Kakimu Patah, Hatiku yang Menjerit

Sore itu pemutaran film kesukaanku harus kuhentikan sejenak. Bimbitku berdering, sebuah panggilan datang dari sebuah nomor yang mistery. Ketika ku hendak mengangkatnya, ternyata panggilan itu berakhir.  Kemudian aku coba untuk mengontak balik dan menunggu beberapa seken, tak ada yang menjawab. Bimbitku kembali ku taruh di samping laptopku. Baru saja ia melata, bimbit itu sudah kembali berdering, kali ini panggilan pesan singkat. Setelah ku baca dan ku resapi, terbilang ragu dalam pikiranku, pesannya dengan kode rahasia. Jiaah!

Aku masih penasaran dan mengontak kembali, dan kali ini ada jawaban dengan tertawa ngakak dari balik sana.  Hai haai, ternyata dia yang sejak tahun 1990 tenggelam dan membuat  aku  kehilangan. Sudah berjuta belantara maya ku arungi dan kucari dia, tak satupun tempat berteduh yang ditempatinya. Semua nomor gsm yang ku pegang, juga tidak memberikan jawaban dari kehilanganku.

Dia yang pernah mengisi hati ini, menciptakan pelangi yang indah di jalan hidupku. Ia yang menghembuskan angin harapan dengan belaian sang bayu yang menyejukan. Ia menjadi nafas disela sengalku. Hati ini yang gersang menjadi gembur karena hujan kasih sayangnya. Betapa ia menjadi berarti dan menjadi inspirasi dalam karya kenangan. Ia pergi dan lama kembali, barulah di sore itu, ketika aku mencoba menghibur diri dengan melihat beberapa scene dari sebuah movie, dia datang.

Aku yakin dia tersenyum ketika itu dan jauh lebih dalam senyuman itu menusuk pada hati ini. Movie yang tadinya menemaniku menjadi tidak berarti, shut off sudah. Kini asaku melayang jauh ke mana ia memancarkan bimbitnya.

Panjang cerita yang terpaparkan, sampai pada khabar ia tertabrak sebuah kereta jepang yang membuat kakinya patah dan harus di rawat di rumah sakit. Menjerit hati ini mendengarnya, membuat aku terdiam dan mengundang cemenku. Kenapa harus kabar buruk yang kudengar dari sebuah kehilangan panjang yang kurasakan. Byuaaar!

Tapi itu adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat ditolak, belum habis cobaan itu. Kakinya masih dalam perawatan lagi-lagi cobaan menjelang, gempa Sumatera Barat yang meluluhlantakan Kota Padang, dan itu juga menimpanya. Syukur saja secara fisik tidak memberikan penderitaan tambahan. Tapi suasana Padang yang luluh lantak membuai perasaannya dan menambah ketidakmengertian tentang apa yang sebenarnya berlaku.

Kepanikan menghinggapi semua orang, dan ia pun tidak terlepas dari jeratan ketakutan hingga berlari ke sana dan ke mari untuk mencari anggota keluarga yang belum terkumpul. Tangisan anak-anak begitu pilu, yang akhirnya menatap mereka membawa pada ujung pasrah pada Yang Kuasa. Kemana orang menyelamatkan diri, kesitu jua kaki dilangkahkan. Allah Yang Maha Pelindung di balik Padang yang mencekam dan cuaca yang tidak bersahabat. Allah memeluknya dengan keselamatan yang mengantarnya dengan sabar hingga sekarang.

Ketika gempa itu terjadi, aku sempat mencoba kembali nomor-nomor GSM yang aku simpan. Tapi tidak ada satu pun yang tersambung, karena memang nomor itu sudah lama tidak aktif.  Kalau pun aktif, itu hanya sekedar mengobati rasa penasaranku dari ketidakberdayanya aku untuk mencari informasi tentangnya di Padang sana. Apalagi  saat gempa itu terjadi. komunikasi dan listrik terputus di kota Padang.

Sungguh miris aku mendengar kabar ini, membuat hati ini menjerit keras, sejenak aku merasa lunglai dan menarik nafas panjang untuk kembali menyusun jiwa yang berserakan. Akhirnya akupun siap dengan semua kenyataan ini, karena di samping kabar duka yang ku dengar masih banyak kabar gembira yang terdendangkan. Bahwa semuanya, sudah baik-baik saja, kaki yang patah sudah sembuh, kuliah terbengkalai sudah hampir sampai di ujung, ia juga sudah menjadi pegawai negeri sipil dan berbagai kabar baik lainnya.

Sungguh terobati hati ini dengan semua duka yang terlewatkan dari tahun 1990 itu. Terutama ketika sore itu, aku kembali melihat pelangi yang penuh warna-warni yang  menghidupkan senyumanku. Hati ini kembali senang mendengarkan kabar kau kembali. Aku tak mau kehilangan lagi, kan ku tatap pelangi itu hingga matahari terbenam dan sampai malam menengglamkannya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.