BBM Turun, Harga Status Quo

Dari kemaren televisi dan media massa sudah berteriak bahwa pemerintah sudah menurunkan BBM. Tapi apa dinyana, kecil sekali dampaknya pada harga-harga. Berbanding terbalik dengan ketika harga BBM dinaikan yang besar sekali dampaknya pada harga-harga.

Ini sudah biasa, kalau BBM sudah terlanjur dinaikan maka harga-harga akan susah turunnya. Ongkos angkot misalnya, kalau sudah dinaikan bersamaan dinaikan BBM, maka kalau BBM turun jangan diharapkan bisa turun. Sopir dan kondektur ogah menurunkan, kalau menaikan sopir dan kondektur  sih cepat melaju. Kalau harga BBM naik, para sopir langsung buru-buru membuat pamflet berisi tarif baru, meski belum ada keputusan pemerintah untuk menaikan. Tapi kalau BBM turun, boro-boro sopir membuat pamflet harga baru yang diturunkan. Sopir atau kondektur  pura-pura tidak tahu. Kalau penumpang kurang bayaran, pasti ditagih dan disemprot dengan berbagai macam alasan.

Kadang-kadang maklum sih nasib sopir dan kondektur, kehidupan yang keras dan aturan yang keras. Ketika BBM naik setoran mereka juga naik. Dan ketika BBM turun kebanyakan setoran juga tidak turun. Apalagi onderdil yang mahalnya selangit. Hanya saja peringatan bagi bapak-bapak yang dipercaya, mbok ya mikir nasib rakyat. Jangan buru-buru dinaikan kalau ada pergolakan harga BBM dunia. Sabar dan bantu dulu kenapa. Subsidi ditingkatkan dulu, tahu nasib rakyatnya lagi kurang baik. Kalau sudah begini, apa jadinya. Nasi sudah terlanjur jadi bubur. Akhirnya yang ada rakyat salah sangke, kata orang Betawi, mentang-mentang mau Pemilu pura-pura perhatian ama tu rakyat. Kemaren-kemaren kemane aje, Tong?

Bagi rakyat dalam kondisi begini, bak kata pengamen jalanan ne, “mungkin bagi anda 100, 200 rupiah tidak berarti tapi bagi kami sangat berarti untuk makan sehari-sehari, untuk anak sekolah, untuk beli susu, untuk bayar listerik, air, ongkos dan lain-lain.”

Kucing Beranak !

Waduh, hari ini aku disibukan oleh kucing beranak. Masalahnya, anaknya berceceran, mungkin karena tidak ada tempat yang layak untuk bersalin, atau tidak mampu ke klinik bidan, akhirnya ya brojol saja di mana-mana. Yang satunya di tangga kondisi awal masih hidup tapi ari-arinya belum terputus. Satunya lagi di teras, karena ia terbungkus oleh ari-ari –aduh aku nggak tahu istilahnya– yang semula hidup akhirnya mati. Dua lagi lahir di dalam etalase yang satu hidup dan satu mati.

Melihat kenyataan itu aku memang agak bingung mengambil tindakan, bingung cara membantunya. Sempat cari Data Klinik Hewan di Jakarta melalui Google.com. Maksudnya mau menelpon dan menanyakan bagaimana cara merawat kucing yang seperti ini. Setalh dipikir-pikir di negara ini  siapa peduli dengan kasus kucing seperti ini, akhirnya aku urung untuk menelpon.

Kalau dilihat bayi-bayi kucing yang berceceran itu, dibuang rasanya nggak tega karena masih bernyawa. Sementara kalau tidak disingkirkan nampaknya menjijikan. Tidak sedikit yang geli melihatnya. Dan yang tidak manusiawinya –jelas saja karena ini kucing– ibu dari kucing-kucing yang kecil itu pergi entah kemana meninggalkan anak-anaknya dalam kondisi lemah seperti itu. Kasihan deh!

Akhirnya aku pun harus bertindak, bayi-bayi kucing yang mati dikumpulkan dalam satu kantong kresek. Masalah baru pun muncul mau dikubur di mana, tidak ada sejengkal tanah pun yang tersisa. Rumah-rumah di tempat tinggalku semuanya berdempetan satu lainnya. Ya, Allah. Akhirnya aku dengan sedih membuangnya ke tong sampah. Ya Allah ampuni aku!

Kucing itu memang bukan kucing peliharaanku. Ia adalah kucing liar yang sering bermain di sekitar rumah-rumah kami. Mungkin karena kehidupannya yang liar, jadi tidak masalah baginya meninggalkan anak-anaknya meski masih bayi atau baru dilahirkan, ia benar-benar tidak bertanggungjawab.

Adakah manusia yang seperti kucing ini, yang tega membiarkan anak-anaknya bertebaran di mana-mana meski belum saatnya ia dilepaskan? Entahlah, kucing kali ye?

Di Atas Paling Enak!

Sudah keenakan kali ya. BBM sih sudah turun, namun para pengelola angkutan tidak ikhlas menurunkan tarifnya. Coba kasih uang kurang dari ongkos yang telah dinaikan. Dipastikan kalau bukan matanya yang melotot, mulutnya yang menyemprot. Berbagai alasan memang membuat mereka bertahan. Katanya harga sembako tidak turun, harga onderdil juga tidak turun.

Emang, di negara kita agak aneh dibandingkan di negara lain. Kalau di negara kita kalau sudah di atas, kayaknya suka enggan untuk turun.  Lihat aja ketika Suharto jadi presiden, kalau nggak diturunkan ya tetap aja di situ. Gus Dur pun begitu, Mega apalagi, sudah turun malah mau naik lagi. Dan mungkin yang lainnya, pokoknya kalau sudah di atas paling enak dech.

Dolar ikut-ikutan, jangan ditanya. Kalau harganya sekali naik,  tetap aja susah turunnya. Pokoknya di atas paling enak!