Merdeka Sejenak

Pacu Karung. Foto: Rafi TanjungSuatu kebahagiaan di negeri tercinta ini di saat-saat memperingati hari kemerdekaan. Anak-anak di RT tempat tinggalku sejak pagi sudah bersiap-siap untuk berkumpul di lapangan. Ibu-ibu juga sibuk mempersiapkan anak-anak mereka. Sedangkan Bapak-bapak harus mengalah sedikit, sarapan pagi ini agak terlambat, karena ibu lagi sibuk untuk ngurusin anak-anak yang akan ikut merayakan kemerdekaan.

Bagi anak-anak, ikut merayakan kemerdekaan mendapatkan kesan tersendiri. Mereka dapat bersenang-senang dengan lomba makan kerupuk, pacu sendok, pacu karung dan panjat pinang. Begitu juga orang tua mereka, merayakan kemerdekaan pun dapat memerdekan diri sejenak dari kondisi ekonomi yang melanda negeri ini. Melihat anak-anak tertawa riang adalah kebahagiaan.

Meski, kadang-kadang, ketika melihat anak-anak pacu karung yang teringat bagi orang tua mereka, karung beras di rumah sedang kosong untuk menghidupi anak yang masuk ke dalam karung itu. Ketika melihat anak-anak makan kerupuk yang terlintas di benaknya; tidak mungkin anak-anak ini hanya diempani dengan kerupuk karena kemampuan beli beras berkurang. Ketika melihat anak-anak ikut pacu sendok, ia juga teringat apa yang akan disendokan kepada anak-anak ini sehari-hari.Tapi riangnya tawa anak-anak membuat para orang tua menepis masalah-masalah itu semua.

Mungkinkah dengan 63 tahun merdeka ini, para orang tua hanya mampu memerdekakan pemikiran mereka sejenak saja? Besok hari ketika perayaan usai, mereka kembali dengan beban hidup yang mereka hadapi. Beban biaya sekolah anak-anak, transportasi, keperluan sandang, pangan, rumah, peluang kerja dan kesehatan.

Seperti mereka yang tinggal di RT tempat tinggalku. Berbagai profesi digeluti warga di sana. Ada yang pegawai negeri, ada pemulung, ada pengamen, ada karyawan swasta dan banyak diantaranya para remaja yang menganggur. Dari segi tingkat kemampuan ekonomi, jelas perbandingan mereka yang berkemampuan dengan yang tidak mampu besar sekali ketimpangannya. Portret kondisi warga di RT tempat tinggalku tentu tidak jauh dari warga Indonesia secara keseluruhan.

Tentu kita tidak berharap hasil dari kemerdekaan yang ke-63 tahun ini tidak hanya memerdekakan diri kita sejenak. Namun yang dibutuhkan adalah memerdekakan sesungguhnya dalam waktu yang lama. Sudah cukup lama rakyat Indonesia menderita karena salah menyikapi kemerdekaan, yang akhirnya kemerdekaan hanya dimiliki oleh segelintir orang saja.

Kemerdekaan yang dinikmati segelintir orang itu diperparah lagi dengan tindakan mereka menjajah yang mayoritas belum merdeka itu. Ini terlihat dengan tingginya tingkat korupsi di Indonesia yang menjadi juara di dunia. Nilai yang dikorupsi cukup signifikan. Lihat saja data korupsi seperti yang pernah dilansir di :

http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/10/25/nrs,20041025-04,id.html

Ini data tahun 2004. Bagaimana 2008? lebih banyak lagi pastinya. Ini terlihat dengan kasak-kusuk KPK akhir-akhir ini. Meski belum semua yang diungkap, ‘penjajahan’ oleh oknum pejabat pemerintah korup yang sebagian dari mereka dipilih oleh rakyat dan semuanya hidup dari pajak rakyat.

Jadi, sudahlah!

Kita tidak harus merdeka sejenak saja, tapi untuk selamanya. Amin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.