Mudik memang unik, bukan kewajiban tapi sudah menjadi sebuah kebiasaan. Tentunya kebiasaan yang baik, berbulan bahkan bertahun di rantau, saat mudik tiba di masa lebaran menjadi sebuah kesempatan yang membahagiakan bagi siperantau untuk bertemu sanak keluarga di kampung halaman.

Mudik pun digunakan untuk bersimpuh dikaki orang tua sekali musim raya mohon doa restu dan mohon doa keselamatan untuk berjuang mengais rejeki di rantau orang. Semuanya perantau menjadi rindu untuk mudik. Tak ketinggalan aku ini juga merasakan yang sama.

Lebaran kali ini, belum ada bayangan yang membuat aku mungkin dapat mudik dan bersimpuh di kaki bunda dan bapanda. Bukan karena apa-apa, karena keadaan yang mungkin memaksa. Ongkos yang mulai menaik dan perjuangan keras sebelum lebaran ini membuat itu semua menjadi kabur adanya.

Mungkin mudik dengan selular dan internet dapat dilakukan kapan saja, tapi untuk mudik bertemu fisik menjadi perasaan yang mengusik juga. Sangat berarti dan sangat diharapkan. Ya sudahlah, Bunda dan Bapanda serta saudaraku semua, mohon maaf kalau Allah belum izinkan aku mudik lebaran kali ini.

Bayangan masih tetap menjadi bayang-bayang dan angan-angan. Tapi aku tidak tahu rahasia Allah mana tahu Ia katakan Kun untukku dan Fayakun-lah mudikku.

Aku rindu kalian semua…..