Mau Mematikan tapi Lupa Kematian

Prilaku barbar agaknya sudah melekat di bangsa kita. Pembunuhan demi pembunuhan dengan berbagai modus operandi tak pernah berhenti menjadi konsumsi berita media massa. Mulai dari kebiadaban Ryan yang memutilasi 11 orang dengan sangat cerdasnya, diikuti prilaku biadab yang sama dilakukan berbagai orang di beberapa kawasan, terlepas dari meniru atau tidaknya prilaku Ryan Si Jagal dari Jombang. Nauzubillah.

Nan lebih mengejutkan lagi adalah data pembunuhan bayi akibat aborsi. Tidak kurang dari 2.600.000 bayi meninggal karena aborsi di tahun 1998 ini. Belum lagi dampak dari aborsi yang gagal menyebabkan banyak lahir anak cacat dan menderita seumur hidup ulah perangai orang tuanya. Betapa memilukan kenyataan ini, nyawa manusia benar-benar sudah tidak berharga. Apalagi pemaparan data ini –yang saya kutip dari siaran salahsatu televisi swasta ini– dengan gambaran sangat rinci tentang pelaku sampai orang-orang yang membantu pelaku aborsi itu.

Laporan bertajuk “Membersihkan Nama dengan Dosa” itu memaparkan betapa manusia ‘jahannam’ itu tidak peduli lagi dengan rasa tanggungjawab, tapi malu perbuatannya dilakukannya diketahui orang banyak. Tuhan dienyahkan dalam hatinya. Mau enak tapi tidak mau memikul beban.

Sebut saja kelakuan remaja yang paling banyak melakukan Aborsi, mayoritas disebabkan pergaulan bebas yang mereka sebut dengan gaul dan modernisme. Pacaran yang tidak lagi mengindahkan kaedah norma agama dan budaya, menjadikan remaja lepas kontrol. Kehidupan yang glamour benar-benar sudah membutakan.

Ditambah lagi yang paling mengerikan adalah yang membantu mereka melakukan aborsi itu, bukan hanya dukun beranak yang kebanyakan mereka memang tidak menempuh jenjang pendidikan yang layak. Namun ada juga yang membantu proses aborsi itu oknum-oknum dokter –notabenenya orang terdidik — yang nyata-nyatanya tersumpah untuk melindungi setiap makhluk hidup meski makhluk hidup itu masih bersifat embrio di dalam rahim seseorang.

Apa yang salah? Mungkin banyak yang bertanya ketika menyaksikan deretan kasus-kasus pembunuhan seperti ini. Mungkin pertanyaan ini tidak ada yang bisa menjawabnya. Namun yang pasti, prilaku amoral dan jahiliyah ini dilakukan oleh orang-orang yang kehilangan hati nurani. Mungkin dia hidup dengan fisik manusia akan tetapi pada hakekatnya jiwanya adalah binatang buas. Maaf, kalau istilah ini agak kasar, tapi kenyataannya begitulah, karena binatang buaslah yang tega membunuh anak, saudara bahkan orang tuanya sendiri.

Apakah yang salah kondisi ekonomi yang lagi krisis saat ini? Tentu tidak selamanya benar. Kalau kita masuk jauh ke dalam diri kita, yang miskin sebenarnya adalah cahaya ilahi di hati kita. Pada hakekatnya kita tidak lagi peduli dengan kematian itu sendiri. Kita lupa bahwa hidup sekarang justru sebagai sebuah kesempatan sebelum kita mati. Dan setelah mati kita pasti akan dihidupkan lagi meski berbeda alam. Dan selanjutnya kita akan diminta pertanggungjawaban dari seluruh perbuatan yang kita lakukan di alam sekarang.

Nah, kalau kita juga akan mati, kenapa kita harus tega mematikan makhluk hidup yang lain. Padahal ia juga mempunyai hak untuk hidup. Saya yakin bahwa setiap agama mengajarkan hal ini tentang akan adanya kehidupan sesudah mati, karena itu adanya surga dan neraka diciptakan Tuhan sebagai balasannya.

Sudahkah begitu menggerahkankah kehidupan ini? Kenapa tidak kembali ke Tuhan yang memberikan norma-norma untuk bisa selamat dari azab setelah kematian dan kecanduan mematikan itu. Tidak akan lama rentang waktunya, kita akan dipanggil Yang Kuasa. Mumpung masih diberikan kesempatan sesalilah perbuatan jahat yang telah dilakukan meski manusia lain tidak tahu. Tapi kita tidak akan terlepas dari Yang Maha Tahu.

Pergunakan kesempatan yang ada untuk menjaga sikap dan prilaku dengan berbuat kebaikan sebanyak-banyak. Kita tidak tahu umur di usia berapa kita akan mati, apa nggak layak kita bersikap hati-hati?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.