Ketika Kuda tak Sanggup Menanggung Beban

Teman saya yang seharian bersama, hari ini bercerita tentang Monyet bukan Anjing, Kerbau bukan Kuda di blognya http://yogasdesign.wordpress.com. Saya sangat tersentuh!

Memang terkadang kita salah mengerti tentang kebaikan seseorang teman. Meski teman kita adalah seorang yang luwes, baik hati, pemurah dan nggak neko-neko, bukan berarti ia lantas kita perlakukan sebagai tempat d imana  kita melimpahkan seluruh beban yang kita tanggung. Sering kita lupa satu hal; teman tidak selalu mampu memberikan apa yang kita minta karena keterbatasannya. Kita punya masalah, teman kita juga punya masalah yang melingkupi kehidupannya.

Teman memang sebagai tempat kita sharing, karena teman mampu setidaknya memberikan inspirasi untuk pemecahan masalah yang kita hadapi. Namun jangan berharap teman mampu memberikan 100 persen solusi. Seperti cerita Yogas tersebut, sangatlah masuk akal.

Dalam hal ini saya sangat teringat dengan Filosofi Hidup seorang pendidik Engku Mohammad Sjafei yang mencetuskan berdirinya INS Kayu Tanam Sumatera Barat, di zaman penjajahan Belanda doeloe. Sebagai seorang pendidik Engku tidak memaksa anak didiknya untuk menjadi apa yang dia inginkan. Akan tetapi ia menerapkan filosofi yang bijak dan sangat masuk akal dilakukan. Kata Engku : “jangan kau berharap pohon rambutan berbuah mangga, tapi jadikanlah setiap pohon berbuah manis”.

Artinya setiap siswa yang dididik di INS Kayutanam tidak akan dipaksa untuk menjadi seseorang yang tidak mungkin ia lakukan. Akan tetapi ia dididik untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya. Tapi semua itu tetap dalam batas kapasitas yang mampu dilakukan. Semua anak didik diberlakukan dengan sama dan bijak dalam  menumbuhkembangkan kemampuannya tanpa memaksakan kehendak. Sehingga setiap anak yang IQ rendah, maupun IQ tinggi kalau lulus dari INS Kayutanam, insya Allah menjadi anak yang berguna bagi diri, keluarga, masyarakat dan bangsanya. Mungkin ia lemah dalam menghitung tapi sangat ahli dalam bersastra, melukis atau yang lainnya, karena hal itulah yang ditumbuhkembangkan. Suatu pelajaran yang sangat baik dapat diambil dari filosofi Engku ini.

Sama halnya ketika kita menganggap seorang teman, karyawan, anak buah atau bawahan. Selayaknya kita  mengukur kemampuan dan kapasitas yang mereka miliki. Karena mungkin saja ketika kita berikan beban ternyata ia tidak sanggup lagi menanggungnya, meski dalam benak kita hal ini adalah keahlian dari mereka. Kalau kita jeli mengamati hal ini, ketahuilah hubungan yang harmonis akan terjalin. Kebaikan yang kita tanam insya Allah kebaikan juga yang akan kita terima. Ketika kita menanamkan keburukan atau beban yang nggak kuat ditanggung seseorang maka bukannya beban itu sampai ditujuan malah ditinggal di tengah jalan. Hubungan harmonis akhirnya menjadi bencana.

Ketika kuda tak lagi sanggup menanggung beban, kita bisa kehilangan suatu yang berarti dalam hidup kita yaitu teman, karena kita akan dianggap beban baginya.  Untuk itu jangan meminta buah mangga ke pohon rambutan, tapi jadikanlah setiap pohon berbuah manis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.