Bolehkah Aku Hari ini Bicara Cinta

Siapa yang memuja dan siapa yang mendewa, ia hanya manusia biasa. Ia sedang terluka dengan segenap lingkupan perkara. Simaklah ia berbicara, mengurai data demi data, mengolah fakta demi fakta.

Bolehkah ku bicara dengan waktu, begitu konsisten ia mengalir dan tidak berhenti meninggalkan masa. Ia membawaku berjalan, mengurai makna demi makna, hingga tak lepas pegangan ini meski hanya berbekal rasa.

Ia terpatri dengan rapi, dibalut sutra nan suci. Tak seorang pun tahu ia ada, hanya semilir nafas yang menguping, itu pun ketika ia berdiri menyamping.

Bolehkah aku berbicara dengan udara, ia selalu membawaku bergerak mengisi ruang hampa. Memenuhi segala ketiadaan dalam segala kegamangan. Ia yang meneruskan usia, ia pula yang membawa segala berita dari setiap langkah yang digerakkan, dari setiap masa yang ditinggalkan.

Bolehkah aku berbicara dengan air, ia  membawaku dari hulu mengalir. Bergerak dan terus melaju menggapai kawasan yang dituju. Dari segala hambatan yang dihadapi ia tetap tabah melalui. Kalau tak dapat menembus dengan energi, ia menggenang sampai tak terhalang lagi.

Ia yang mengajarkanku ketabahan, keuletan dan fokus pada tujuan. Walau menghempas ke terjalnya jurang, membanting ke dasar bebatuan. Ia tetap membawaku ke muara.

Bolehkan pula aku hari ini  berbicara dengan cinta, yang telah dipangku oleh waktu, yang diisi oleh udara dan dibasahi oleh air, apakah ia akan jadi percuma karena api yang membuatku binasa, membakar hangus tampa sisa,  kini jadi debu untuk berkawin dengan sang tanah.

Kejujuran Tertunda Terkadang Menyakitkan

Mencari waktu untuk jujur memang membuat resah. Setiap detik, jam dan hari membayangi hati seperti hantu yang menakutkan. Hati nurani berbicara jangan berbohong, jujur sajalah! Tapi terkadang itu menjadi berat. Karena di sisi lain ternyata ada sebuah ketakutan untuk dibenci, dimarahi, ditinggalkan, disisihkan dan diabaikan.

Ketakutan itu ternyata lebih menghantui dari kebohongan itu sendiri, membuat kita tidak mau mengungkapkan semuanya yang terjadi dan tersimpan rapi. Terkadang kejujuran itu juga menjadi tidak penting ketika dampaknya justru lebih buruk untuk ke depannya, ini , mungkin, hanya sebuah anggapan yang egois.

Namun, siapa yang dapat melawan nurani? Hari demi hari kebohongan yang tersimpan, ia menggerogoti dari dalam, bak api dalam sekam yang diam-diam menghanguskan.  Terlalu lama menyimpan kebohongan terlalu lama diri sendiri terbakar. Dan ketika kejujuran itu diungkapkan maka saat itu musnahlah semua. Inilah sebuah risiko dari kejujuran tertunda.

Lalu kejujuran dari awal? Ia pun terkadang memiliki risiko, meski dampaknya tidak akan sebesar dari risiko kejujuran yang ditunda-tunda.  Tapi mungkinkah ada yang akan jujur dari awal bahwa kasus KPK VS Polisi yang menghangat itu rekayasa? Ini hanya sebuah misal dan masih banyak lagi kebohongan yang tersimpan di hati yang menakutkan kalau itu diungkapkan.

Artinya berbuat jujur dan bohong memang tergantung pada konteks kepada siapa dan dalam kondisi bagaimana. Tapi bagi yang mempunyai nurani, tentulah kebohongan yang dilakukan bukanlah untuk menyakitkan. Meski disadari ketika semuanya terungkap, maka ia justru menyakitkan dan membuat serba tidak mengerti. Ia akan penuh tanda tanya, kenapa begini, kenapa begitu, kok bisa, kok tega dan sebagainya.

Seharusnya ketika kejujuran itu terjadi, harus diterima dengan lapang dada, meski itu mengagetkan, menyakitkan,  menyedihkan dan memerihkan. Mohon lihat dari sisi postifnya, karena dengan ungkapan yang jujur tersimpan niat baik untuk tidak membohongi, tidak melukai dan tidak menyakiti.

Terkadang hidayah itu datang terlambat, ketika nurani sudah meronta dan terbakar karena siksaan rahasia,  mulai ia merasa tidak baik untuk memelihara kebohongan, kemudian  Nur kebenaran dari Tuhan mengalir menghunjam sukma dan meledak dalam bentuk kejujuran.

Haruskah kejujuran tertunda menjadi petaka? Selayaknya tidak dan jangan.  Mungkin itu menyakitkan orang lain, tapi ternyata diri sendiri lebih sakit dari orang yang dibohongi. Bukalah sedikit selaksa di hati untuk menerima kejujuran dari seseorang. Mungkin belum bisa menerima, tapi mulailah dengan membukakan pintu maaf. Mungkin hari ini sebesar lubang semut, esoknya sebesar kawah gunung hingga seluas laut yang tak bertepi.

Dan akan lebih indah lagi, pintu maaf itu diterima dengan ketulusan dan keikhlasan karena Allah. Karena Ia-lah Tuhan yang telah memberi petunjuk dan mendesak hati seseorang itu untuk jujur meski itu terlambat. Karena Allah sendiri Maha Pengampun dari segala dosa hambanya yang mau bertobat.

Sumpah, ini jujur. Penyesalan akan datang kemudian, tapi sekali lagi lihatlah dari sisi baiknya.

Terkadang Hidup Ini Terasa Pahit

Bagaikan meminum pil, memang hidup ini terasa pahit. Tapi kalau ditelan dengan keihklasan tentulah pahit itu menyehatkan. Betapa banyak orang hanya melihat pahitnya saja, tanpa memandang manfaat sebaliknya.

Kepahitan hidup anggaplah sebuah kerikil didalam sepatu. Boleh ia dipandang sebagai sesuatu yang kecil tapi mengganggu perjalanan. Sebagai orang yang bijak, tentu kerikil itu segera di buang jauh-jauh agar tidak lagi menjadi ganjalan.

Suatu kisah mengandung banyak hikmah. Ia terbangun dengan sebuah ritme yang kadang bergelombang sesuai tekanan frekwensi dari dalam diri atau dari luar. Kisah-kisah disekeliling kita yang sekaligus bergesekan dengan kita, akan membentuk ritme kehidupan kita juga. Lama-lama ia akan menjadi sejarah.

Sejarah tentunya tinggal di belakang, kita hanya bisa mengenang dan mengambil hikmah dari setiap tahapan-tahapan dari sejarah yang kita gores. Tentunya goresan itu tidak menjadi penghalang kita untuk terus maju ke depan. Kita akan tetap melaju dengan jalan yang tersedia dengan berbagai cara dan berbagai kemampuan dan kesempatan yang dimiliki.

Suatu hal yang pantas kita syukuri adalah kita memiliki masalalu, karena dengannya kita dapat mengambil pelajaran demi pelajaran untuk menjadikan kita orang yang terbaik di masa datang. Kekurangan yang pernah mengisi hidup kita menjadi sebuah kekuatan di masa sekarang untuk mencapaikan kita menjadi manusia yang mendekati sempurna di tahapan berikutnya.

Tentunya kehidupan ini tidak dapat berjalan sendiri. Suatu hal yang tidak terlepas dari semuanya adalah spirit Tuhan yang ada dalam hati kita. Bukankah Ia yang mengariskan jalan hidup ini untuk kita, hanya dengan sebuah pesan untuk kita berdoalah dan berusahalah agar jalan yang kita tempu menggapai kesuksesan.

Jadi, berpegang teguh dengan kekuatan yang Tuhan punya menjadi mutlak ketika kita ingin diberikan pertolongan dan kekuatan dalam hidup ini. Sebuah tawaran yang tidak boleh kita tolak, karena tidak akan ada pertolongan bagi orang-orang yang menjauhkan dirinya dengan Tuhan.

Selain itu menjalin silaturahmi dan persahabatan jangan dilupakan pula, karena bisa saja pertolongan dan bantuan Tuhan itu datang dari sekeliling kita. Karena dengan berbagai skenario Tuhan tidak langsung memberikan pertolongannya melalui kita. Tapi ketika menjadi orang baik terhadap sesama di sana diselipkan Tuhan setetes kasih sayangnya yang melepaskan kita dari dahaga dan kepahitan hidup ini.

Semoga bermanfaat bagi diriku dan bagi orang-orang yang ikhlas bersamaku!