Kejujuran Tertunda Terkadang Menyakitkan

Mencari waktu untuk jujur memang membuat resah. Setiap detik, jam dan hari membayangi hati seperti hantu yang menakutkan. Hati nurani berbicara jangan berbohong, jujur sajalah! Tapi terkadang itu menjadi berat. Karena di sisi lain ternyata ada sebuah ketakutan untuk dibenci, dimarahi, ditinggalkan, disisihkan dan diabaikan.

Ketakutan itu ternyata lebih menghantui dari kebohongan itu sendiri, membuat kita tidak mau mengungkapkan semuanya yang terjadi dan tersimpan rapi. Terkadang kejujuran itu juga menjadi tidak penting ketika dampaknya justru lebih buruk untuk ke depannya, ini , mungkin, hanya sebuah anggapan yang egois.

Namun, siapa yang dapat melawan nurani? Hari demi hari kebohongan yang tersimpan, ia menggerogoti dari dalam, bak api dalam sekam yang diam-diam menghanguskan.  Terlalu lama menyimpan kebohongan terlalu lama diri sendiri terbakar. Dan ketika kejujuran itu diungkapkan maka saat itu musnahlah semua. Inilah sebuah risiko dari kejujuran tertunda.

Lalu kejujuran dari awal? Ia pun terkadang memiliki risiko, meski dampaknya tidak akan sebesar dari risiko kejujuran yang ditunda-tunda.  Tapi mungkinkah ada yang akan jujur dari awal bahwa kasus KPK VS Polisi yang menghangat itu rekayasa? Ini hanya sebuah misal dan masih banyak lagi kebohongan yang tersimpan di hati yang menakutkan kalau itu diungkapkan.

Artinya berbuat jujur dan bohong memang tergantung pada konteks kepada siapa dan dalam kondisi bagaimana. Tapi bagi yang mempunyai nurani, tentulah kebohongan yang dilakukan bukanlah untuk menyakitkan. Meski disadari ketika semuanya terungkap, maka ia justru menyakitkan dan membuat serba tidak mengerti. Ia akan penuh tanda tanya, kenapa begini, kenapa begitu, kok bisa, kok tega dan sebagainya.

Seharusnya ketika kejujuran itu terjadi, harus diterima dengan lapang dada, meski itu mengagetkan, menyakitkan,  menyedihkan dan memerihkan. Mohon lihat dari sisi postifnya, karena dengan ungkapan yang jujur tersimpan niat baik untuk tidak membohongi, tidak melukai dan tidak menyakiti.

Terkadang hidayah itu datang terlambat, ketika nurani sudah meronta dan terbakar karena siksaan rahasia,  mulai ia merasa tidak baik untuk memelihara kebohongan, kemudian  Nur kebenaran dari Tuhan mengalir menghunjam sukma dan meledak dalam bentuk kejujuran.

Haruskah kejujuran tertunda menjadi petaka? Selayaknya tidak dan jangan.  Mungkin itu menyakitkan orang lain, tapi ternyata diri sendiri lebih sakit dari orang yang dibohongi. Bukalah sedikit selaksa di hati untuk menerima kejujuran dari seseorang. Mungkin belum bisa menerima, tapi mulailah dengan membukakan pintu maaf. Mungkin hari ini sebesar lubang semut, esoknya sebesar kawah gunung hingga seluas laut yang tak bertepi.

Dan akan lebih indah lagi, pintu maaf itu diterima dengan ketulusan dan keikhlasan karena Allah. Karena Ia-lah Tuhan yang telah memberi petunjuk dan mendesak hati seseorang itu untuk jujur meski itu terlambat. Karena Allah sendiri Maha Pengampun dari segala dosa hambanya yang mau bertobat.

Sumpah, ini jujur. Penyesalan akan datang kemudian, tapi sekali lagi lihatlah dari sisi baiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.