Cerita dari Jalanan

trantibJalanan di nusantara mulai panas. Para preman, wts, gelandangan di berbagai daerah ditangkapi, tempat yang diduga menjadi tempat mesum ‘digaruk’ polisi. Alhasil tidak sedikit yang terjaring. Berbekal untuk menciptakan kestabilan keamanan, ketertiban umum, dan ketenangan masyarakat memperkuat motivasi polisi melancarkan razia. Meskipun ada suara dari sudut lain yang meragukan cara polisi itu.

Seperti yang dikatakan Edi Saidi kepada Kompas.com, Selasa (11/11). Menurutnya, operasi pemberantasan preman serentak di beberapa daerah di Indonesia, termasuk di DKI Jakarta, dituding hanya menyudutkan masyarakat miskin. Edi Saidi dari Urban Poor Consortium (UPC) mengatakan, polisi masih melihat kemiskinan adalah sumber kejahatan, untuk itu bisa seenaknya ditangkap.

“Operasi pemberantasan preman ini adalah gebrakan yang salah kaprah. Polisi masih melihat semua orang yang hidup di jalanan adalah penjahat. Padahal, koruptor yang menjadi penyakit kronis negara ini dan pemicu tingginya kemiskinan tidak tersentuh hukum,” kata Edi Saidi.

Dari pantauan UPC), dalam pemberantasan preman, polisi hanya asal sapu bersih. Bahkan, sopir yang sedang menunggu giliran membawa angkutan umum di terminal pun ditangkap.

Terlepas dari kritikan Edi Saidi ini, aksi polisi ini merupakan suatu langkah positif. Selama ini diakui atau tidak, masyarakat memang berada di bawah tekanan ketakutan, karena tingginya angka kriminalitas di seluruh daerah di Indonesia. Apalagi kalau berurusan dengan yang namanya preman, masyarakat semakin ciut, karena tidak mau terlibat masalah, karena masih banyak masalah lain yang mengelilingi perjalanan hidupnya.

Jika langkah yang dilakukan Polisi saat ini, sudah dilakukan sejak dulu-duu (baca :kepemimpinan Kapolri sebelumnya), tentu memungkinkan tidak tumbuhnya berbagai organisasi sipil yang dituduhkan radikal, meski ia berupaya menegakkan kebenaran yang seharusnya ditegakkan oleh aparat hukum yang dilandasi undang-undang.

Dari langkah-langkah ini kita melihat, ternyata Polisi bisa melakukan upaya yang persesuasif dan bahkan represif dalam mengatasi penyakit masyarakat (pekat) di negara ini. Hendaknya langkah memberantas Pekat ini benar-benar tidak salah kaprah seperti yang dituduhkan Edi Suadi dan juga tidak berlangsung hanya dalam hitungan bulan saja atau mumpung kursi Kapolrinya masih hangat. Hendaknya langkah pemberantasan penyakit masyarakat ini dikelola dengan baik (jangan asal sapu bersih) dan dilaksanakan secara berterusan, sesuai dengan semboyan polisi ; mengayomi masyarakat. Ya kalau begitu : selamat datang kedamaian..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.