Insya Allah, Pasti !

Malam kemaren ketika aku dan sohibku pulang dari kantor. Seperti biasa, selama perjalanan, kami selalu memanfaatkan untuk saling berbagi cerita. Di saat ada yang lucu, kami tertawa, di saat ada yang menyedihkan kami pun tertunduk. Begitu juga ketika cerita itu penuh inspirasi, kami pun merenung. Di saat cerita masuk wilayah yang membuat kami harus menghitung diri atas kesalahan yang kami lakukan sebagai seorang manusia; baik kesalahan terhadap diri, kesalahan terhadap orang lain, keluarga maupun kesalahan kepada Allah SWT,  kami pun merenung dan beristighfar dalam hati.

Satu hal yang sering kami obrolkan hampir  di setiap awal perjalanan adalah mengulas cerita humor di TV. Sebut saja bagaimana tingkah polahnya Budi Anduk, Jeng Kellin, Abdel-Temon, Tukul dllnya, habis kami pentaskan selama perjalanan itu.Tadi malam, setelah kami menceritakan kenapa si Tukul menghilang dengan Empat Matanya, kami tersandung dengan cerita  polah laku rekan bisnis kami yang mana setiap ia berjanji dengan kami ia selalu mengatakan “Insya Allah, Pasti!”

Ini menjadi aneh, kenapa kebanyakan dari kita ketika berjanji mengatakan insya Allah, padahal di hati kita ada tanda yang kuat menyatakan bahwasanya kita tidak akan menepati janji itu. Berkemungkinan inilah yang menjadi alasan bagi rekan bisnis kami mengatakan “Insya Allah, Pasti ” ketika ia berjanji dengan kami atau dengan yang lainnya. Hal itu semata-mata ingin meyakinkan klien, saking susahnya meyakinkan sebuah janji, karena janji sering diingkari.

Jadi kata-kata insya Allah, sudah mengalami gradasi pengertian atau sudah bias dalam keyakinan kita. Aku pun merenung kenapa jadi begini? Padahal insya Allah SWT yang berarti kalau Allah menghendaki itu merupakan sebuah ucapan orang yang beriman kepada Allah SWT. Ketika ia mengucapkan insya Allah berarti sebuah petunjuk bawah ia benar-benar ingin menepati janji itu, namun sebagai seorang hamba yang mempunyai illah yaitunya Allah SWT ia tidak berani mendahului takdirnya Allah yang Maha Mengatur dan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kalau dilihat dari sejarah dipergunakan kata insya Allah SWT, merupakan sebuah kisah teguran yang sangat mulia dari Allah SWT terhadap Muhammad, Rasulullah SAW. Menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan. Dan beliau tidak mengucapkan Insya Allah (artinya jika Allah menghendaki).

Tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah Al Quran Surah Al Kahfi, Ayat 23-24, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut Insya Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.

Cerita ini menjelaskan bahwa Muhammad SAW yakin –benar-benar yakin- akan menepati janjinya besok untuk menjawab pertanyaan orang yang bertanya. Lalu dia mengatakan Pasti. Dan Allah SWT menegurnya mengatakan pasti tanpa mengucapkan Insya Allah adalah sebuah pengingkaran terhadap keberadaan Allah SWT. Jadi memang aneh ketika sesorang berjanji, bahwa sebenarnya ia yakin tidak akan menepati janjinya,  namun ia bersandar kepada Allah SWT.

Sebuah kalimat halus sebagai pelarian yang mengorbankan keberadaan Allah SWT dalam keyakinannya. Kenapa harus takut mengecewakan apabila memang kita tak akan menepati sebuah janji, kalau tidak dapat menepatinya katakan saja tidak bisa, ada jadwal lain atau sesuai dengan konteks janji itu. Kalau ingin lebih halus lagi katakan dengan maaf.

Jika saja semua muslim mengungkapkan janjinya yang benar-benar ingin ditepatinya dengan mengatakan insya Allah –namun karena Allah SWT yang tahu tentang hari esok dia bertawakal kepada Allah SWT dengan janjinya itu, mudah-mudahan Allah SWT menghendaki–, bukan sebaliknya ia berjanji dimulutnya mengatakan insya Allah –jika Allah SWT menghendaki– tapi dihatinya mengatakan tidak (lain di mulut lain di hati) tentulah rekan bisnisku tidak akan susah lagi meyakinkan janjinya kepada orang lain dengan mengatakan “insya Allah, Pasti!”.

Renungan :

Bukankah orang yang tidak sesuai perkataan dengan apa yang dia perbuat salah satu sifat orang munafik. Allah mengatakan orang seperti itu bukan teman tapi adalah musuh ( baca : QS. 63:1-4). Wallahu’alambisawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.