Selamat Jalan Nenekku

Nenek, habis magrib di Jakarta. Hati gundah tak terkira. Sekonyong bumi terasa gempa, ketika menerima telepon dari adinda, mengkhabarkan kau telah tiada.

Nenek, padahal kita habis merayakan kemerdekaan. Kau pergi menyusul kakek yang juga veteran dan tiada di tahun 80-an. Sungguh perayaan kemerdekaan kali ini jadi kesedihan, karena engkau tak sempat berpamitan. Engkau menghadap kehadirat Tuhan, sebelum datangnya Ramadhan 2008.

Nenek, ku ingat masa kecilku. Ketika ibu dan bapak menjadi guru, di suatu kawasan baru. Aku tinggal bersamamu padahal baru dua bulan umurku. Untuk menghentikan tangisku kau menetekan aku ke susu bekas ibuku. Sungguh besar jasamu dan sampai kini aku belum berbakti kepadamu.

Nenek, semoga Allah menyayangi, sebagaimana kau menyayangiku dari aku bayi. Tak ada yang bisa kulakukan kini hanya doa terhadap Ilahi. Supaya kau tak merasa sunyi menghadapi kehidupan yang abadi.

Selamat jalan nenek!

One thought on “Selamat Jalan Nenekku”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.