Beberapa hari ini kami disibukkan untuk menghitung koin yang masuk dari berbagai daerah, koin itu sebuah persembahan dari berbagai lapisan mulai yang kaya hingga yang miskin, begitu juga pejabat dan para pemulung, mereka semua menunjukkan kepedulian dan keperihatinan terhadap nasib yang melanda Prita Mulyasari, seorang ibu yang mengeluhkan pelayanan buruk sebuah rumah sakit lewat email dan dikirim ke teman-temannya. Dari temannya email ini merebak luas ke seantero alam maya.

Pejabat Rumah sakit itu murka dan membawa Prita ke pengadilan dengan tuntutan pidana dan perdata. Tuntutan pidana sampai saat ini masih disidangkan di PN Tangerang. Sementara kasus perdata mewajibkan Prita Mulyasari membayar ganti rugi sebesar Rp204 juta. Hal inilah yang mengundang perhatian dan kepedulian dari semua lapisan.

Suatu hal yang nggak masuk akal, orang mengeluhkan pelayanan malah dihukum, dikatakan mencemarkan nama baik. Ini sebuah bukti bahwa hukum berpihak pada orang yang berkuasa bukan pada rakyat kecil. Negara ini gagal melindungi rakyatnya. Bukannya rumah sakit itu yang diberikan sangsi, tapi negara dengan diam membiarkan rakyatnya menanggung akibat. Berbeda dengan hukum di barat sana, terkada anjing hilang saja menjadi perhatian aparat negara dan sibuklah team pemadam kebakaran dan SAR mencarinya.

Prita, seorang ibu yang tengah menyusui harus mendekam di penjara 21 hari, gara-gara permainan hukum ini, nggak tahu berapa lama pula ia akan dijerat kalau pengadilan pidananya diputuskan. Di sisi lain, begitu juga, nasib Minah, seorang perempuan tua di Jawa sana, hanya gara mengambil sebuah coklat yang harganya tidak lebih Rp10.000 milik sebuah kebun PT juga harus dipenjarakan. Inilah situasi rakyat Indonesia di mata hukum.

Rakyat kecil biasa menjadi korban, sementara penjahat kelas kakap yang maling dana talangan untuk Bank Century dibiarkan bebas lepas, seakan mendapat perlindungan negara. Padahal yang dicurinya adalah uang -pajak- rakyat. Ironi…

Tapi biarlah negara tak peduli, tapi rakyat sesama rakyat sangat peduli, terbukti untuk meringankan beban Prita rakyat sepakat mengirim receh untuk membayar denda kepada rumah sakit yang sudah ‘merecehkan’ hukum. Receh koin itu dikirim ke Posko di Jl. Langsat I No.3A Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Rumah Blogger Indonesia, Dagdigdug.com. Dua hari penghitungan, koin sudah mendekati angka Rp500 juta, dengan berbagai kalangan relawan yang datang membantu menghitung.

Selain koin terselip juga uang receh dengan berbagai mata uang negara selain Indonesia. Uang kertas yang baru terhitung berkisar mendekati Rp20 juta. Kepedulian yang luar biasa, sampai tulisan ini diturunkan, masih ada koin yang dikirim dari daerah yang belum sampai ke posko (dalam perjalanan pengantaran).

Kasak-kusuk pengumpulan Koin ini ternyata menggetarkan mental pihak rumah sakit yang merasa dirinya bernama baik itu, hingga mencabut dendanya kepada Prita. Tapi Prita dan rakyat tidak peduli, kesewenangan akan dibayar dengan kekuasaan rakyat, bersatu.

Prita sendiri berterimakasih pada semua rakyat yang peduli, kalau pun denda itu dicabut, yakinlah uang yang sudah disumbangkan akan dipergunakan untuk kebaikan rakyat. Ini adalah pendidikan bagi negara. Jangan lagi menyiksa rakyat.