3087217226_b223a09be4_oIbrahim A.S adalah manusia dari sejak kecilnya sudah yakin dengan Tuhan yang tunggal yaitu Allah SWT, meski ia lahir dari bapaknya seorang pematung yang menghasilkan karya untuk di sembah masyarakat Babilonia. Seperti kita lihat bagaimana ia berhadapan dengan Raja Namrudz Raja Babilonia, ia dengan tegas mengatakan tidak mempertuhankan selain Allah SWT termasuk Namrudz (Al Baqarah 258).

Selanjutnya, selain taat pada Allah SWT. Ibrahim tidak lupa berdoa untuk orang tuanya meski ia tahu orang tuanya adalah musuh Allah SWT. Dan memohonkan ampun atas kesalahan Bapaknya kepada Allah SWT dilakukannya sebagai ujud memenuhi janji seorang anak kepada Bapaknya. Namun demikian Ibrahim tetap tahu kalau doa itu akan sia-sia, karena tidak akan ada ampun bagi orang yang berbuat kemusyrikan (AtTaubah 114).

Pelajaran yang lain dari Ibrahim adalah cinta pada Allah SWT melebih dari segala cinta yang ada di hatinya terhadap makhluk Allah SWT lainnya. Inilah sepenggal kisah yang dalam sejarah sudah banyak diketahui oleh muslim. Bukan main cintanya Ibrahim pada anaknya, karena lama waktu ia menunggu kehadirannya. Akan tetapi setelah dikarunia anak, Allah SWT menguji dengan perintah sembelih. (As Shaaffaat 102). Sangat cinta pada Anak tapi ia lebih cinta pada Allah SWT.Bukankah hal ini sangat bijak untuk kita tiru dalam kehidupan sehari-hari.

Tentu tidak ada paksaan dalam beragama (al Baqarah 186). Kita hidup di dunia sudah barang tentu sebagai ladang ujian. Karena itu maksud diciptakan-Nya Surga dan Neraka, untuk membalas semua yang kita lakukan di dunia. Kita sebagai manusia yang berakal, boleh pilih antara keduanya.Sebagai pemilih harusnya salah satu, karena memilih dua namanya kita tak konsisten.

Istiqamahnya (baca : konsisten) Ibrahim adalah memilih jalan Allah SWT dengan mematuhi setiap perintah Allah meski mengorbankan apa yang dicintai. Kita cinta diri, harta, benda, keluarga kalau malah mengganggu cinta kita pada Allah SWT harus kita korbankan. Bentuk pengorbanannya tentu juga sangat bijak.Ibrahim meski disuruh menyemblih anaknya ia tidak main babat saja tapi ada dialog dan komunikasi yang benar-benar mantap antara ia dan anaknya (As Shaaffaat 102).Jadi di sini terlihat sebuah proses, bahwa untuk mengorbankan hal lainnya demi cinta pada Allah SWT harus dilaksanakan sebijak mungkin. Tapi intinya cinta dan taat pada Allah adalah segala-galanya. Jangan berhenti untuk berupaya ke arah itu meski banyak rintangannya.

Refleksi kisah Ibrahim ini hendaknya menjadi tauladan bagi kita semua umat muslim terutama bagi saudara-saudara kita yang sudah mendapat kesempatan melihat secara langsung napak tilas perjuangan Ibrahim AS di Mekah dengan berhaji. Masihkah kita mengutamakan cinta yang lain dari pada cinta dan taat pada Allah SWT? Semoga tidak. Wallahualam bisawab.

Selamat Idul Adha 1429 H, mohon maaf lahir bathin.