Sebab –sebab Manusia Kemasukan Jin

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam buku Risalatul Jinni, hal 27, menjelaskan sebab-sebab masuknya jin ke dalam tubuh manusia:

Pertama, karena syahwat, hawa nafsu dan mabuk cinta, baik jin maupun manusia.

Kedua, jin itu ingin menguasai manusia dengan menikahinya. Dan banyak juga manusia yang terjebak mau melakukan pernikahan dengan jin dan punya anak. Hal ini banyak terjadi, disebutkan dan dibicarakan para ulama. Mayoritas para ulama membenci pernikahan jin dan manusia ini. Karena pernikahan itu sebenarnya dilakukan karena kebencian jin itu kepada manusia. Continue reading “Sebab –sebab Manusia Kemasukan Jin”

Sebab –sebab Manusia Kemasukan Jin

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam buku Risalatul Jinni, hal 27, menjelaskan sebab-sebab masuknya jin ke dalam tubuh manusia:

Pertama, karena syahwat, hawa nafsu dan mabuk cinta, baik jin maupun manusia.

Kedua, jin itu ingin menguasai manusia dengan menikahinya. Dan banyak juga manusia yang terjebak mau melakukan pernikahan dengan jin dan punya anak. Hal ini banyak terjadi, disebutkan dan dibicarakan para ulama. Mayoritas para ulama membenci pernikahan jin dan manusia ini. Karena pernikahan itu sebenarnya dilakukan karena kebencian jin itu kepada manusia. Continue reading “Sebab –sebab Manusia Kemasukan Jin”

Banyak Muslim Tinggal di Kuburan

Mungkin tidak ada yang lupa, beberapa waktu lalu televisi nasional doyan menayangkan pencarian ke alam ‘ghoib’. Sebut saja realtyshow ‘uka-uka’, ‘uji nyali’, ‘pemburu hantu’, ‘percaya nggak percaya’ dan berbagai bentuk siaran lainnya yang menceritakan berbagai usilnya manusia sampe-sampe urusan ghoib diurusi. Padahal persoalan yang nyata saja banyak yang tidak terselesaikan. Continue reading “Banyak Muslim Tinggal di Kuburan”

HADITS KELIMA : AMAL IBADAH YANG TERTOLAK

Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah SAW  bersabda : Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya(*), maka dia tertolak.

(Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak). Continue reading “HADITS KELIMA : AMAL IBADAH YANG TERTOLAK”

Tangkai Sapu Patah di Kaki

Nggak pernah terbayang sebelumnya. Ketika aku libur sekolah, aku mengunjungi orang tuaku yang mengajar di kawasan yang jauh dari kota. Maklum daerah terisolir (waktu itu). Alam tempat bapakku mengajar sangatlah indah. Di kawasan pertanian, dikelilingi bukit dan sawah-sawah luas membentang.


Orangtuaku tinggal di sebuah komplek rumah guru. Tidak berjarak dengan sekolah di mana bapakku mengajar. Di sekitar itu, merupakan kawasan yang banyak dihuni orang-orang Jawa, bukan transmigrasi. Akan tetapi orang Jawa yang sejak zaman penjajahan Belanda yang berkerja sebagai rodi. Mereka hidup turun-temurun di sana. Bahkan banyak keturunannya yang sudah tidak tahu dari Jawa mana mereka berasal. Bahasa sehari-hari ya bahasa Jawa ngoko.

Tepatnya kawasan itu tidak jauh dari perbatasan antara Propinsi Sumatera Barat dan Jambi. rumah-rumah di sana sangat berjarak. Antara rumah ke rumah terkadang jaraknya sejauh mata memandang. Meski berjauhan, penduduknya tetap kompak. Anak-anak SD (terutama laki-laki), sering menginap di tempat orang tuaku tinggal. Mereka mengaji dan belajar di sana. Maklum kalau di rumah pasti lebih banyak tidur dari pada belajar. Karena listrik belum ada di sana ketika itu.

Masa libur itu anak-anak sekolah di sana seizin orangtuanya masih betah menginap di rumah orang tuaku. Mereka juga membantu Bapak untuk bersawah dan berladang. Maklum, karena tinggal di kawasan pertanian Bapakku pun ikut bertani sepulang mengajar di sekolah.

Yang paling asyik dari mereka adalah mengajariku memancing belut di sawah. Di sana aku pertama kali kenal dengan belut sawah, karena dikampungku yang berhawa dingin di Gunung Talang tidak ada belut. Daging belut terasa gurih dan enak setelah di goreng atau dipepes. Jadilah ia makanan kesukaanku. Kata Bapak belut pun kaya protein.

Karena ketagihan, suatu kali aku benar-benar asyik dengan teman-teman memancing belut. Tidak saja di sawah yang di garap Bapakku, akan tetapi juga ke sawah-sawah petani lain. Tidak disangka aku sudah berjalan terlalu jauh dan lupa segalanya. Aku lupa makan siang dan lebih parah Shalat Zuhur dan Ashar juga ikut-ikut terlewat.

Sepulangnya aku bersama kawan-kawanku memancing belut, yang sampai di rumah sebelum magrib. Bapakku turun dari rumah sambil memegang sapu. Beliau menyongsongku, aku tak menyangka sedikit pun, tiba-tiba tangkai sapu yang terbuat dari rotan itu melayang ke kakiku tanpa didahului satu patah katapun.

“Praaak”, tangkai sapu itu hinggap di kakiku.

Patah! Bukan kakiku, tapi tangkai sapu itu. Aku malu sama teman-teman. Aku sedih dan tidak tahulah perasaanku waktu itu. Aku pikir Bapak akan senang dengan banyak membawa tangkapan belut pulang. Tapi malah sebaliknya.

Aku dan teman-teman di suruh mandi dan kami bersiap shalat magrib. Dari mandi sampai Shalat Magrib aku tak berkata sepatah katapun. Aku masih sedih dan tidak tahu salahku. Aku hanya menduga-duga dalam hati.

Setelah shalat magrib berjamaah, Bapakku baru menasehati kami dengan lemah lembut.
“Tahukah kalian, kenapa Bapk murka?” Kata Bapak memulai nasehatnya.

Kami menggeleng, karena kami tidak mengerti.

“Kalian sudah berani kepada Allah SWT. Pasti karena bermain kalian lupa shalat, iya khan?”

Kami juga menjawab,” iya.”

“Itu saja,” kata Bapak.

” Kalau soal kalian makan atau tidak, itu soal kalian yang akan merasakan kelaparan. Tapi soal tidak sholat itu ibadah kepada Allah SWT. Jangan main-main. Nanti kebiasaan, hingga dewasa atau tua kalian akan bersikap seperti itu.,” lanjut Beliau.

Itulah Bapakku, keras dan tegas mendidik anak agar tidak bermain-main dengan Allah SWT. Tapi soal keduniaan diserahkan kepada masing-masing. Toh lambat laun akan mengerti. Kisah itu selalu bermain di benakku sampai sekarang. Sehingga aku takut kalau-kalau aku melanggar perintah Allah SWT.

Kini, bukan karena takut pukulan rotan Bapak. Tapi takut kalau Allah SWT yang murka. Apa jadinya diriku kalau Allah SWT yang murka. Bisa-bisa garda malaikat menghajarku di akhirat nanti. Nauzubillah.

Menghidupkan Surau yang Mati

Pertengahan tahun 2005, langit mendung di Tanah Abang. Wajah pedagang kelihatan murung. Pasar Blok C s.d E di Tanah Abang akan dibongkar dan pihak pengelola akan membangun pertokoan yang modern menyusul Blok A yang  telah sukses mengubah pertokoan tradisional menjadi maju. Dampak yang paling terasa dengan modernisasi pasar itu adalah tersingkirnya para pedagang tradisional. Pembaruan Pasar Tanah Abang terasa penuh intrik politis dan seakan dipaksakan, karena sejalan dengan berakhirnya masa jabatan seorang gubenur. Continue reading “Menghidupkan Surau yang Mati”

Ketika Kuda tak Sanggup Menanggung Beban

Teman saya yang seharian bersama, hari ini bercerita tentang Monyet bukan Anjing, Kerbau bukan Kuda di blognya http://yogasdesign.wordpress.com. Saya sangat tersentuh!

Memang terkadang kita salah mengerti tentang kebaikan seseorang teman. Meski teman kita adalah seorang yang luwes, baik hati, pemurah dan nggak neko-neko, bukan berarti ia lantas kita perlakukan sebagai tempat d imana  kita melimpahkan seluruh beban yang kita tanggung. Sering kita lupa satu hal; teman tidak selalu mampu memberikan apa yang kita minta karena keterbatasannya. Kita punya masalah, teman kita juga punya masalah yang melingkupi kehidupannya. Continue reading “Ketika Kuda tak Sanggup Menanggung Beban”

Belajar Mengaji di Surau

Bagi kami anak laki-laki Minang, kalau sudah baligh selalu disarankan untuk tidak tidur di rumah. Kami diajarkan untuk belajar mengaji di surau atau langgar dan sekaligus tidur di sana. Surau adalah rumah kedua setelah rumah kami.

Di surau selain belajar mengaji, malamnya sebelum tidur kami juga diperkaya dengan wawasan cara bersosialisasi dengan teman sebaya. Bahkan diisi dengan cerita yang penuh makna. Setelah shubuh kami diajarkan olah raga silat, untuk kesehatan tubuh dan jiwa. Serta memproteksi diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Baik sifatnya fisik maupun bathin.

Semuanya itu adalah bekal. Baik untuk mengarungi kehidupan, kemandirian, kematangan jiwa dan juga akhirat. Aku sangat bersyukur dengan pengalaman ini, di mana hal ini mungkin sudah jarang dan tidak didapati lagi oleh generasi setelah aku.

Pengalaman hidup semasa remaja itu, sangat berkesan dan aku menganggap hal itu sebuah tahapan sejarah dalam hidupku yang membentuk diriku sampai saat ini. Jiwa kemandirian, perkawanan dan berstrategi merupakan modal hidup yang tidak bisa dianggap enteng. Merupakan modal yang sangat berarti untuk bisa menjadi bagian masyarakat di mana saja berada.