Arti Seorang Sahabat

Ini bukan lagu dari siapa-siapa. Tapi irama indah dalam kehidupan nyata. Syairnya mengobati gundah, menghalau duka dan melebur nestapa. Mungkin begitu makna yang diresapi seorang teman lama, sehingga ini menjadi sebuah cerita.

Siang kemaren, vibra hanphoneku menyala. Aku tengah bersitungkin menyelesaikan perkerjaan yang tersisa. Sebenarnya jam makan siang sudah tiba,  tapi asyiknya berkerja membuatku lupa. Ya, tiada ku sangka temanku yang sudah lama tidak berjumpa, siang itu muncul tiba-tiba dalam getaran suara di bimbitku yang kutaruh di atas meja.

Ia mengajaku makan siang. Aku merasa senang, karena aku belum makan memang. Segera kurapikan semua barang dan menuju ke tempat Ia datang. Aku bersyukur melihatnya juga senang dan kami pun makan bareng di sebuah restoran Padang. Dengan menu sambel, sayur dan rendang kami makan sambil ngobrol panjang sampai habis waktu istirahat siang.

Sudah lama  kami tidak berkomunikasi, mungkin jauh sebelum reformasi. Ia dulu teman sejati, di waktu kami sama duduk di SMA Kuranji. Lalu di kelas 2 Ia pergi tanpa permisi. Entah kemana kucari, ternyata aku jumpai di sini, itu pun karena ia yang menghubungi. Katanya mendapat nomor hpku dari salah seorang alumni.

Dari cerita yang ku dengar, memang sedikit membuat jantungku berdebar. Sejak meninggalkan dunia belajar, Ia hidup secara liar. Di tengah kota Jakarta nan sangar, ia rambahi pasar demi pasar.

Menjual koran dan stensilan, itu awal kenangan dari sebuah perjalanan di tahun 80-an. Ketika kutanya sebuah alasan kenapa dulu ia pergi tanpa pesan. Jawabnya, hanya ingin mencari peruntungan. Ketika itu ia merasa kampung  tidak lagi menjanjikan. Bapaknya meninggal karena kecelakaan, sebagai anak pertama ia merasa punya beban. Tak mungkin ibunya yang sering sakit-sakitan menggantikan peran bapak hingga ubanan. Sementara adik-adiknya perlu biaya hidup dan makan. Ia pun mengambil sebuah kesimpulan, pergi meninggalkan kampung halaman  yang penuh kenangan. Ia tatap masa depan dengan masa remaja yang dikorbankan.

Kini ia bukan seperti yang dulu. Ia benar-benar sudah  matang dan maju. Pake mobil mewah seri terbaru. Aku benar-bernar terharu, tak kusangka ia akan begitu. Punya toko Emas di Benhil situ. Di usia muda ia sudah menjadi konglomerat baru. Buah dari sebuah pengabdian yang penuh liku. Katanya ketika hidup liar dulu, trantib menjadi musuh nomor satu. Karena bisa saja menggusur lapaknya tanpa babibu. Kalau sudah begitu, ia lari dengan laju untuk menyelamatkan barang dagangannya satu per satu.

Tapi, katanya, meski ekonomi sudah sehat, hidup akan terasa kasat, kalau tidak ada teman curhat. Masalah sering datang tanpa sebab.  Walaupun pengalaman hidup sudah berkarat, menghadapi masalah pastilah ruwat. Saat itu Ia butuh seorang sahabat yang memberikan arahan untuk selamat.

Walaupun sahabat takan pernah mampu menyelesaikan, tapi terkadang mampu menginspirasikan. Sehingga akan tahu sebuah jalan. Canda sahabat juga dapat memberikan hiburan dari sebuah nostalgia yang menyenangkan. Mungkin dari sebuah kenangan yang tak terlupakan. Yang pasti sahabat tak akan pernah menyesatkan dan tak akan pernah membuatmu kesepian. Karena itu ia selalu mencoba menjaga persahabatan. Aku sangat terkesan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.