Diary

Satuhal yang paling berkesan waktu masih duduk di SLTP adalah pelajaran dari pamanku. Ia mengajarkanku untuk menulis diary. Catatan harian dari seluruh kegiatan yang ku lakukan setiap harinya. Dari pagi hingga tidur. Sebelum tidur aku membacanya kembali dan mengevaluasi mana waktuku yang produktif dan mana pula yang sia-sia.

Pelajaran dari pamanku itu luar biasa manfaatnya untuk mendidikku. Ketika paman ataupun orang tuaku bertemu denganku, di saat santai setelah makan malam. Mereka membacanya. Setelah itu mereka memberikan komentar dan nasehat-nasehat, ada yang dituliskan di buku itu ada pula yang disampaikan secara langsung.

Tentunya di saat umur tersebut, aku belum bercerita tentang gejolak emosi remaja, Karena aku masih kecil dan belum mengerti dengan hal yang seperti anak SLTP sekarang lakukan. Aku pun merasakan manfaat diary itu untuk memacuku lebih banyak berbuat psositf seperti membantu nenek, mengulang pelajaran dan membaca buku.

Yang terkadang membuat aku tertawa dan tersenyum sendiri mengenang diary itu adalah aku menulis diary bukan di buku diary yang sudah ada seperti sekarang. Akan tetapi aku menulisnya di buku tulis isi 40 halaman atau 18 halaman. Maklum aku tinggal di desa dan jauh dari toko buku.

Meski demikian aku tidak pernah berhenti melakukan aktivitas itu hingga lulus SMA. Ketika SMA aku sudah menuliskan kegitan harian ke buku agenda atau diary yang sudah di jual di toko buku. Di SLTP pernah kawan-kawanku menemukan diaryku. Dasar usil ia membacakannya di depan kelas dan memberikan ke guru. Katanya buku itu ia temukan, padahal ia sendiri yang mengambil dilaci mejaku di jam istirahat. Aku malu dan tersipu, tapi terobati juga dengan pujian guru yang menyuruh teman-teman yang lain meniru.

Di masa SMA diaryku itu juga pernah hilang beberapa hari secara mysterius. Setelah itu kembali secara mysterius juga. Sekembalinya diaryku, aku baru tahu ada seorang gadis yang suka padaku dan mengungkapkan seluruh isi hatinya di halaman-halaman diaryku. Ia menasehatiku dan memberi sinyal untuk lebih dekat padanya. Sayang aku hanya bisa menebak siapa wanita itu. Sampai saat ini Ia masih mysterius, karena ia tidak ada menuliskan namanya di diary itu.

Aku menanggapi hal itu antara senyum dan malu. Senyum –karena– ternyata ada orang yang diam-diam menyukaiku. Malu karena aktivitas dan gejolak emosiku diketahui orang lain. Dan memang gejolak emosi yang kutuliskan di diary tidak ada menyangkut perempuan, karena aku tahu diri. Aku bertekad tidak akan pacaran sampai misi pendidikanku selesai. Aku anak pertama dari 8 bersaudara, yang harus menjadi contoh bagi adik-adikku. Aku harus sukses, begitu tekadku. Karena itu gejolak Emosi yang ku tulis adalah bagaimana aku berjuang untuk mencapai kesuksesan dengan menafikan hal-hal yang ku anggap belum perlu.

Itulah diari sudah menjadi catatan sejarah dari perkembangan hidupku.Dengannya aku tumbuh dan dengannya pula aku bisa bercerita tentang segala rasa yang terpendam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.