetaplah menjadi kembaranku, dua badan satu hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.