Sebuah Kisah dari Lembah Nirbaya

INDONESIA-ATTACKS-BALI-EXECUTION-COMBO-FILESKali ini suara bergema dari lembah Nirbaya, Nusakambangan, Jawa Tengah. Amrozi, Imam Samudra, Ali Gufron akhirnya menghadap sang khalik dengan peluru yang dimuntahkan dari 3 regu tembak Brimob, Polda Jawa Tengah. Pukul 00.15 WIB, 9 November 2008 kesunyian Lembah Nirbaya menjadi buyar karena letusan senapan laras panjang yang memuntahkan peluru, seiring dengan ‘pelukan’ malaikat maut yang memboyong tiga nyawa dalam tempo beberapa saat saja.

Suatu hal yang menarik, ketiga pidana mati itu ditembakdengan mata yang tidak tertutup, mereka meminta demikian. Pastilah sinar mata mereka yang menghadap kematian itu melesat tajam, cepat dan dalam ke dalam hati sanubari sang penembak bersamaan dengan melesatnya peluru senjata yang dipantik para eksekutor. Sinar itu akan mengendap dan akan bermain melingkari hati sipenembak seumur hidupnya. Efek psikologis yang mungkin akan mempengaruhi hidup seorang manusia yang punya rasa hingga akhir hayatnya, meski ia sudah dilatih untuk ‘membunuh’ demi negara.

Namun demikian, dari kejadian ini banyak hikmah yang mungkin dapat ditarik. Munculnya teroris, sikap ketidakpuasan, sikap radikalisme yang selama ini akrab kita dengar, tidak saja dari negara kita tapi juga di negara lain seluruh dunia. Hal ini menurut para pakar adalah sebagai efek dari ketidak-seimbangan. Dalam arti, seseorang akan melakukan perlawanan ketika ia merasa tertekan, disudutkan atau diberlakukan secara tidak adil. Bisa juga dikarenakan aspiratif yang tersumbat.

Sungguh, di negara kita yang heterogen ini, sebenarnya kita lebih berbudaya, bermoral dan manusiawi ketika aspirasi semua diakomidir dan diberlakukan secara fair serta bijaksana. Bangsa kita ternyata bangsa yang pemaaf dan suka damai. Sebagai bangsa timur kita terkenal ramah di negara-negara lain. Kita selalu terbuka dan dapat menerima siapapun meski ada kesahalahan masalalu. Banyak kasus pejabat, golongan atau pengusaha yang secara terbuka dinilai rakyat melukai hatinya dan merampas haknya, tapi toh pada akhirnya rakyat memaafkan juga dan malah tetap menerimanya. Masa lalu diartikan sebagai sejarah saja, yaa sudah biarkan. Rakyat lebih memilih ke depannya.

Ke depan, mungkin itu sebuah kata kunci. Apakah rakyat akan terus dijadikan korban, akibat dari ketidakjelian memahami keadilan dan kebijaksanaan. Mungkin bangsa Indonesia –baca rakyat– sebagai bangsa yang pemaaf, tapi bukan berarti ia harus diberlakukan seenaknya.  

Dari segi ekonomi, negara kita dinilai kaya, tapi kenapa kehidupan rakyat justru berada dalam kemelaratan. Kesejahteraan hanya menjadi milik segelintir orang di negeri ini.  Pejuang-pejuang yang masih hidup yang dulunya mempertaruhkan nyawanya untuk bela negara, dari berbagai kisah yang disiarkan televisi, dimasa tuanya justru jadi pengemis, sol sepatu, pedagang asongan, lantaran ketidakberdayaan secara ekonomi. Begitu juga nasib pahlawan yang mengharumkan nama bangsa di bidang olahraga di masa lalu, lihatlah kini siapa yang peduli. Belum lagi kita lihat nasib pahlawan tanpa jasa, guru yang mencerdaskan kehidupan  bangsa ini, di masa tuanya  siapa pula  yang mengingat jasanya.

Negeri kita memang aneh, di luar negeri  budaya timur dinilai ramah. Tapi bisa saja diantara kita terjadi ketidakramahan, ketidakpedulian, ketidakbijaksanaan dan ketidakadilan. Kita lebih bangga dan melihatkan kedunia internasional apa yang mereka mau. Kita ditekan dan kita mengalah.

Malaysia memberlakukan  tenaga kerja yang mereka sebut Indon seenaknya. Setelah tenaga mereka dikuras untuk membangun Malaysia itu, mereka dicampakan dipulangkan dengan alasan mereka pendatangharam. Tapi sebelumnya ketika tenaga mereka sedang dibutuhkan Malaysia tutup mata. Anehnya, pemerintah kita mungkin tidak menutup mata tapi hanya memandang dengan mata sebelah. Padahal mereka berani bertarung ke negeri jiran itu karena di sini di tanah airnya mereka tidak mendapat kesempatan sama sekali. Belum lagi  sederetan kisah dari pahlawan devisa dari Singapura, Arab Saudi yang mencatatkan kisah yang memilukan. Bukan dolar, dirham yang mereka bawa pulang, tapi harapan hidup yang sirna. 

Kembali ke masa depan, tahun 2009 kita akan memilih perwakilan kita dan pemimpin kita untuk mengelola negara ini. Mungkinkah kita memilih orang yang benar-benar berpihak pada rakyat, atau mereka hanya wakil kita yang sekaligus mewakili kesejahteraan kita. Rakyat tetap melarat karena kesejahteraan sudah diwakilkan ke wakil yang dia pilih.

Mungkin  perlu energi besar untuk memperbaiki bangsa kita ini, tapi memang diperlukan kesadaran, keikhlasan, ketulusan untuk mengurusnya. Jangan ada lagi yang merasa tertekan dan diberlakukan tidak adil. Akomodasilah dengan damai dan bijaksana aspirasi keberbedaan di negeri ini. Hingga tidak ada lagi suara bergema yang akan memecahkan kesunyian seperti di lembah Nirbaya.

Ingat! Ali Gufron, Imam Samudra dan Amrozi sebelum kematian, mereka sudah tahu kapan ajalnya datang. Begitu juga mereka tahu  dosa dan pahala apa yang akan dia bawa kehadapan Allah SWT. Selama 5 tahun dia di Penjara menunggu ajal, banyak hal yang dapat mereka mohonkan kepada Yang Maha Kuasa.  Tapi bagaimana dengan kita? Ajal kita masih ghoib, kita tidak tahu kapan datangnya. Siapkah kita seperti mereka yang bersahaja menghadap Sang Khalik?. Tak ada sebiji zarah pun kebaikan atau keburukan yang kita perbuat tanpa pertanggungjawaban di depanNya.  Selamat Hari Pahlawan!

One thought on “Sebuah Kisah dari Lembah Nirbaya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.