Beberapa hari ini aku dihadapkan pada persoalan pelik. Kawanku, sahabatku merasa gelisah dan selalu mengeluh. Apa gerangan yang terjadi? Kalau dilihat sepintas dan selama perkawanan kami berlangsung, saya menilai Ia seorang yang aktif dan baik hati. Kalau berkerja, Ia selalu tanpa mengenal lelah, apapun yang diperintahkan mitra atau bosnya ia tidak pernah menolak. Asal itu menguntungkan bagi perusahaan, Ia ayo saja, meski terkadang pekerjaan itu di luar job deskripsi yang menjadi tanggungjawabnya. Bahkan sebagai freelancer, ia termasuk yang loyal untuk membantu perusahaan yang dinilai sebagai mitra.

Dari keluhan demi keluhan yang saya dengar, ia merasa sudah overload. Ia berkerja selama ini menjadi seorang freelancer di sebuah perusahaan, Ia yang dijanjikan diberikan insentif dari setiap yang dikerjakan meskipun pekerjaan itu kecil. Selama ini, katanya, ia tidak pernah menolak apa yang ditugaskan tentu dengan harapan setiap tugas itu ada insentifnya.

Kenyataan yang dia terima dari pengorbanan itu adalah terjadinya hubungan yang unharmonis antara ia dan keluarganya. Pasalnya setiap hari ia berangkat kerja, prasangka isteri tetap baik terhadap suaminya yang mencari nafkah, bahkan dengan seluruh harapan dan keihlasan serta doa mengiringi suami pergi berkerja. Tapi hari berlalu dan bahkan bulan berlalu, ketika pegawai tetap menerima gaji bulanan ia masih saja belum mendapatkan imbalan dari kerjanya.

Sementara tanpa dosa perintah kerja terus saja datang dari si bos untuk dia laksanakan, tanpa kejelasan berapa imbalan dari setiap kerja yang diperintahkan. Bahkan karena desakan deadline perkerjaan, kawanku rela begadang di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Menurut pengakuannya, setiap begadang isterinya juga tidak nyenyak tidur di rumah, karena merasa ada yang kurang –suaminya– di rumah.

Kegelisahan itu muncul ketika ia mencoba menagih janji sibos dari setiap kerjanya. Ternyata yang dia terima bukanlah imbalan dari kerjanya, tapi beban baru yang dinamakan cashbon atau disebut oleh bagian keuangan sebagai pinjaman pribadi. Menurut kawanku, berkerja untuk berhutang, bukan menyelesaikan masalah. Tapi justru menambah masalah baru. Apalagi tuntutan kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat. Bayar listrik, kontrakan, air, belanja anak dan kebutuhan sehari-hari. Apalagi mendekati lebaran, bukan main puyengnya. Mungkin lebaran tidak akan diisi dengan kemewahaan, tapi malu juga kalau tetangga bertamu tidak disuguhkan kue-kue kecil. Isteri semakin uring-uringan kalau sudah dekat lebaran uang belum ada dikantongnya.

Kenapa cashbon menimbulkan masalah? Menurut kawanku ia kadang-kadang sudah berencana membeli sesuatu atau membayar sesuatu termasuk hutang di waktu tertentu, akan tetapi ketika sampai waktunya tidak bisa meujudkan. Karena uang gaji sudah habis untuk pembayar cashbon sebelumnya. Sementara cashbon yang diberikan itu terkadang hanya cukup untuk transportasi harian untuk berangkat berkerja, lalu untuk dibagi di rumah nilainya kecil. Inilah yang membuat isterinya uring-uringan.

Ia sangat maklum dengan kondisi perusahaan mitranya itu, karena itu ia support habis-habisan apa yang bisa ia bantu. Akan tetapi ia tidak habis mengerti kenapa tidak ada kejelasan tentang upah kerjanya dari setiap pekerjaannya. Ketika ia minta penjelasan, Si Bos malah menampak muka yang tidak senang. Ia dinilai tidak mengerti dengan kondisi. Reaksi si bos ketika ditanyakan nilai upah yang diuntukkan untuknya dari  sebuah pekerjaan, berbading terbalik dengan ketika  si bos memerintahkan melaksanakan pekerjaan. Kalau meminta melaksanakan pekerjaan “lunak gigi dari pada lidah”, merayu dan mendesak untuk cepat diselesaikan, tapi untuk pembayarannya “lempar batu sembunyi tangan”, seakan tidak ada tanggungjawab sama sekali. Mungkin dihatinya ingin membayar tapi menurut kawanku, tidak diungkapkan, sehingga menjadikan sebuah penasaran dalam penantian kejelasan.

Satu hal lagi menurut kawanku, karena keterlambatan pembayaran dari setiap pekerjaan. Nilai dari pekerjaan itu sering menjadi kecil, karena terlalu lama diambangkan nilai pengorbanan dan tingkat kesulitan di saat mengerjakan selalu terlupakan. Jadi hasilnya karena tidak pernah disepakati terlebih dahulu, pembayarannya ya seenak-enaknya boslah. Mau berapa rupiah, itu terserah dia.

Begitulah yang dikeluhkesahkan oleh kawanku. Aku cuma bisa prihatin, mudah-mudahan bosnya di beri petunjuk oleh Allah SWT. Kalau ia Muslim mudah-mudahan Ia tidak termasuk bos yang zalim terhadap anak buahnya. Karena Hadist Sahih Rasulullah SAW mengatakan:

“Artinya : Berikan upah pekerja sebelum kering keringatnya” (Hadits shahih dikeluarkan oleh Ibnu Majah (2443) dan ada hadits-hadits lain yang menguatkannya, yaitu hadits Abu Hurairah dan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu.)

Kawan, semoga kegelisahanmu cepat berlalu. Amin.