1 + ~ = 76

Suasana Angkutan di AfrikaRebutan dan berdesakan menaiki biskota adalah lumrah terjadi di setiap pagi di kawasan yang tidak jauh dari pintu Tol Pasar Rebo menuju Fatmawati. Pandangan itu menjadi biasa, karena begitulah faktanya. Ratusan atau ribuan orang berangkat berkerja mencari nafkah setiap harinya terkecuali Sabtu dan Minggu yang ditetapkan sebagai hari krida.

Semua bangku biskota sebenarnya dari terminal Kampung Rambutan sudah penuh terisi. Tapi untuk kasus ini, bis kota tidak akan diisi sesuai dengan jumlah bangku. Biskota akan terus diisi di setiap ruang yang ada. Selagi masih dapat berdiri, akan tetap diisi. Penumpang tidak komplen, karena tidak ada jalan lain. Menunggu bis kota kosong pasti akan terlambat sampai di tempat kerja. Bisa-bisa dianggap indispliner. Itu berakibat fatal  bagi kelangsungan pencarian rezeki.

Kalau dibilang nyaman, tentu tidak. Tapi sebagai rakyat yang hanya mampu menaiki kendaraan umum harus tabah dan sabar menikmati. Di ruang ‘kotak’ berjalan itu, selain pandangan mata yang beragam karena berbagai macam wajah-wajah pribumi. Begitu juga baunya. Berbagai aroma farfum akan menghiasi. Aroma-aroma itu awalnya memang menyegarkan, tetapi lambat laun akan memusingkan. Sejalan dengan waktu perjalanan dan memuncaknya suhu di dalam bis, keringat mulai mengucur. Ada yang benar-benar basah karena peluhnya.

Aroma mulai berubah, bau keringatpun berwarna-warni. Nyamankah? Tentu tidak. Apalagi kalau ada salah seorang dari ‘tumpukan’ manusia di bis  itu  terpaksa buang gas karena desakan panas dari luar menghajar angin dalam perutnya. Nauzublillah. Tutup hidung? Boro-boro. Hidung ditutup, anda akan jatuh terjerembat karena pegangan terlepas.

Dapat dibayangkan, kalau yang naik ibu-ibu yang tengah hamil. Mungkin proses kelahirannya tidak perlu secara cesar atau persalinan normal yang penuh kerumitan. Naik biskota ini ibu hamil  bisa jadi akan cepat melihat anaknya yang sudah lama dinantikan. Karena begitu kerasnya tekanan dari luar ditambah goncangan bis kota yang meliuk-liuk, si anak di dalam rahim dipastikan tidak akan tahan menunggu lama untuk keluar.

Begitu juga orang tua lanjut usia, ia akan segera mencapai kehidupan puncak. Sesak napas, encok, asam urat akan terus memuncak seiring dengan lajunya bis kota di jalanan. Begitu juga anak-anak, pertumbuhannya bisa jadi akan terganggu karena kegencet oleh penumpang lain yang tubuhnya lebih besar darinya.

Bagi Anda yang ingin menjaga kesucian, seperti selalu berwuduk setiap keluar rumah. Di bis kota ini  kesucian wuduk anda akan terenggut oleh sentuhan yang terpaksa dari non muhrim. Lebih dari itu gesekan benda asing lainnya yang tabu untuk dibicarakan kerapkali akan membuat perasaan anda campur aduk. Antara menerima dan tidak diterima. Mau apalagi, judulnya kepaksa. Semoga Allah SWT mengampuni. Amin.

Begitulah kondisi tiap pagi angkutan umum yang namanya biskota. Paparan itu belum lengkap, ditambah lagi dengan nafsu si sopir mengejar setoran. Pedal gas yang diinjak maksimal dengan tarikan stir ke kiri dan kekanan, membuat bis kota menari bak goyangan maut Dewi Persik yang meliuk di atas panggung. Apa yang terjadi? Teriakan kaget dan kecemasan penumpang kerap kali menghiasi perjalanan apalagi ketika si sopir menginjak rem secara mendadak karena ada halangan di depan yang menghambat lajunya bis kota. Rem mendadak tidak diikuti rem mulut si sopir. Mobil berhenti, mulut si sopir justru melaju. Sumpah serapah yang tidak enak didengar keluar seperti petir di siang bolong.

Bagaimana dan cara apapun si sopir memacu kendaraannya, pastilah akan terhambat juga. Maklum di jalan tidak hanya dia dengan biskotanya yang lewat, tapi juga kendaraan lain. Apalagi sepeda motor yang berjibun. Jadi nggak masuk logika, cara-cara si sopir itu memperturutkan egonya untuk dapat melaju tanpa hambatan.

Bagaimana tanggapan pemerintah soal ini? Untuk penyelesaian masalah ini pemerintah berkeinginan membatasi jumlah kendaaraan bermotor terutama sepeda motor. Seperti ditulis Kompas, Ketua Pusat Kajian Transportasi Universitas Indonesia, Sutanto Soehodho tak terlalu setuju dengan adanya wacana pembatasan jumlah kendaraan bermotor terutama sepeda motor. Kebijakan ini, menurutnya sama saja ‘membunuh’ masyarakat kalangan menengah yang ingin menghemat biaya transportasinya.

“Urusan jumlah sepeda motor, tumbuhnya karena mereka enggak punya alternatif. Mereka mengatakan, menggunakan bis jauh lebih mahal daripada naik motor. Naik motor cuma separuhnya, padahal bis itu sudah angkutan kita yang paling murah. Kalau kita mau membatasi pengguna sepeda motor, sama artinya kita membunuh perjalanan mereka. Mampu enggak mereka pindah ke angkutan umum?,” kata Sutanto usai temu pakar transportasi di Jakarta, Kompas,  Selasa (18/11).

Solusinya, lanjut Sutanto, dibuat beberapa alternatif pilihan. Misalnya dengan membuat sistem transportasi umum yang tidak memberatkan, tarif murah dan terjangkau. Sehingga, orang tidak akan berpikir dua kali untuk menggunakan transportasi umum. Caranya? “Subsidi BBM jangan terus-terusan. Cabut saja, ganti untuk subsidi public transport,” ujarnya.

Agaknya rakyat kecil harus tetap bersabar menaiki biskota yang 1 + ~ = 76 ini, karena solusi transportasi erat kaitan dengan politik, apalagi kita mau Pemilu.  Yang berarti setiap pagi harus tabah dengan kondisi satu biskota dengan isi tak terhingga itulah biskota Metromini 76. Akan tetapi kondisi ini lebih baik daripada yang terburuk dari saudara kita di Afrika seperti gambar dari Fun and Fun Only (FFO) ini. Aku yakin pemerintah tidak akan membiarkan masyarakat Indonesia yang membayar pajak mengalami nasib serupa dengan saudara kita Afrika ini. Entahlah!

[gambar diambil dari FFO]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.