Oooi! Mr. Sixth Sense

Lampu merah menyala. Seorang pria berusia sekitar 50 an, beranjak dari tempat duduknya dan menawari kepada sopir dan penumpang mobil yang berhenti beberapa air mineral gelas yang ditentengnya pakai kantong kresek. Satu per satu kendaraan yang berhenti dihampirinya. Kalau lampu hijau menyala ia kembali ke pinggir dan duduk dengan sabar menunggu lampu merah menyala lagi.

Setiap kami pulang kerja, kami (saya, bos dan isterinya kami selalu pulang bareng) selalu melewati jalan itu. Tepatnya di depan RS Prapanca di mana pria itu mangkal, kami berusaha menjadi pelanggan tetapnya setiap kami berhenti terhalang lampu merah di situ, meskipun -terkadang- kami tidak kehausan dan masih mempunyai stock air minum yang kami bawa. Kami tidak tahu nama pria itu, tapi kami punya nama yang bagus buat Ia. Kami memanggilnya “Mr. Sixth Sense”.

Sekilas Ia memang layaknya manusia normal. Akan tetapi setelah berulang kali kami berdekatan dengannya, ternyata ia memang pria yang mempunyai kekurangan dalam penglihatan. Bukan pandangan kami sekilas saja, tapi juga menurut pengakuannya. Matanya memang tidak menutup, tapi ia tidak akan pernah tahu siapa yang lewat di depannya, kecuali ia kenali suaranya.

Ia mungkin mengenali mobil berhenti dan berjalan semuanya hanya dari bunyi mesin, klakson atau yang lainnya yang hanya dia yang tahu caranya. Ia mengenal mata uang hanya dengan meraba dan yang paling ia kenal hanya uang seribuan, itu pun masih dari rabaan. Kalau diterawang jelas tak mungkin karena matanya tidak berfungsi sebagaimana manusia normal.

Ia mengenal kami karena kami selalu bersorak “Oooi” memanggilnya agar ia mendekat, dan teriakan itu dirindukan oleh Mr. Sixth Sense setiap malam kami pulang kerja. Kalau kami libur satu hari saja, besoknya pasti ia bertanya, “kemaren nggak lewat sini, ya?”. Terkadang setiap hari Senin ia masih menanyakan hal yang sama. Ternyata Mr. Six Sence disamping tidak tahu rupa kami, Ia juga tidak tahu kalau hari kemarennya adalah hari Minggu atawa Sabtu, merupakan hari libur kerja.

Meski matanya tidak melihat dengan sempurna (wallahu’alam) menurut kami, Ia seorang manusia yang luar biasa dan penuh inspirasi. Betapa tidak, dengan kelemahannya itu ia tidak berpangku tangan. Ia memilih berjualan air mineral ketimbang mengemis seperti yang banyak dilakukan orang berkekurangan lainnya. Padahal kalau dilihat dari kekurangan yang dimilikinya ia pantas melakukannya. Bahkan Ia sendiri mengungkapkan selagi badannya masih bisa digerakkan ia akan tetap berusaha dan tidak akan mau meminta-minta. Dan ia sering mengajari kami tentang arti kesabaran dan ketabahan.

Terkadang kami pulang kerja itu masih menyisakan setumpuk persoalan yang mengganggu pikiran. Namun ketika kami ketemu Sixth Sence persoalan yang masih membendung itu jadi buyar dan hati kami menjadi lapang. Kesulitan, kerumitan, kesedihan yang kami rasakan serta-merta berkurang melihat ketabahan dan kesabaran Six Sence dalam mencari rezeki Allah SWT. Subhanallah.. Mr. Sixth Sense, Oiiii!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.