Tak Ada Pesta untuk Kematian Nenek

Suatu hal yang aneh menurut orang kampungku ketika nenekku berpulang kepangkuan Ilahi, tak adapun suatu pergerakan seperti mengundang orang mengaji atau peringatan berbilang hari 3 hari, 7 hari, 14 hari, 100 hari dst. Untuk hal ini, Rumah duka ‘tertutup’ untuk umum.Bukan berarti tidak mau menererima atensi dan ucapan belasung kawa dari saudara muslim yang lain. Kami keluarga lebih berkonsentrasi untuk merenung, berdoa dan beribadah kepada Yang Kuasa agar nenek diterima di sisiNya dan diberikan ketenangan dan kebahagian di rumah barunya.

Kami berprinsip ketika anak adam meninggal, terputus amalannya kecuali 3 perkara: doa anak yang shaleh, amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat. Dua hal;  amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat sudah dilakukan nenek semasa ia hidup. Nah yang ketiga doa anak yang soleh yang menjadi tanggung jawab kami sebegai keturunan beliau. Bukan kewajiban orang kampung.

Mohon maaf, agak kurang yakin kami dengan doa-doa yang dilantunkan oleh orang-orang yang datang ke rumah orang kematian yang terkadang hanya mengejar besek dan naifnya berdoa, berzikir tanpa wudu’ terlebih dahulu — mana mungkin dari jasad yang kotor doa akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Suci–.  Dan memang tidak ada sunahnya dari Rasulullah SAW untuk melakukan pesta sesudah kematian. Karena orang mati terkadang meninggalkan berbagai warisan hutang dan tanggungjawab yang belum terselesaikan yang dibebankan kepada orang hidup atau ahli warisnya.

Makanya sangat tidak masuk akal, tradisi ‘pesta’ makan-makan setelah kematian seseorang hamba. Terkadang seperti dikampungku, untuk menjalankan pesta setelah kematian itu alhi waris sampai menjual tanah, menggadai, menghutang agar bisa melaksanakan tradisi itu. Padahal terkadang yang mati meninggalkan anak-anaknya yang masih butuh biaya sekolah, butuh kehidupan yang layak dan hutang yang menumpuk. Tapi melaksanakan pesta itu seakan dipaksakan agar tidak dibilang oleh orang kampung “mati anjing” saja. Lalu bagi kami sekeluarga, tidak ada pesta untuk kematian nenek. Biar orang bilang nenek kami ‘mati anjing’ asal kami tidak bermaksiat kepada Allah SWT dan Rasulnya Muhammad SAW. wallahu’alam bi shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.