Telaga Biru II *Sebuah Jawaban

Lumut hijau masih melekat pada bebatuan yang membingkai telaga biru. Aku terharu melihat kesetiaannya pada sang batu.

Sobat,  melodi rindu juga tidak pernah berhenti mengalun, laksana angin yang selalu berhembus di sela-sela daun teh nan tertata rapi, bak permadani. Aaah… begitu indahnya…. begitu damainya.

Andaikan hati seindah dan sedamai itu, biarkan kabut berlalu, biarkanlah mentari tersenyum menyinari jalan hidupmu dan hidupku, karena kamulah sahabatku.

*dari GSM-mu

Kembar Siam dari Rahim yang Berbeda

Sulit mencari sahabat mendekati sempurna seperti dirimu, yang mampu menghidupkan hari-hari ini. Tak ada duka, tak ada lara, hanya ada bahagia dan gembira. Itu yang ku senang darimu mengesankan saat-saat kita berjumpa.

Pernahkah aku bosan? Tentu tidak, dan tak akan. Mataharimu dengan leluasa memancarkan sinarnya ke hatiku, tanpa halangan awan mendung apapun. Bintangmu begitu bersinar, menerangi dan menghidupkan. Bulanmu menyejukkan malam-malamku. Indahnya mimpi dan cerianya pagi semuanya karenamu.

Jujur, pernah kuberdoa pada Yang Kuasa untuk mendapat pendamping hidup sepertimu. Terkabulkah? Kau tak tergantikan. Allah memberikan yang lain dan mungkin Dia punya maksud yang terbaik buatku. Memilikimu untuk pendamping? Itu juga tidak mungkin, karena kau adalah sahabat, ya tetap sahabat. Dan lagi, aku terlambat datang ke dunia ini. Terlalu jauh jarak Makkah dan Madinah dan takan terkejar olehku meski dengan kereta tercepat di dunia sekalipun.

Terkadang aku berpikir,  dirimu adalah diriku. Kehilanganmu menjadi hilanglah sebagian dari diriku. Kita adalah kembar siam yang keluar dari rahim yang berbeda. Begitu sulit bagiku untuk menanggalkan masa kecil kita bersama. Kau menangis aku yang mengusap air matamu, aku merajuk kau yang menghiburnya. Begitu indah semua yang tak bisa dibayar dengan mahalnya emas permata.

Meski kutahu dalam perjalanan ini, banyak bisik kiri dan bisik kanan, aku tak peduli semua itu. Karena duniaku adalah aku. Dan yang lain? Dia memiliki dunianya sendiri, dan tak ada hak dan perlu mengurusi duniaku.

Di penghujung tahun ini, biarkan waktu berlalu tapi harapan tetap terbangun, tak ada harapan dan minta dariku, kecuali; tetaplah menjadi kembaranku, dua badan satu hati.

Telaga Biru *Sebuah Jawaban

Telaga Biru mengundangku di akhir bulan yang lalu, hatiku terenyuh ketika itu, teringat sahabat yang hilang entah di mana, mungkin ditelan waktu.

Berkaca aku pada beningnya air telaga itu, tentu dan jelas ada yang berubah pada diriku Namun tidaklah Telaga Biru itu adanya, Air telaga tetaplah bening sebening hatiku, Juga selalu jernih sejernih anganku.

Sobat, 20 tahun kini telah berlalu, berjuta jalan berliku sudah kutempuh, Kuraih cita dengan hati sungguh, Walau kadang hati luluh dan rapuh

Sobat, sekian lama kita berpisah dan tak pernah berjumpa akhirnya di dunia maya kita cerita.

Sobat, walau kakiku telah cidera, tetapi aku tak boleh putus asa. Ku yakin akan kebesaran-Nya dan kasih sayang-Nya. Biarkan aku tetap melangkah dengan sejuta asa dan doa, karena kuyakin akan anugerah dari-Nya. Amin Allahumma Amin.

Sobat, …. engkau tetap sobatku.

Kakimu Patah, Hatiku yang Menjerit

Sore itu pemutaran film kesukaanku harus kuhentikan sejenak. Bimbitku berdering, sebuah panggilan datang dari sebuah nomor yang mistery. Ketika ku hendak mengangkatnya, ternyata panggilan itu berakhir.  Kemudian aku coba untuk mengontak balik dan menunggu beberapa seken, tak ada yang menjawab. Bimbitku kembali ku taruh di samping laptopku. Baru saja ia melata, bimbit itu sudah kembali berdering, kali ini panggilan pesan singkat. Setelah ku baca dan ku resapi, terbilang ragu dalam pikiranku, pesannya dengan kode rahasia. Jiaah!

Aku masih penasaran dan mengontak kembali, dan kali ini ada jawaban dengan tertawa ngakak dari balik sana.  Hai haai, ternyata dia yang sejak tahun 1990 tenggelam dan membuat  aku  kehilangan. Sudah berjuta belantara maya ku arungi dan kucari dia, tak satupun tempat berteduh yang ditempatinya. Semua nomor gsm yang ku pegang, juga tidak memberikan jawaban dari kehilanganku.

Dia yang pernah mengisi hati ini, menciptakan pelangi yang indah di jalan hidupku. Ia yang menghembuskan angin harapan dengan belaian sang bayu yang menyejukan. Ia menjadi nafas disela sengalku. Hati ini yang gersang menjadi gembur karena hujan kasih sayangnya. Betapa ia menjadi berarti dan menjadi inspirasi dalam karya kenangan. Ia pergi dan lama kembali, barulah di sore itu, ketika aku mencoba menghibur diri dengan melihat beberapa scene dari sebuah movie, dia datang.

Aku yakin dia tersenyum ketika itu dan jauh lebih dalam senyuman itu menusuk pada hati ini. Movie yang tadinya menemaniku menjadi tidak berarti, shut off sudah. Kini asaku melayang jauh ke mana ia memancarkan bimbitnya.

Panjang cerita yang terpaparkan, sampai pada khabar ia tertabrak sebuah kereta jepang yang membuat kakinya patah dan harus di rawat di rumah sakit. Menjerit hati ini mendengarnya, membuat aku terdiam dan mengundang cemenku. Kenapa harus kabar buruk yang kudengar dari sebuah kehilangan panjang yang kurasakan. Byuaaar!

Tapi itu adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat ditolak, belum habis cobaan itu. Kakinya masih dalam perawatan lagi-lagi cobaan menjelang, gempa Sumatera Barat yang meluluhlantakan Kota Padang, dan itu juga menimpanya. Syukur saja secara fisik tidak memberikan penderitaan tambahan. Tapi suasana Padang yang luluh lantak membuai perasaannya dan menambah ketidakmengertian tentang apa yang sebenarnya berlaku.

Kepanikan menghinggapi semua orang, dan ia pun tidak terlepas dari jeratan ketakutan hingga berlari ke sana dan ke mari untuk mencari anggota keluarga yang belum terkumpul. Tangisan anak-anak begitu pilu, yang akhirnya menatap mereka membawa pada ujung pasrah pada Yang Kuasa. Kemana orang menyelamatkan diri, kesitu jua kaki dilangkahkan. Allah Yang Maha Pelindung di balik Padang yang mencekam dan cuaca yang tidak bersahabat. Allah memeluknya dengan keselamatan yang mengantarnya dengan sabar hingga sekarang.

Ketika gempa itu terjadi, aku sempat mencoba kembali nomor-nomor GSM yang aku simpan. Tapi tidak ada satu pun yang tersambung, karena memang nomor itu sudah lama tidak aktif.  Kalau pun aktif, itu hanya sekedar mengobati rasa penasaranku dari ketidakberdayanya aku untuk mencari informasi tentangnya di Padang sana. Apalagi  saat gempa itu terjadi. komunikasi dan listrik terputus di kota Padang.

Sungguh miris aku mendengar kabar ini, membuat hati ini menjerit keras, sejenak aku merasa lunglai dan menarik nafas panjang untuk kembali menyusun jiwa yang berserakan. Akhirnya akupun siap dengan semua kenyataan ini, karena di samping kabar duka yang ku dengar masih banyak kabar gembira yang terdendangkan. Bahwa semuanya, sudah baik-baik saja, kaki yang patah sudah sembuh, kuliah terbengkalai sudah hampir sampai di ujung, ia juga sudah menjadi pegawai negeri sipil dan berbagai kabar baik lainnya.

Sungguh terobati hati ini dengan semua duka yang terlewatkan dari tahun 1990 itu. Terutama ketika sore itu, aku kembali melihat pelangi yang penuh warna-warni yang  menghidupkan senyumanku. Hati ini kembali senang mendengarkan kabar kau kembali. Aku tak mau kehilangan lagi, kan ku tatap pelangi itu hingga matahari terbenam dan sampai malam menengglamkannya. 🙂

Cerita tentang Koin

Beberapa hari ini kami disibukkan untuk menghitung koin yang masuk dari berbagai daerah, koin itu sebuah persembahan dari berbagai lapisan mulai yang kaya hingga yang miskin, begitu juga pejabat dan para pemulung, mereka semua menunjukkan kepedulian dan keperihatinan terhadap nasib yang melanda Prita Mulyasari, seorang ibu yang mengeluhkan pelayanan buruk sebuah rumah sakit lewat email dan dikirim ke teman-temannya. Dari temannya email ini merebak luas ke seantero alam maya.

Pejabat Rumah sakit itu murka dan membawa Prita ke pengadilan dengan tuntutan pidana dan perdata. Tuntutan pidana sampai saat ini masih disidangkan di PN Tangerang. Sementara kasus perdata mewajibkan Prita Mulyasari membayar ganti rugi sebesar Rp204 juta. Hal inilah yang mengundang perhatian dan kepedulian dari semua lapisan.
Continue reading “Cerita tentang Koin”

Koin untuk Keadilan: Free Prita

koinuntukprita

Banyak yang miris dengan nasib Prita, karena ia menjadi lambang dari ‘kesewenangan’ yang telah terjadi terhadap orang kecil yang kebetulan menyampaikan keluhannya melalui email kepada teman-temannya.

Atas segala tuntutan hukum yang ditimpakan kepadanya atas usaha menyampaikan aspirasi atas buruknya pelayanan sebuah rumah sakit yang menimpanya. Hanya dengan maksud berbagi, agar yang lain tak mengalami hal yang sama, yang menurut Prita adalah merugikan.

Kini, ia menanggung sebuah dera, dari kekuasaan yang tiada tara. Kini Ia–Bu Prita– dituntut dengan denda, prihatin dan menyedihkan.  Ini membuat kita semua para blogger tergerak untuk bicara dengan Koin kita akan membayar denda sebesar Rp204 juta. Dengan koin kita bayar semua. Ayo siapa lagi. Kumpulkan koin anda!