Dari Sebuah Televisi

televisiAda info sahih dari sumber yang tak mau menyebutkan namanya, setelah Face to Face ANTV, giliran Film Lepas Extra Large yang kena tegur. Film bioskop yang tayang pada 10 November 2008 pukul 21.00 di SCTV ini dinilai banyak menampilkan adegan dan percakapan yang mengesankan hubungan seks secara eksplisit dan vulgar. Untuk itu, KPI meminta agar SCTV tidak lagi menayangkan tayangan film tersebut dan tayangan sejenis lainnya.

Mengutip isi surat yang dilayangkan ke SCTV (18/11/08), tayangan tersebut dinilai KPI telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang melarang televisi menampilkan adegan yang secara jelas didasarkan atas hasrat seksual, mengesankan berlangsungnya hubungan seks, percakapan, adegan, atau animasi yang menggambarkan rangkaian aktivitas ke arah hubungan seks serta menyajikan program yang memuat pembenaran bagi berlangsungnya hubungan seks di luar nikah.Dalam surat yang ditandatangani Wakil Ketua KPI Pusat ini, KPI mengancam akan menjatuhkan sanksi lebih lanjut apabila SCTV tidak mamatuhi teguran di atas.

Memang, belakangan kita sangat prihatin dari tayangan televisi, yang lebih banyak membuat generasi bangsa ini lebih cepat dewasa. Kalau yang dewasa adalah pemikiran dan cara menatap kehidupan ini mungkin itu tidakakan menjadi masalah. Akan tetapi totonan tayangan televisi lebih banyak membuat dewasa dari sisi lain yang lebih membawa ke arah negatif ketimbang positif.

Seperti ditulis di Adil Edisi 22, Direktur LSM Masyarakat Tolak Pornografi Azimah Subagijo melihat ironi yang terjadi di masyarakat terhadap pornografi. Masyarakat, sebutnya, sangat menabukan bicara seks di muka umum tapi pada saat yang sama tidak ada regulasi untuk pornografi. Kalaupun ada, lanjutnya, aturan itu batasannya tidak jelas kemudian diperparah dengan penegakan hukum yang lemah.

Meluasnya materi pornografi di masyarakat tentu saja meresahkan. Dampak pornografi sangat mengerikan bagi penggunanya dan masyarakat. Penyair Taufiq Ismail menyamakan dampak pornografi dengan narkoba. Ia melihat ada kesamaan sifat yaitu adiktif. Orang akan ketagihan bila mengkonsumsi materi pornografi. Sama seperti narkoba, pornografi juga menyerang otak.

Dr Victor Cline, Psikolog Klinis dari Universitas Utah, mengemukakan empat dampak progresif dari pornografi: pertama, kecanduan, di mana hasrat untuk menikmati tayangan-tayangan pornografi membuat orang kehilangan penguasaan diri.

Kedua, meningkatnya nafsu liar, di mana orang menjadi kurang puas dengan hubungan seksual yang normal dan masuk ke dalam pornografi yang semakin brutal, biasanya guna memperoleh tingkat sensasi dan gairah yang sama.

Ketiga, hilangnya kepekaan moral, di mana ia tidak lagi memiliki kepekaan moral terhadap tayangan-tayangan yang tidak wajar, yang tidak sah, yang menjijikkan, yang menyesatkan, yang amoral, melainkan menikmatinya sebagai tayangan yang dapat diterima dan mulai memandang orang lain sebagai obyek.

Keempat, pelampiasan, di mana khayalan diwujudkan dalam tindakan nyata yang jahat.
Adil juga mengutip Laporan Uniform Crime Report menyatakan di Amerika Serikat, pornografi pernah menjadi musuh yang sangat mematikan. Pada tahun 1991, Departemen Kepolisian Los Angeles mendapati bahwa dalam periode sepuluh tahun, pornografi terlibat dalam duapertiga dari seluruh kasus pelecehan terhadap anak-anak.

Selain itu, satu dari enam orang di penjara-penjara negara adalah pelaku kejahatan seks. Setelah kejahatan obat-obatan terlarang kejahatan seks berada di urutan kedua.

Sebelumnya, tahun 1988, Federal Bureau of Investigation (FBI) melaporkan bahwa 81 persen para pelaku kekerasan seksual secara rutin membaca atau menyaksikan tayangan kekerasan pornografi.
Sedangkan Seksolog Dr. Boyke Dian Nugraha mengungkapkan, aborsi juga dampak dari pornografi. Angka pasti remaja yang melakukan aborsi sebagai akibat seks bebas memang belum terdata. Namun, seksolog ia memperkirakan angka aborsi di Indonesia berkisar antara 2,3 juta hingga 3 juta per tahunnya. Dari jumlah tersebut 50 persen dilakukan oleh remaja.

Dampak tayangan kekerasan
Begitu juga dengan penayangan kekerasan di televisi. Mungkin ada baiknya kita belajar dari sebuah survey, yang salah satunya mengkaji tentang dampak penayangan kekerasan di TV yang akhir-akhir menjadi santapan sehari-hari.

Seperti yang dilansir Dyah A.M pengamat Televisi dari Semarang. Mulai pagi, siang, malam, hingga pagi lagi, kekerasan itu berderet-deret seperti barisan prajurit TNI apel pagi. Ada hasil riset yang menyebutkan, 9 di antara 10 acara TV mengandung kekerasan!

Menurutnya, survei yang lain menunjukkan bahwa menonton tayangan kekerasan akan meningkatkan perilaku agresif dan prokekerasan. Bukan satu atau dua survei, tapi ribuan riset menyimpulkan: menonton tayangan kekerasan meningkatkan perilaku agresif!

Penahapan dalam ”belajar kekerasan” itu bisa dijabarkan sebagai berikut. Pertama, berlangsung tahap belajar metode agresi (observational learning). Setelah terbiasa pada hal itu, kemampuan mengendalikan dirinya berkurang (disinhibition) dan akhirnya tidak lagi tersentuh oleh orang yang menjadi korban agresi (desensitization, penumpulan perasaan).

Kekerasan pun menjadi hal yang dianggap biasa karena berlangsung rutin. Menurut guru besar komunikasi Stephen Kline, hanya diperlukan waktu sejam untuk merasakan efek desensitization, penumpulan perasaan.

Sebuah survei menunjukkan, 800 anak usia 8 tahun -yang banyak nonton kekerasan di TV- cenderung lebih agresif ketika mencapai usia 19-30 tahun serta membuat masalah lebih besar -seperti kekerasan dalam rumah tangga atau pelanggaran lalu lintas.

Meski seseorang tidak agresif pada usia 8 tahun, jika menonton kekerasan di TV dalam jumlah cukup banyak, dia akan menjadi lebih agresif pada usia 19 tahun dibanding yang tidak menonton.

Pengaruh kekerasan tersebut bisa mengenai remaja dan anak-anak dari segala usia, kedua jenis kelamin (laki atau perempuan), serta semua tingkat sosioekonomis (miskin atau kaya) dan inteligensia (IQ tinggi, jongkok, atau merayap). Juga, tidak terbatas pada anak yang sudah agresif serta tidak mengenal asal negara.

Lihat saja berbagai berita kriminal -curat (pencurian dengan kekerasan), pembunuhan, pemerkosaan, mutilasi, dan lain-lain. Semakin banyak saja pelakunya adalah ”orang-orang yang sebelumnya dikenal alim”.

Lalu, dengar saja ”pembelaannya” yang menyatakan bahwa ia melakukan itu hanya meniru atau mempraktikkan apa yang mereka lihat di tayangan TV, video compact disc atau internet.

Mengingat dampak buruk dari yangan televisi ini, memang kita berharap banyak kepada KPI untuk terus bersikap tegas kepada televisi yang membandel, yang kadang hanya mengutamakan keuntungan materi semata tanpa mempedulikan kehancuran generasi bangsa ini karena keburukan akhlak yang disebabkan menonton tayangannya yang disuguhkan. Sembari dengan itu sikap tegas KPI bukan hanya satu-satunya solusi, kita sendiri juga harus tegas memberikan arahan kepada orang-orang yang kita sayangi dalam hal memproteksi dampak buruk ini. Mungkin memulai dari diri, keluarga dan orang sekitar kita sebagai wujud kita peduli adalah satu langkah yang tepat untuk mengatasi masalah ini.

[gambar diambil dari :http://islamfeminis.files.wordpress.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.