Rumahku Hampir Terbakar

Tengah malam, sepulang kerja, sesampai di rumah; bukan main terperanjatnya aku. Ketika pintu rumah di buka dan masuk satu langkah, ada bau yang tidak sedap. Dari dalam tercium bau gas.  Hidungku mulai kembang-kempis, mengendus-endus sumbernya dari mana? Sesaat kucoba keluar lagi, ternyata masih bau, kemudian mencoba mundur agak menjauh dari pintu, baunya pun berkurang. Kuputuskan untuk maju lagi dan masuk ke rumah, baunya semakin menyengat. Semakin ke dalam, semakin terasa dan sesampai di dapur baunya nggak ketolongan, menyesakan dada.

Setelah kuperiksa kompor tidak dalam kondisi on –meski tak ada api–.  Sambungan slang juga tertutup rapat dan erat. Aku hanya curiga pada tabungnya yang memang kelihatan tua. Bisa jadi juga klep atau karet di regulatornya nggak benar sehingga gas meresap keluar. Meteran gas sudah menunjukan angka nol. Dengan arti kata seluruh isi tabung gas 3 kg kini sudah kosong, semuanya sudah terkuras keluar padahal baru paginya ganti tabung.

Alhamdulillah, Allah SWT masih sayang pada kami sekeluarga. Kami masih dilindungi-Nya. Andai ada bunga api yang gemercik dari apa saja, bisa menyebabkan kebakaran dan menghanguskan rumah dan seisinya. Bisa menyebar ke rumah tetangga dan menghangus satu RT atau ke mana saja api menjilatkan lidahnya. Anehnya warga rumah tidak ada yang terjaga. Semuanya tertidur lelap –saking lelapnya tidak mencium bau aneh dari gas tersebut. Untung aku yang pulang telat, sehingga dapat melalukan tindakan pencegahan. Setelah slang gas dicabut dari tabung, aku buka semua pintu dan jendela agar gas semuanya keluar dari ruangan. Kipas angin pun  diputar kencang untuk membantu mendorong gas agar cepat ngacir dari rumah. Alhamdulillah, beberapa saat udara di ruangan segar kembali.

Dalam hal ini memang aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Aku hanya saja prihatin, kenapa aku dapat tukaran tabung gas yang tua. Apakah layak pakai atau tidak, terus terang aku tidak tahu standarnya. Apakah pemerintah juga memberikan standar tabung yang layak atau tidak, aku juga tidak tahu. Apakah ada pengawasan ketat untuk ini dari pemerintah, aku juga tidak tahu. Yang pasti aku sudah mendapatkan tukaran tabung yang bisa menguapkan gas tanpa melalui regulator dan kompor.

Kasus ku ini  mungkin juga pernah dialami oleh masyarakat lainnya. Buktinya banyak berita kebakaran karena tabung gas konversi minyak tanah ini. Banyak sudah korban yang kehilangan sanak keluarga dan harta yang mereka miliki.  Tidak itu saja, di samping standar keamanan yang kurang, berita buruk lainnnya; betapa repot mendapatkan isi ulang gas Elpiji ini. Saudara kita di daerah ada yang antri berjam-jam dengan panjang antrian yang memilukan. Mereka kebanyakan ibu-ibu dan ada pula anak-anak. Akibat jarangnya pasokan harganya juga melonjak. Nauzubillah.

Memilukan memang kondisi rakyat kecil di negeri kaya ini. Masyarakat dipaksa pindah dari pemakaian minyak tanah ke gas, minyak tanah sudah susah mendapatkannya, gasnya pun sulit dicari.  Sebuah kebijakan yang mungkin kalau tidak bisa dikatakan menyengsarakan rakyat tapi boleh dikatakan merepotkan. Banyak pedagang makanan juga yang tidak bisa jualan gara-gara sulit mendapatkan gas. Sehingga mereka harus istirahat berjualan sampai mendapatkan gas. Itu pun harus berkeliling mencari tukaran gas dari satu kampung ke kampung lain.

Kami sendiri beberapa saat trauma memakai gas tabung 3 kg itu. Untuk sementara beli makanan jadi saja. Atau memakai minyak tanah yang masih tersisa. Ini menakutkan, karena hampir saja rumahku terbakar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.