Kembali ke Zaman Batu

Gara-gara BatuBeberapa minggu ini kita benar-benar dibuat terbelalak dengan adanya berita batu keramat, Si Ponari, Si Dewi dan dukun-dukun cilik lainnya yang muncul di Jombang dalam waktu bersamaan.

Luar biasa, banyak orang dari berbagai penjuru datang untuk berobat. Rela berdesakan dan ada pula yang rela mati karena kegencet ngantri untuk sekedar mendapat kesembuhan dari batu (Kalau sudah mati sembuh apalagi yang dicari). Aparat dibikin sibuk mengatur keamanan. Ketenaran Ponari mengalahkan ketenaran para Caleg yang tengah sibuk-sibuknya bersosialisasi menghadapi Pemilu 2009.

Tidak sekedar itu saja berita hari ini, Ponari yang melalui negoasiasi Kak Seto berhasil kembali sekolah, tetap saja tidak bisa tenang. Ratusan pasiennya sabar menunggu di pintu gerbang sekolah berharap Ponari mau mencelupkan batu pada air putih yang telah mereka bawa.

Kehadiran batu-batu yang mereka anggap keramat, benar-benar sudah mengamputasi akidah dan keyakinan mereka. Klenik dan meyakini sesuatu keramat telah membuat orang lupa dengan Tuhannya Yang Maha Penyembuh. Tidakkah zaman jahiliyah orang juga menyembah batu dan pohon keramat. Padahal batu dan pohon itu tidak pernah mampu menyelamatkan dirinya sendiri, apalagi mau menyelematkan diri kita. Taroklah batu yang dianggap keramat di atas palu dan hantam dengan kekuatan yang menghancurkan, apakah batu itu bisa menyelamatkan dirinya?

Benda mati apa yang dapat mendatangkan manfaat? Kemana logika berpikir kita yang sudah diberi ilmu dan pengetahuan dari Yang Maha Kuasa. Sekedar mengingatkan bagi saudaraku yang beragama Islam bacalah Al Baqarah 255-257. Kalau sudah paham, Tuhan mana lagi yang akan di sembah? Allah tidak akan memberikan kesembuhan dengan cara yang instan dan tidak masuk akal.

Karena kepercayaan yang kuat dari sebagian bangsa kita terhadap batu, agaknya kita memang sudah kembali ke zaman batu. Meski dalam bentuk yang berbeda, tapi hakikatnya sama.

Terus, siapa bilang batu dapat menyembuhkan? Beberapa hari ini aku malah nggak bisa kerja dan tidur nyenyak, gara-gara batu bersarang diginjalku. Meskipun tidak disarankan operasi oleh dokter tapi kehadirannya bukannya meng-enakkan tapi malah menyakitkan. Batu Ponari dan batu ginjalku meski berbeda bentuk tapi tetap aja batu, tak mendatangkan manfaat sama sekali, malah menyakitkan. Batu itu tetap aja makhluk bukan Tuhan, siapa yang mempertuhankan makhluk tunggu aja di Jahannam ditimpuk batu sama malaikat-Nya (Quran Surat An Nisa’ Ayat 116). Nauzubillah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.